
"Bisa tidak kalian tidak membahas Mega?" Arya bersuara.
"Kenapa? Aku hanya ingin tahu saja." Andika menimpali.
"Mega itu siapa?" Tanya Intan yang memang tak megetahui tentang Mega.
"Kenapa kalian malah menatapku seperti itu?" Intan jadi salah tingkah karena semua mata tertuju padanya.
"Mega itu kekasih Kak Arya." Jawab Andika.
"Kak Arya punya kekasih?!" Tanya Intan terkejut. Sendok yang berada di genggamannya langsung terjatuh ke lantai. Andika sama sekali tidak pernah mengatakannya.
"Bukan Intan. Mega itu mantan kekasihku." Arya menjelaskan.
"Jadi sebenarnya Mega itu kekasih atau mantan kekasih Kak Arya?" Tanya Intan bingung.
"Mega mantan kekasihku. Kau jangan dengarkan suamimu." Jawab Arya.
"Tapi kan Kak Arya belum memutuskan hubungan Kak Arya dengan Mega." Sahut Andika.
"Siapa yang bilang? Aku sudah memutuskannya pagi tadi." Timpal Arya, Andika langsung tercengang.
"Benarkah?" Tanyanya ragu.
"Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Rubby."
Andika mengalihkan pandangannya pada Rubby.
"Memang iya Kak?" Tanyanya. Rubby mengangguk sambil tersenyum.
"Sebentar." Intan menyela.
"Kak Arya baru memutuskan Mega pagi tadi. Itu artinya selama menikah dengan Kak Rubby, Kak Arya masih berpacaran dengan Mega?" Tanya Intan, raut wajahnya terlihat sedih.
"Tidak seperti itu, Intan." Sahut Arya cepat.
"Sebenarnya..." Ucapan Arya terhenti. Ia beralih menatap Andika.
"Kau saja nanti yang jelaskan." Titahnya pada Andika.
"Kenapa aku?" Tanya Andika bingung.
"Karena Intan istrimu. Dan aku malas jika harus mengulang cerita. Kau juga yang mulai membahas Mega." Jawab Arya. Andika terlihat cemberut.
"Andika, kau harus menceritakannya padaku nanti." Kata Intan pada suaminya.
"Iya, sayang." Jawab Andika kemudian menikmati kembali es krimnnya.
Akhirnya acara makan es krim sudah selesai.
"Setelah ini kalian mau ke mana?" Rubby bertanya pada para adik.
"Kami mau pulang, Kak. Apa Kak Rubby dan Kak Arya mau berkunjung ke rumah Ayah?" Tanya Intan.
"Em... Kakak bagaimana Mas Firaz saja." Jawab Rubby.
"Bagaimana Kak? Mau ikut kami pulang?" Tanya Andika pada kakaknya. Arya terlihat berfikir.
__ADS_1
"Baiklah kita ke rumah Ayah. Tapi tidak menginap. Kasihan Mama kalau di tinggal sendiri." Jawab Arya. Rubby mengangguk setuju.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Ajak Andika.
Kedua pasang suami itu beranjak dari kedai es krim menuju parkiran. Andika mengeluarkan motornya dari tempat parkir yang lumayan penuh itu.
"Kalian kemari naik motor?" Tanya Arya heran.
"Lalu kami harus naik apa, Kak? Naik pesawat?" Sahut Andika.
"Bukan begitu. Tapi istrimu kan sedang hamil muda, bukannya rawan jika berpergian menggunakan motor?"
"Tapi aku hanya punya motor, itu juga Kakak yang membelikannya dulu untukku."
"Kakak tenang saja, kandungan Intan kuat." Tambah Andika, ia tahu kalau Arya peduli pada calon anaknya.
"Apa kalian mau pulang naik mobil? Biar aku yang bawa motornya." Tawar Arya.
"Tidak perlu, Kak Arya. Aku ingin naik motor saja, naik motor lebih romantis. Kalau naik mobil aku tidak bisa memeluk suamiku." Intan menjawab. Arya tercengang mendengarnya.
"Kakak dengar sendiri kan? Kalau naik motor kita berdua bisa berpelukan." Andika mengulang ucapan sang istri dengan senyum bangga di wajahnya.
"Terserah kalian saja." Arya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan adik-adiknya.
"Kak Rubby, sekali-kali ajak suaminya pergi naik motor. Biar romantis." Celetuk Andika.
"Tidak perlu. Nanti aku masuk angin." Arya menyahut kemudian masuk ke dalam mobilnya.
_
_
_
"Bagaimana jalan-jalannya?" Tanya Bunda Maya begitu anak dan menantunya sampai.
"Tamannya ramai, Bunda. Aku jadi pusing karena banyak orang." Jawab Intan sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Sedangkan Andika ke dapur membuatkan minum untuk istrinya.
"Wajar kau pusing melihat banyak orang kau kan sedang hamil muda." Sahut Bunda Maya duduk di sampingnya.
"Bunda, tadi kami bertemu Kak Rubby dan Kak Arya di kedai es krim."
"Oh ya? Mereka berada di sana juga?"
"Ya, Bunda. Mereka juga akan berkunjung kemari. Mungkin sampai sebentar lagi."
Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
"Assalamuala'ikum..." Arya dan Rubby mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Bunda Maya.
"Rubby, Arya? Kalian kemari?" Wajah Bunda Maya terlihat berbinar melihat kedatangan putri pertama dan menantunya.
"Iya Bunda." Rubby dan Bunda Maya saling berpelukan singkat. Kemudian Arya mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Bagaimana kabar Bunda dan Ayah?" Tanya Rubby yang duduk di samping bundanya.
__ADS_1
"Kami baik, sayang. Kalian sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, kami semua juga baik-baik saja."
Andika datang membawakan satu cangkir teh hangat untuk istrinya.
"Ini, Intan. Kau minum dulu." Ujarnya sambil menyerahkan teh yang baru saja di buatnya pada istrinya.
"Terima kasih." Sahut Intan.
"Kau hanya membuat satu gelas saja? Kami juga tamu di sini. Seharusnya kau buatkan minum untuk kami juga." Celetuk Arya.
"Kak Arya buat sendiri saja. Aku memang membuat minuman khusus untuk istriku." Timpal Andika.
"Kalian kenapa berdebat terus?" Rubby kembali menengahi.
"Biarkan saja, Kak. Aku senang melihat Kak Arya dan Andika berdebat. Mereka terlihat romantis." Ujar Intan. Sontak Arya dan Andika menoleh ke arahnya.
"Arya, Rubby. Kapan kalian datang?" Ayah Bakti ikut bergabung bersama mereka. Menghentikan Arya dan Andika yang hendak protes ucapan Intan.
"Ayah..." Arya bangkit dari duduknya dan menyalami ayah mertuanya.
"Baru saja kami datang, Ayah." Jawab Arya.
"Ayah mau ke masjid?" Tanya Arya, Ayah Bakti memang sudah nampak rapi dengan sarung dan juga baju kokonya.
"Iya, Ayah mau sholat dzuhur. Kalian mau ikut?" Tanya Ayah Bakti pada kedua menantunya. Arya dan Andika mengangguk sebagai jawaban.
_
_
_
Seusai sholat dzuhur, para istri menyiapkan makan siang sambil menunggu para suami yang akan pulang sebentar lagi.
"Kalian kemari tak mengabari Bunda dulu. Untung saja Bunda masak banyak." Ujar Bunda Maya sambil menata piring di meja makan.
"Maaf Bunda, tadi memang tidak di rencanakan sama sekali." Jawab Rubby.
"Bagaimana pernikahanmu dengan Arya? Baik-baik saja kan?" Tanya Bunda Maya seperti biasa.
"Alhamdulillah, Bunda. Pernikahan kami baik-baik saja." Rubby tersenyum simpul. Intan melirik ke arahnya dengan ekor matanya.
"Kasihan Kak Rubby. Selalu menyembunyikan kesedihannya di depan Bunda. Apalagi ternyata Kak Arya masih memiliki kekasih selama ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kak Rubby." Batin Intan.
"Intan, kau kenapa? Apa kau mual?" Tanya Bunda Maya yang melihat Intan mematung di kursi makan.
"Tidak, Bunda." Intan menggeleng cepat.
"Sepertinya Ayah dan dua menantunya sudah datang." Ucap Intan mengalihkan pembicaraan. Memang ketiga pria itu baru saja datang.
"Assalamuala'ikum." Ucap ketiganya serentak.
"Waalaikumsalam." Jawab para istri.
"Ayo kita makan. Semuanya sudah kami siapkan." Kata Bunda Maya.
__ADS_1