Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Rubby Wanita Impianku


__ADS_3

"Oh, aku ke sini..." Ucapan Arya menggantung, haruskah ia katakan pada Bara dirinya datang ke sana untuk menjemput istrinya?


"Kau pasti mau beli kue kan? Kau tahu, kue di sini rasanya sangat enak dan harganya juga ramah di kantong." Sela Bara.


"Ah... Ya, aku mau beli kue." Arya memilih untuk mengiyakan saja. Toh pernikahannya juga belum di ketahui banyak orang dan Bara juga masih merahasiakan siapa gadis pujaannya.


"Permisi..." Seseorang datang di antara mereka sambil membawa dua gelas kopi di atas nampan.


"Hai, Rubby." Sapa Bara. Rubby hanya mengangguk dan meletakkan secangkir kopi di hadapan Bara. Kemudian beralih kesebelahnya. Namun seketika ia terbelalak melihat siapa yang duduk bersama Bara.


"Mas Firaz?" Gumamnya pelan, sejak kapan suaminya itu ada di sana? Sementara Arya hanya menatapnya tanpa bicara apapun.


"Rubby. Kenalkan ini temanku, Arya." Ucap Bara. Lagi, Rubby hanya mengangguk saja.


"Arya, kenalkan ini Rubby. Dia pemilik toko kue ini." Bara mengenalkan Rubby pada Arya. Arya hanya tersenyum tipis. Keduanya saling berpandangan sejenak.


"Saya permisi dulu, Tuan." Rubby mohon diri.


"Iya, Rubby."


Arya menatap punggung Rubby yang menjauh. Gadis itu terlihat kembali ke dapur. Rubby mendudukkan tubuhnya di salah kursi.


"Jadi Tuan Bara itu temannya Mas Firaz? Aku baru tahu." Gumamnya.


"Tapi untuk apa Mas Firaz datang kemari? Apa Mas Firaz ada janji dengan Tuan Bara?" Tanya Rubby dalam hati, ia tidak tahu jika Arya ke sana untuk menjemput dirinya.


"Mba, bagaimana?" Suara Ria mengejutkannya. Pegawainya itu sudah ada di belakangnya.


"Bagaimana apanya?" Rubby balik bertanya.


"Temannya Tuan Bara tampan kan? Dia yang dulu pernah datang ke sini mencari Mba Rubby. Tadi kalau tidak salah Tuan Bara memanggilnya Arya." Ucap Ria. Tadi Ria pergi ke dapur untuk memesan dua kopi, tapi karena ia sedang menjaga meja kasir jadi Rubby yang mengantarnya karena pegawai yang lainnya juga sedang sibuk.


"Sudah Ria. Jangan bahas masalah pria. Lebih baik kita bekerja saja yang benar." Rubby beranjak bangun dari duduknya.


"Tapi Mba, lelaki itu benar-benar tampan." Ria heboh sendiri, wajahnya merona membayangkan wajah Arya.


"Semua lelaki itu tampan, Ria. Kalau cantik itu wanita." Tukas Rubby.


"Mba Rubby ini..." Ria nampak cemberut.


"Sudah kerja sana." Rubby mengibaskan tagannya.


"Iya, Mba." Ria kembali ke mejanya. Rubby hanya bisa membuang nafas berat melihat tingkah pegawainya.


"Apa kau tahu Ria? Pria yang kau puji-puji adalah suamiku?" Batin Rubby. Rubby menghela nafas panjang, namun kemudian ia terlihat berfikir.

__ADS_1


"Kenapa tadi Mas Firaz diam saja ya? Mas Firaz juga tak mengenalkan aku sebagai istrinya?" Rubby bertanya-tanya dalam hati.


"Apa Mas Firaz malu mengakui ku sebagai istri di depan temannya?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja melesak di fikirannya.


"Tentu saja. Kekasih Mas Firaz itu Mega. Wanita yang sangat cantik, dan juga model terkenal. Aku tidak ada apa-apanya di banding dirinya..." Wajah Rubby berubah sendu.


"Dan Mas Firaz sangat mencintainya..."


Rubby teringat kembali saat semalam Arya terus mengigau nama Mega. Hatinya mendadak sakit kembali.


_


_


_


"Kau mengenal gadis itu? Kau tampak akrab dengannya." Tanya Arya sambil menyesap minumannya.


"Siapa? Rubby?" Tanya Bara.


"Iya."


"Kan sudah ku bilang kalau aku langganan kue di sini tentu saja aku mengenal pemiliknya." Jawab Bara. Arya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya, apa kau masih ingat waktu aku bilang sebenarnya aku sudah menemukan wanita yang cocok denganku." Ujar Bara, wajahnya berubah serius.


"Ya, kenapa memangnya?" Tanya Arya sambil kembali meminum kopinya.


"Wanita yang ku maksud adalah Rubby." Jawab Bara.


Mata Arya seketika terbelalak. Kopi yang baru saja melewati kerongkongannya seakan tersangkut.


"Uhuk, uhuk!"


"Pelan-pelan Arya. Kau ini bagaimana? Hanya minum kopi saja sampai tersedak begitu." Ucap Bara, ia sama sekali tidak tahu jika temannya itu tersedak akibat ucapannya.


"Ehm, jadi wanita yang kau maksud... " Ucapan Arya menggantung.


"Iya, Arya. Wanita itu Rubby." Sahut Bara.


"Kau tahu Arya? Sebenarnya sudah lama aku menyukai Rubby. Tapi ia begitu sulit untuk di dekati. Tadi kau lihat sendiri kan bagaimana tanggapannya ketika aku mengenalkannya padamu." Lanjutnya.


Arya hanya bisa menatap temannya tanpa berkata apapun.


"Rubby, dia wanita yang sangat sempurna di mataku. Walaupun penampilannya sederhana. Tapi bagiku dia sangat cantik. Dia juga selalu menjaga jarak dengan pria. Rubby benar-benar wanita impianku." Bara terus saja memuji Rubby. Dan itu membuat Arya seakan kesulitan bernafas.

__ADS_1


Bagaimana bisa ada pria lain yang terang-terangan memuji istrinya di depannya? Apalagi Bara mengatakan kalau ia menyukai Rubby. Itu membuat Arya seakan kehilangan pasokan oksigen untuknya bernafas.


"Hei, kenapa kau diam saja?" Tegur Bara ketika melihat temannya itu hanya mematung tanpa membalas ucapannya.


"Lalu aku harus apa?" Arya balik bertanya.


"Setidaknya beri tanggapan untuk Rubby? Bagaimana dia menurutmu?" Tanya Bara dengan raut wajah serius.


"Bukannya kau yang lebih mengenalnya? Kenapa jadi tanya pendapatku? Aku saja belum lama tahu tentang toko ini. Sekarang kau malah tanya tentang pemiliknya padaku?" Jawab Arya sekenanya.


"Hah, kau benar-benar menyebalkan. Mungkin di matamu hanya Mega wanita yang sempurna." Tukas Bara.


"Kenapa jadi bawa-bawa Mega? Aku tidak ingin membicarakannya." Timpal Arya dengan tatapan datarnya.


"Kenapa? Aku sebenarnya tidak yakin kalau kau sudah putus dengan Mega." Sahut Bara.


"Terserah." Jawab Arya sambil kembali meminum kopinya yang sudah hampir dingin itu.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Bara.


"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Ujarnya, Arya hanya mengangguk.


"Halo, iya. Oh begitu, baiklah aku ke sana sekarang." Bara menutup teleponnya.


"Arya." Panggilnya.


"Hem."


"Aku harus pergi karena ada urusan." Ucap Bara.


"Kau mau pergi? Tapi habiskan dulu kopimu. Itu masih utuh." Sahut Arya.


"Ah, iya." Bara meminum kopi itu sekaligus.


"Aku yang bayar kopinya." Kata Bara sambil beranjak bangun. Arya mengiyakan.


"Oh ya, kau jangan mencoba untuk mendekati Rubby ya. Dia milikku. Kalau kau mau mencari pengganti Mega, dekati pegawai Rubby saja. Mereka juga tidak kalah cantik, dan yang jelas mereka masih sangat muda." Pesan Bara sebelum pergi dari sana. Arya diam saja sambil menatapnya.


"Apa dia fikir aku menyukai remaja labil seperti pegawai Rubby apa? Dan apa dia bilang tadi? Rubby miliknya?" Gumam Arya setelah Bara menghilang dari pandangannya.


"Rubby istriku, bagaimana bisa menjadi miliknya.'' Gerutunya.


Arya mencoba menenangkan dirinya. Sebenarnya sedari tadi ia mencoba untuk menahan emosi apalagi saat Bara memuji-muji istrinya.


"Aku kesal sekali, berani betul Bara mengatakan kalau ia menyukai istriku."

__ADS_1


__ADS_2