
"Sebaiknya kau keluar. Ini masih jam kerja, atau mau ku potong gajimu?" Kini giliran Arya yang mengancam. Andika langsung menatap datar sang Kakak, lagi-lagi kakaknya itu menggunakan ancaman potong gaji!
"Iya, aku keluar. Tapi ingat pesanku, Kak." Tandasnya sebelum pergi dari ruangan itu.
Arya hanya mengibaskan tangannya, menyuruh sang adik untuk keluar.
*****
"Dasar Andika menyebalkan!" Arya mengumpat sambil mengompres wajahnya dengan air hangat. Dahi dan hidungnya nampak memerah karena perbuatan adiknya untung saja tidak berdarah, tapi rasanya nyeri bukan main.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Arya, ada nama Rubby di layar ponselnya. Ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Assalamuala'ikum, Mas Firaz." Sapa Rubby begitu panggilannya terhubung.
"Waalaikusalam, Rubby. Ada apa?" Tanya Arya.
"Suara Mas kenapa?" Tanya Rubby yang mendengar suara suaminya berbeda.
"Tidak apa-apa, Rubby." Jawabnya.
"Tapi kenapa suara Mas berbeda?" Cecar Rubby. Arya menghembuskan nafas kasar. Kalau tidak menajwab jujur, Rubby pasti akan bertanya terus.
"Tadi hidungku terbentur pintu." Jawab Arya.
"Terbentur pintu? Kenapa bisa?" Suara Rubby terdengar panik.
"Aku mau membuka pintu, tapi Andika lebih dulu mendorongnya dari luar." Terang Arya.
"Tapi Mas tidak apa-apa kan? Apa Mas terluka?" Tanya Rubby khawatir.
"Tidak apa-apa, Rubby. Hanya nyeri saja. Ada apa kau meneleponku?" Arya mengalihkan pembicaraan. Jangan terus-terusan membahas pintu, itu membuatnya semakin kesal dengan Andika.
"Mas sudah makan siang?" Tanya Rubby.
__ADS_1
"Makan siang?" Arya menggumam sendiri, tadi dirinya hendak makan siang, tapi ada Dokter Malik yang datang berkunjung ke coffe shopnya, di susul dengan kedatangan Indah dan berakhir dengan Andika yang membuatnya harus menabrak pintu. Hah, Arya jadi melupakan makan siangnya.
"Belum, Rubby." Jawab Arya.
"Belum? Mas ini sudah jam berapa? Kalau telat makan..."
"Rubby, tadi ada Dokter Malik datang kemari. Jadi aku lupa makan siang." Arya menyela lebih dulu celotehan istri, terdengar Rubby membuang nafas berat di balik ponsel.
"Aku akan bawakan makan siang untuk Mas."
"Rubby, tidak perlu..."
Rubby langsung menutup panggilannya tanpa menunggu suaminya selesai bicara. Arya menatap layar ponselnya yang sudah mati.
"Sudahlah, biarkan Rubby datang kemari." Ucapnya pasrah.
_
_
_
"Kak Rubby!" Sapa Andika yang melihat kedatangan Kakak iparnya.
"Hai, Andika. Apa Mas Firaz ada?" Tanya Rubby.
"Sepertinya ada di ruangannya." Jawab Andika.
"Tumben Kak Rubby kemari?" Tanya Andika, karena tidak biasanya Rubby datang ke coffe shop kecuali Arya yang mengajaknya.
"Aku bawa makan siang untuk Mas Firaz." Jawab Rubby sambil menunjukkan kantong plastik yang di bawanya.
"Oh..." Andika ber oh ria saja.
__ADS_1
"Oh ya, kau sudah makan siang?" Tanya Rubby.
"Sudah Kak. Lagipula jam istirahat makan siang kan sudah selesai dari tadi, kalau aku makan siang lagi bisa-bisa aku di pecat." Jawab Andika, Rubby terkekeh mendengarnya. Suaminya suka main pecat saja ternyata, tak peduli itu adiknya sendiri.
"Ya sudah, aku ke ruangan Mas Firaz dulu ya."
"Iya, Kak."
Rubby kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan suaminya.
"Hah, Kak Arya beruntung sekali. Tadi ada gadis yang memberinya cake, sekarang istrinya yang datang mengantarkan makan siang." Gumam Andika, ia beranjak ke belakang melanjutkan kembali pekerjaannya.
Tangan Rubby terangkat hendak mengetuk pintu, tapi kemudian di urungkannya.
"Lebih baik langsung masuk saja. Aku ingin tahu apa yang di kerjakan Mas Firaz di dalam."
Rubby memutar handle pintu, membukanya sedikit. Masuk dengan langkah pelan, pandangan Rubby langsung tertuju pada meja kerja Arya. Kosong, tidak ada suaminya di sana.
"Ke mana Mas Firaz?" Sepasang netra di balik kacamata itu mengedar, hingga tertumpu pada sosok yang tengah terbaring di sofa. Rubby menutup pintu ruangan itu dan menghampiri suaminya.
Kening Rubby mengernyit heran, Arya terbaring dengan handuk kecil yang menutupi wajahnya.
"Mas Firaz..." Panggil Rubby dengan menggucang pelan tubuh suaminya.
"Ya!" Arya refleks terduduk, karena kaget. Dirinya juga sebenarnya tidak tidur tadi, handuk kecil yang menutup wajahnya jatuh di atas pangkuannya. Netra Rubby membulat melihat wajah suaminya.
"Mas... Hidungmu kenapa jadi merah begitu?" Tanyanya sambil meringis.
"Pasti sakit." Refleks Rubby menutup mulutnya, dia serasa ikut merasakan sakitnya.
"Tadi kan aku sudah bilang, gara-gara terbentur pintu. Rasa nyerinya sudah berkurang, Rubby. Sudah ku kompres dengan air hangat." Terang Arya.
"Tapi masih merah. Suamiku tidak tampan lagi."
__ADS_1
*****
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊