
"Rubby kenapa menangis?" Mama Dewi terlihat khawatir, ia menarik Rubby ke dalam pelukannya.
"Rubby tidak ingin bertemu dengannya." Lirih Rubby dengan suara bergetar.
"Dew, sepertinya Rubby tidak ingin bertemu dulu dengan Arya." Ucap Bunda Maya setengah berbisik. Mama Dewi menatapnya penuh tanya. Bunda Maya dan Intan hanya menggeleng bersamaan sebagai jawaban.
_
_
_
Arya termenung di dalam mobilnya, setelah penolakan Rubby tadi ia memutuskan untuk pergi dari sana. Sebaiknya dia tidak menemui istrinya dulu, walaupun dirinya begitu merindukan Rubby.
"Aku memang jahat, aku suami yang jahat." Gumamnya. Arya memejamkan matanya. Melihat Rubby menangis seperti tadi, hatinya ikut merasa sakit.
"Bodoh, kau Arya!" Makinya sambil membentur-benturkan dahinya pada stir mobil. Menyesali apa yang terjadi pada Rubby nyatanya adalah berasal dari kesalahan dirinya sendiri. Seandainya waktu itu ia langsung memutuskan hubungannya dengan Mega saat di Paris, mengatakan yang sejujurnya pada Bara kalau Rubby adalah istrinya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Ya, ini memang salahnya.
Arya menyandarkan punggungnya di kursi mobil, matanya terlihat memerah dengan air mata yang perlahan mengalir di wajahnya. Dadanya terasa sesak. Mungkin setelah ini Rubby akan membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi.
_
_
_
Keesokan harinya.
Mama Dewi membuang nafas berat melihat tingkah putra sulungnya. Saat Rubby belum sadar, Arya begitu sedih. Dan sekarang setelah Rubby sadar, putranya malah semakin sedih.
"Arya! Arya!" Panggil Mama Dewi setengah berteriak karena putra itu hanya melamun saja sambil mengaduk-aduk sarapan di piringnya.
"Ada apa, Ma?" Tanyanya yang baru tersadar.
"Sarapannya dimakan, Mama sudah capek-capek membuatnya. Jangan di aduk-aduk saja, nanti mubazir." Kata Mama Dewi.
"Arya tidak selera, Ma." Jawab Arya pelan, wajahnya sendu.
"Arya, Mama tahu fikiranmu sedang kacau memikirkan istrimu. Tapi kau harus tetap makan. Selama Rubby di rumah sakit, kau tidak makan dengan benar, tidak cukup tidur. Nanti kalau kau sakit, siapa yang akan mencari nafkah untuk istrimu?" Ujar Mama Dewi.
Kemarin Bunda Maya sudah menceritakan tentang Rubby yang tidak mau bertemu dengan Arya, bahkan Rubby sampai menangis histeris. Mama Dewi merasa kasihan pada Arya, tapi ia juga tak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Sementara jika bertemu dengan keluarga yang lainnya, sikap Rubby baik-baik saja. Kemarin malam saat Andika datang mengunjunginya, Rubby pun terlihat biasa saja dan berbincang singkat dengan Andika.
"Iya, Ma." Seperti biasa, jika mamanya sudah ceramah Arya hanya pasrah dan menurut saja. Dengan malas ia menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Biaya rumah sakit itu mahal, Arya. Kalau kau ikut sakit, mau bayar pakai apa tagihannya nanti." Tambah Mama Dewi.
"Uhuk! Uhuk!" Nasi goreng yang baru melewati kerongkongan Arya seakan tersangkut. Dengan cepat ia meneguk isi gelas yang berada di sampingnya.
"Mama!" Arya menggeram, mamanya lebih memikirkan biaya rumah sakit ternyata.
"Kenapa? Mama benar kan?" Mama Dewi memasang tampang polosnya.
"Mama ini... Apa tidak bisa mengerti perasaanku?" Arya mengerutu, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memijat keningnya.
"Mama kan cuma bercanda, biar kau tidak terus-terusan murung begitu." Sahut Mama Dewi.
"Oh ya, apa sudah ada kabar dari polisi tentang Bara?" Lanjutnya.
"Belum, Ma. Polisi masih mencarinya." Jawab Arya sambil membuang nafas ke udara.
"Sudahlah, Ma. Arya berangkat dulu." Pria itu menyeka mulutnya dengan tisu dan bangun dari duduknya.
"Tapi sarapanmu belum habis Arya."
"Assalamuala'ikum." Arya mengecup punggung tangan mamanya dan berlalu dari meja makan. Mama Dewi kembali menghela nafas berat.
"Waalaikumsalam. Kasihan anakku..."
_
_
_
Dengan perlahan Arya membuka pintu ruangan Rubby. Dilihatnya Rubby yang sedang tertidur seorang diri. Sebelum berangkat ke coffe shopnya, Arya memutuskan untuk menemui istrinya dulu di rumah sakit. Bagaimana reaksi Rubby, itu urusan belakangan. Yang penting dirinya bisa melihat Rubby.
Arya duduk di samping istrinya. Memandangnya dengan tatapan penuh rindu. Jemarinya menyentuh wajah Rubby dengan sentuhan seringan bulu. Luka dan memar di wajah Rubby sudah nampak memudar.
"Maaf..." Lirih Arya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Perasaan bersalah terus saja menghantui dirinya.
Perlahan kelopak mata Rubby terbuka, mungkin karena merasakan sentuhan di wajahnya. Dilihatnya seseorang yang duduk di sampingnya dengan menutup setengah wajahnya dengan telapak tangan. Rubby memperjelas pengelihatannya. Ternyata itu Arya yang tengah menghapus air matanya.
__ADS_1
"Mas Firaz...? Mas Firaz menangis? Tidak, Mas. Jangan menangisiku. Aku tak layak untuk Mas tangisi..." Lirih Rubby dalam hati.
Gadis itu langsung bangun dan duduk di tengah ranjang.
"Rubby, kau sudah bangun?" Arya terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba terduduk. Pandangan keduanya bertemu.
"Mau apa Mas ke sini?" Tanya Rubby terdengar begitu dingin, sorot matanya pun langsung berubah.
"Rubby, aku..."
"Bukankah sudah ku katakan padamu kemarin, kalau aku tidak ingin bertemu denganmu?" Rubby lebih dulu menyela.
"Rubby, aku hanya ingin melihat keadaanmu." Jawab Arya sendu.
"Sejak kapan Mas peduli padaku?" Rubby masih memasang wajah dinginnya.
"Jangan berkata seperti itu, Rubby. Aku tahu aku salah..." Tangan Arya terangkat hendak menyentuh istrinya. Namun Rubby langsung menepisnya.
"Mas jahat! Mas tidak pernah peduli padaku. Bahkan saat ada orang yang menyakitiku, Mas datang begitu terlambat." Seru Rubby dengan suara bergetar.
"Iya, aku salah. Semua adalah salahku. Aku minta maaf. Lakukan apapun untuk menghukumku, Rubby..." Lirih Arya, menatap Rubby dengan sorot mata penuh penyesalan. Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tak ingin menangis di hadapan Arya.
"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu." Jawab Rubby tanpa memandang ke arah suaminya. Arya tersenyum getir sambil menahan air matanya agar tak mengalir kembali.
"Rubby..."
"Ku bilang pergi dari sini!" Pekik Rubby, tatapannya menajam. Arya mengangguk pelan, dan beranjak dari duduknya.
"Baiklah kalau itu mau mu. Aku pergi, assaalamuala'ikum." Ucapnya dengan suara tercekat. Arya menatap sejenak pada Rubby sebelum akhirnya pergi dari sana.
"Waalaikumsalam..." Jawab Rubby saat Arya sudah menghilang di balik pintu. Gadis itu langsung menutup wajahnya, dan mulai menangis sesegukan.
"Maafkan aku, Mas Firaz. Maafkan aku... Aku terpaksa melakukan ini... Aku sudah kotor, aku tidak bisa menjaga kehormatanku sebagai istrimu. Sudah ada pria lain yang melihatku tanpa hijabku, bahkan dia menyentuhku... Aku kotor, aku tak layak untukmu..." Lirih Rubby dalam hati.
_
_
_
Dengan gontai Arya melangkah melewati koridor rumah sakit yang nampak ramai dengan orang-orang berlalu lalang.
__ADS_1
"Mas jahat! Mas tidak pernah peduli padaku. Bahkan saat ada orang yang menyakitiku, Mas datang begitu terlambat." Ucapan Rubby terngiang-ngiang di telinganya.
"Semua yang Rubby katakan benar, aku tidak pernah peduli padanya."