
"Kau sengaja?" Arya balik bertanya, menatap tajam pada istrinya. Bukannya takut, Rubby malah semakin menjadi.
"Kalau iya, memang kenapa?" Tanya Rubby menantang dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya.
Kalau sudah seperti ini, Arya mana mampu untuk menolak. Dan terjadilah yang harus terjadi di antara sepasang suami istri tersebut. Rubby memang paling bisa membuat suaminya tak berkutik. Tapi satu hal yang harus di ingat, Rubby hanya bersikap seperti ini di depan suaminya, tidak pada pria lain.
_
_
_
Keesokan harinya.
Arya, Rubby dan juga Mama Dewi sudah berkumpul di meja makan.
"Rubby, aku ingin pakai selai strawberry." Ucap Arya saat istrinya akan menyiapkan sarapan untuknya.
"Sejak kapan kau suka selai strawberry, Arya?" Tanya Mama Dewi heran. Karena setahunya putranya itu tidak begitu menyukai selai yang berwana merah tersebut.
"Sejak sekarang." Jawab Arya sekenanya. Rubby memberikan sarapan yang di minta suaminya.
"Mama tahu? Selera Mas Firaz berubah akhir-akhir ini." Kata Rubby sambil membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
"Berubah bagaimana?" Tanya Mama Dewi.
"Mas Firaz jadi menyukai makanan yang tadinya tidak di sukainya." Jawab Rubby. Mama Dewi mengerutkan keningnya.
"Contohnya?" Tanyanya penasaran. Sedangkan yang menjadi bahan pembicaraan tetap fokus pada roti selainya.
"Waktu di taman kota, Mas Firaz meminta manisan buah. Lalu kemarin sewaktu di toko, Mas Firaz meminta cheese cake." Cerita Rubby.
"Manisan buah? Cheese cake?" Mama Dewi menggumam, ia tahu Arya tidak begitu menyukai makan-makanan itu. Mata Mama Dewi memicing, menatap curiga pada putranya, tapi Arya cuek saja dan menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan..." Mama Dewi bersorak dalam hati, semoga dugaannya tidak salah. Ia ingin memastikannya dulu, tapi bagaimana caranya?
_
_
_
"Ma, kami berangkat dulu." Pamit Arya begitu sarapannya selesai di ikuti Rubby.
"Ya hati-hati di jalan." Arya dan Rubby mencium punggung tangan Mama Dewi bergantian.
"Assalamuala'ikum."
"Waalaikumsalam."
Arya dan Rubby berjalan bersama, baru saja membuka pintu mereka di kejutkan dengan dua orang yang sudah berdiri di sana.
"Arya, Rubby. Assalamuala'ikum." Mega mengucap salam dengan sedikit tergagap.
"Waalaikumsalam." Jawab Arya dan Rubby bersamaan. Arya mengalihkan pandangannya pada Bara. Benar, pria itu tidak bisa melihat sama seperti dirinya dulu.
"Ada yang ingin kami bicarakan dengan kalian. Apa kalian ada waktu?" Tanya Mega ragu-ragu. Ia melihat penampilan Arya dan Rubby yang sudah rapi, mereka pasti akan berangkat bekerja. Untungnya mereka belum pergi.
Arya dan Rubby saling memandang, kemudian mengangguk bersamaan.
"Silakan masuk." Ucap Arya. Mega melangkah masuk sambil menuntun suaminya.
"Arya, Rubby, kalian belum berangkat?" Tanya Mama Dewi yang melihat anak dan menantunya masuk kembali. Tapi seketika matanya terbelalak melihat siapa yang baru datang. Tentu dirinya tidak akan lupa dengan dua orang itu.
"Mau kalian kemari?!" Tanya Mama Dewi dengan nada ketus.
"Ma, mereka tamu di sini." Ucap Arya mencoba meredam sang Mama yang terlihat emosi.
__ADS_1
"Untuk apa mereka datang ke sini, Arya? Apa mereka mau berniat jahat lagi pada kalian?" Tanya Mama Dewi lagi dengan nada menyindir.
"Ma..."
"Maaf, Tante. Tapi kedatangan kami kemari bukan untuk mencari masalah, kami kemari untuk meminta maaf." Mega memberanikan diri untuk bicara.
"Minta maaf? Setelah apa yang kalian lakukan, semudah itu kalian meminta maaf? Apa kalian tahu? Gara-gara ulah kalian, Arya dan Rubby menderita. Bahkan mereka sempat bercerai! Dan sekarang kalian dengan mudahnya mau meminta maaf?" Tanya Mama Dewi sarkastik dan penuh emosi.
"Tante, kami tahu kami salah. Maka dari itu, kami datang kemari untuk minta maaf. Tolong maafkan kami." Mega memohon sambil memelas. Sedangkan Mama Dewi melipat tangannya di depan dada dan masih menatap sinis pada dua orang itu.
"Ma, tolong dengarkan mereka. Niat mereka baik datang kemari, tolong ke sampingkan dulu emosi Mama." Kata Arya dengan selembut mungkin, memberi pengertian pada Mamanya.
"Tapi gara-gara mereka, kalian dulu jadi berpisah, Arya." Timpal Mama Dewi.
"Iya, Ma. Arya mengerti, Mama masih marah jika mengingat hal itu. Tapi sekarang kan Arya dan Rubby sudah bersama kembali. Tidak ada gunanya juga kita menyimpan dendam." Ucap Arya. Mama Dewi membuang nafas kasar ke udara. Bohong jika dirinya tidak emosi jika melihat dua orang itu, tapi yang di katakan putranya juga benar.
"Tante Dewi, Arya dan juga Rubby. Kami minta maaf. Kami benar-benar menyesal dengan apa yang sudah kami lakukan, kami merasa bersalah. Izinkan kami untuk memperbaiki kesalahan kami." Kali ini Bara yang bicara, ia bisa merasakan tangan Mega yang menggenggam erat tangan miliknya.
Mama Dewi mengalihkan pandangannya pada Bara, wanita paruh baya itu mengernyit heran menyadari Bara yang tampak berbeda. Seperti...
"Bara, Mega, kami memaafkanmu. Kami bisa mengerti kenapa dulu kalian berbuat seperti itu pada kami. Kami juga meminta maaf jika kami membuat kesalahan atau ada sikap kami yang kurang berkenan pada kalian." Ucap Arya yang di iringi anggukkan oleh Rubby.
"Ya, itu benar. Kami minta maaf." Tambah Rubby.
Sementara Mama Dewi menganga tak percaya mendengarnya. Kenapa putra dan menantunya ikut-ikutan meminta maaf, padahal mereka tidak salah?
"Tidak, Arya, Rubby. Jangan katakan itu. Semua adalah kesalahan kami. Kami yang bersalah dalam hal ini, kami yang egois dan berfikir jika yang kami lakukan adalah atas dasar cinta tapi padahal dalam kenyataan kami salah besar." Ucap Mega penuh dengan penyesalan.
"Sekali lagi kami minta maaf. Katakan apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan kami pada kalian?"
*****
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊
__ADS_1