Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 142


__ADS_3

"Kau percaya dengan mitos seperti itu?" Tanya Arya kemudian.


"Percaya tidak percaya. Yang jelas aku tidak ingin anakku mirip dengan Kakak." Tukas Andika.


"Memangnya aku kenapa? Aku ini pria yang tampan dan di sukai banyak wanita. Seharusnya kau ini bersyukur jika nanti anakmu mirip denganku." Timpal Arya dengan percaya diri, ia menghidupkan kembali mesin mobilnya.


"Cih, Percaya diri sekali. Aku tidak mau anakku galak seperti Kakak." Sahut Andika dengan berdecih. Walau itu memang faktanya.


"Aku galak juga pada tempatnya." Balas Arya tak mau kalah. Dan mobil hitam itu kembali melaju membelah jalanan yang cukup padat sore itu. Sedangkan perdebatan tida penting mereka masih berlanjut di sepanjang perjalanan.


_


_


_


"Mas Firaz!" Rubby langsung menghampiri suaminya yang baru turun dari mobilnya. Seperti biasa, ia mengecup punggung tangan Arya dan Arya mengecup singkat keningnya.


"Wah ternyata Kakakku bisa romantis juga." Celetuk Andika yang melihat kejadian di depan matanya.


"Aku hanya romantis pada istriku." Timpal Arya.


"Kak Rubby, mana Intan? Kenapa dia tidak menungguku juga?" Tanya Andika.


"Intan sedang di kamar bersama baby Dikta." Jawab Rubby. Andika terlihat mengerucutkan bibirnya. Semenjak hamil yang kedua, Intan sudah jarang menyambut kedatangannya.


"Tak perlu iri." Arya meraup wajah cemberut adiknya dengan satu telapak tangannya.

__ADS_1


"Kakak!"


"Ayo Rubby, kita masuk." Arya mengabaikan adiknya yang semakin cemberut.


Arya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


"Di mana Mama?" Tanyanya.


"Mama di kamar, Mas. Ini Mas, di minum dulu." Rubby menyerahkan secangkir coklat hangat yang sudah di buatnya sebelum Arya sampai.


"Terima kasih." Arya hendak meminumnya, tapi mendadak aroma minuman itu terasa begitu menyengat di hidungnya. Refleks Arya menutup setengah wajahnya dengan telapak tangan dan meletakan kembali cangkir itu di atas meja.


"Kenapa, Mas?" Tanya Rubby heran.


"Kenapa minuman itu baunya aneh, Rubby?" Arya balik bertanya.


"Aneh? Aneh bagaimana? Itu coklat yang biasa Mas minum." Jawab Rubby, wajahnya terlihat bingung.


"Kak Arya yang aneh!" Sambar Andika yang ikut duduk bergabung bersama mereka. Ia kemudian mengambil alih cangkir minuman itu.


"Aromanya biasa saja." Sambungnya sambil menghirup aroma dari minuman itu. Lalu ia meminumnya begitu saja.


"Rasanya juga enak." Ujarnya.


"Kenapa kau malah meminumannya? Itu kan milikku?" Arya melayangkan protes.


"Tadikan Kak Arya bilang kalau baunya aneh, jadi ya buat aku saja daripada mubazir tidak kakak minum." Sahut Andika sambil memasang wajah polosnya.

__ADS_1


"Iya juga ya?"


"Sudah, Mas. Aku buatkan lagi saja ya? Mas mau minum apa?" Rubby melerai perdebatan yang baru akan di mulai kembali antara kakak beradik itu.


"Buatkan aku teh tawar hangat saja." Jawab Arya. Sedangkan sepasang matanya memperhatikan Andika yang begitu menikmati minumannya.


"Kenapa Andika biaasa saja ya? Sedangkan tadi aku langsung mual? Atau ada yang salah dengan hidungku?" Batin Arya bertanya-tanya.


"Ya sudah, aku buatkan dulu." Rubby beranjak dari sana.


"Apa itu enak?" Tanya Arya, ia melirik ke arah cangkir yang isinya tinggal setengah.


"Tentu saja." Jawab Andika yang kembali menegak sisa minumannya hingga tak bersisa.


"Aku ke kamar dulu ya, Kak." Pamit Andika, Arya mengangguk saja. Tak lama Rubby kembali ke tamu.


"Ini, Mas." Rubby menyerahkan segelas teh hangat pada suaminya. Arya langsung meminumnya.


"Ini lebih baik." Ujarnya.


"Apa ini salah satu pengaruh dari kehamilanku ya?" Batin Rubby. Ia duduk kembali di samping suaminya.


"Oh ya, tadi Mama mengajakmu ke mana?" Tanya Arya.


"Ke klinik, Mas." Jawab Rubby jujur. Arya langsung tersentak mendengarnya.


"Klinik? Mama sakit apa?"

__ADS_1


...****************...


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2