Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Kau Jahat!


__ADS_3

Menenggelamkan wajahnya pada perut wanita yang telah melahirkannya itu. Mama Dewi mengusap-usap rambut hitam Arya dan mengecup puncak kepalanya. Ini pertama kalinya ia melihat Arya begitu sedih dan terpukul. Terakhir kali ia melihat Arya menangis saat kehilangan papanya, namun Arya masih terlihat tegar kala itu. Ketika mengetahui Mega telah mengkhianatinya, walaupun sakit hati tapi Arya tidak sampai menangis seperti ini. Dan kini putranya terlihat begitu rapuh, Rubby pasti sangat berarti untuknya.


"Semua akan baik-baik saja." Bisik Mama Dewi di telinganya.


_


_


_


Tiga hari kemudian...


Arya sudah membuat laporan ke polisi, dan kini Bara menjadi daftar orang yang cari polisi. Tapi sayangnya Arya tidak bisa melaporkan Mega, karena ia tidak punya bukti untuk melaporkan wanita itu. Seandainya Bara tertangkap, pasti bukan hal yang sulit untuk menyeret Mega ke dalam penjara.


Polisi sudah mendatangi tempat tinggal, coffe shop dan juga rumah makan Bara. Namun pria itu menghilang bagai di telan bumi.


Para pegawai Rubby begitu terkejut dengan apa yang sudah terjadi dengan atasan mereka. Mereka bergantian menjenguk Rubby, dan untuk sementara toko kue Rubby tutup karena masih dalam penyelidikan polisi.


Siang ini Intan dan Bunda Maya sedang menunggu Rubby. Akhirnya setelah tiga hari menjalani perawatan Rubby pun sadar.


"Syukurlah Nak, kau akhirnya sadar juga." Ucap Bunda Maya sambil menggenggam tangan putri sulungnya. Intan yang berada di sampingnya turut bahagia melihat kakaknya sudah sadar. Sudah tiga hari ibu hamil itu bersedih terus memikirkan nasib sang kakak.


"Bunda, Rubby di mana?" Tanya Rubby yang terdengar lemah.


"Kau di rumah sakit. Sudah tiga hari kau tidak sadarkan diri." Jawab Bunda Maya.


"Tiga hari?" Rubby mencoba mengingat apa yang terjadi yang sudah terjadi ada dirinya.


Perlahan kilasan memori itu terlintas kembali di kepalanya. Di mana Bara yang hendak melec*hkan, menc*kik dan menamparnya. Dan juga ketika pria itu menarik hijabnya hingga terlepas.


Rubby langsung terduduk, raut wajahnya berubah ketakutan. Manik matanya bergerak gelisah.


"Kakak kenapa?" Tanya Intan panik.


"Rubby kenapa, Nak?" Bunda Maya ikutan panik. Rubby menggeleng cepat, bulir bening mengalir di pipinya.


Klek, pintu ruangan itu terbuka, Arya baru saja datang. Hari ini Arya sudah bekerja kembali, karena bagaimanapun ia mempunyai tanggung jawab dengan tempat usahanya. Ia begitu senang ketika mendapat kabar dari Intan kalau istrinya telah sadar, Arya langsung meluncur ke rumah sakit saat itu juga. Ingin rasanya Arya segera membawa Rubby dalam pelukannya.


"Rubby..." Wajah Arya yang tadi sumringah, mendadak berubah. Senyum Arya langsung tenggelam dan raut wajahnya berubah khawatir melihat keadaan Rubby yang tengah terduduk dan menatapnya dengan pandangannya yang tak biasa. Terlihat air mata mengalir deras di wajahnya.

__ADS_1


"Rubby ada apa?" Tanyanya sambil melangkah mendekat ke arah istrinya.


"Jangan mendekat!" Hardik Rubby.


"Rubby...?" Arya menatapnya bingung, ia tetap mendekat ke arah Rubby.


"Ku bilang jangan mendekat!" Rubby berteriak. Arya menghentikannya langkahnya.


"Rubby. Kau tidak boleh berteriak seperti itu pada suamimu." Kata Bunda Maya. Rubby kembali menggeleng.


"Tidak..." Gumamnya.


"Rubby, aku..." Arya kembali mendekat.


"Jangan mendekat! Pergi! Aku tak mau melihatmu!" Teriak Rubby, air matanya semakin mengalir deras.


"Kau jahat! Suami jahat! Pergi!" Teriaknya. Rubby memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya, tubuhnya gemetar hebat. Arya mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap nanar pada Rubby. Dirinya tidak sanggup berkata-kata melihat istrinya berteriak histeris seperti itu. Sedangkan Bunda Maya dan Intan terlihat bingung. Bunda Maya kemudian mendekati menantunya.


"Arya, sebaiknya kita keluar dulu." Ucapnya. Bunda Maya menarik lengan menantunya dan membawanya keluar dari ruang rawat. Sementara Intan masih di sana, dan mencoba menenangkan kakak perempuannya.


"Kak Rubby..." Intan mengusap lembut kepala Rubby yang tertutup hijab. Rubby mengadah, menatap Intan dengan mata yang basah.


"Kak..." Intan tak kuasa menahan air matanya, ia meraih Rubby ke dalam pelukannya.


"Dia jahat...." Isaknya dalam tangis. Intan memeluknya erat, dan ikut menangis.


Sedangkan di luar ruangan. Arya mengusap kasar wajahnya, ia tak menyangka reaksi Rubby akan seperti itu saat melihat dirinya.


"Arya, kau yang sabar ya. Mungkin ini yang dokter maksud kemarin, Rubby akan mengalami syok dan juga trauma saat sudah sadar." Ucap Bunda Maya.


"Ini semua salahku, Bunda..." Arya terduduk lemas di kursi besi yang terdapat di sana, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Sudahlah Arya, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Bunda Maya menatap simpati pada menantunya, ia bisa melihat raut penuh penyesalan di wajah Arya.


"Maya, Arya..." Suara seseorang membuat mertua dan menantu itu menoleh. Mama Dewi baru saja datang.


"Kalian kenapa?" Tanya Mama Dewi memandang heran pada Bunda Maya dan juga putranya.


"Tidak apa-apa, Dew." Bunda Maya menjawab.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Rubby? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Mama Dewi. Padahal baru sejam yang lalu dirinya pulang, tapi tadi Intan memberi tahu kalau Rubby sudah sadar Mama Dewi langsung kembali lagi ke rumah sakit.


"Rubby ada di dalam bersama Intan." Jawab Bunda Maya.


"Lalu kenapa kalian berdua ada di sini?" Tanya Mama Dewi bingung.


"Em... Tidak apa-apa, ayo kita temui Rubby." Ajak Bunda Maya, sementara Arya masih terdiam di tempatnya.


"Arya, ayo temui istrimu." Ajak Mama Dewi pada putranya.


"Arya di sini saja, Ma." Tolak Arya. Mama Dewi mengerutkan keningnya melihat ekspresi Arya. Kenapa putranya terlihat sedih? Seharusnya Arya senang kan istrinya sudah sadar?


"Ada apa?" Tanya Mama Dewi pada Bunda Maya. Bunda Maya hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Ayo kita temui Rubby dulu." Ujarnya.


Mama Dewi membuka pintu, dilihatnya Rubby yang masih berada dalam pelukan Intan.


"Rubby..." Mama Dewi melangkah mendekat, Rubby melepaskan pelukannya.


"Mama..." Lirihnya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Mama Dewi duduk di samping Rubby, membelai lembut wajah menantunya. Sedangkan Intan mundur ke belakang.


"Rubby baik-baik saja, Ma." Jawab Rubby dengan senyum tipis di wajahnya. Bunda Maya dan Intan saling menatap, merasa heran dengan perubahan sikap Rubby. Tadi Rubby begitu histeris saat melihat Arya, dan sekarang gadis itu terlihat tenang.


"Alhamdulillah, Mama senang kau sudah membaik." Senyum lega nampak di wajah Mama Dewi.


"Apa ada yang sakit?" Tanyanya, Rubby menggeleng sebagai jawaban.


"Syukurlah. Oh ya, tadi kenapa Arya ada di luar?" Tanya Mama Dewi lagi.


"Mama panggilkan suamimu ya." Lanjutnya. Rubby langsung menggeleng.


"Tidak, Ma. Rubby tidak ingin bertemu dengannya." Sahut Rubby cepat.


"Kenapa Rubby?" Tanya Mama Dewi heran.


"Aku tidak mau melihat wajahnya. Dia jahat, Ma." Ucap Rubby yang mulai menangis kembali.

__ADS_1


__ADS_2