Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Bertemu Mega


__ADS_3

"Apa benar itu sketsa wajahku? Pantas saja aku merasa tidak asing. Tapi untuk apa Rubby membuat sketsa wajahku?"


Berbagai pertanyaan muncul di benak Arya.


"Kak! Kenapa malah melamun? Cepat habiskan makanannya, jam makan siang sebentar lagi habis. Bisa-bisa Kakak akan di pecat oleh pemilik coffe shop ini." Celetuk Andika menyadarkan Arya dari lamunannya.


"Heh, coffe shop ini milikku. Tidak ada yang berani memecatku!" Timpal Arya, Andika hanya tertawa saja melihat ekspresi dari kakaknya.


_


_


_


Rubby Cake's


Rubby memutar-mutar pena di tangannya, pandangannya terlihat hampa. Jemarinya meraba bibirnya, ciuman itu masih terasa.


"Ada apa dengan Mas Firaz ya? Kenapa Mas Firaz tadi pagi menciumku? Mas Firaz juga mau memelukku saat tidur semalam?" Batin Rubby bertanya-tanya. Bukannya tidak senang dengan perubahan suaminya. Rubby merasa sangat senang, tapi ia juga heran kenapa tiba-tiba Arya berubah dan mau menyentuhnya.


"Mba Rubby?"


"Mba Rubby!"


"Ya?!" Seru Rubby yang terkejut, buyar sudah bayangan Arya dari fikirannya.


"Mba melamun?" Tanya Ria yang sedari tadi memanggilnya. Gadis muda itu meletakan kue yang baru saja matang di etalase.


Dilihatnya tadi Rubby yang begitu larut dalam lamunannya, makanya Ria memanggilnya.


"Melamun? Ya mungkin saja." Sahut Rubby asal.


"Apa yang Mba lamun kan?" Tanya Ria penasaran. Tak biasanya atasannya melamun seperti itu.


"Bukan apa-apa." Jawab Rubby sambil menggeleng.


"Mba, aku minta maaf ya." Kata Ria tiba-tiba.


"Minta maaf? Memangnya kau sudah melakukan kesalahan apa?" Tanya Rubby bingung, rasanya pegawainya itu tidak membuat kesalahan hari ini.


"Soal kemarin, dengan suami Mba Rubby." Jawab Ria sambil tersenyum kaku.


"Sudahlah Ria. Tidak apa-apa. Jangan kau fikirkan terus." Sahut Rubby, ia jadi merasa tidak enak dengan pegawainya tersebut.

__ADS_1


"Tapi, Mba. Suami Mba memang benar-benar tampan. Apa suami Mba punya kembaran? Kalau ada kenalkan lah padaku." Seloroh Ria membuat Rubby mengerjapkan matanya.


"Kau ini, apa tidak bisa memikirkan hal lain selain pria tampan?" Sahut Rubby, kini ia menyesal sudah merasa tidak enak tadi


"He..he..he... Tidak, Mba." Jawab Ria sambil tersenyum lebar.


"Ck, sudah kerja sana."


"Siap, Mba." Ria kembali ke dapur.


Sebuah mobil memasuki halaman parkir toko kue Rubby.


"Aku baru tahu ada toko kue di sini." Gumam pengemudi mobil tersebut.


"Mungkin toko ini menjual kue kesukaan Arya." Mega turun dari mobilnya sambil memandangi toko kue itu. Dengan langkah lebar, Mega melangkah masuk.


"Permisi." Sapanya pada seseorang di depan meja kasir.


"Selamat datang di Rubby Cake's. Nona mau pesan a...pa?" Rubby tertegun melihat sosok itu. Seorang wanita tinggi semampai mengenakan dress sabrina selutut dengan rambut cokelat tergerai berdiri di hadapannya.


"Ada kue apa saja di sini?" Tanyanya. Bukannya menjawab Rubby hanya bisa terdiam kaku, memandang sosok itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Maaf, di sini ada kue apa saja ya?" Wanita cantik itu mengulang pertanyaannya.


"Oh, itu... Di sini menjual berbagai macam jenis kue Nona." Jawab Rubby seperti baru tersadar.


"Maaf, anda Megalicha Audrey kan?" Tanya Rubby ragu-ragu.


"Akh, iya. Aku Mega. Kau mengenalku?" Mega balik bertanya.


"Ternyata dia benar Mega. Ya Tuhan, dia cantik sekali." Batin Rubby menatap kagum pada Mega.


"Em... Tidak. Aku hanya pernah melihat Nona beberapa kali tampil fashion show di televisi." Jawab Rubby.


"Oh, begitu." Sahut Mega yang masih fokus pada menu yang di berikan Rubby tadi.


"Bukannya Nona sedang di Paris. Kapan Nona kembali?" Tanya Rubby basa-basi.


"Baru beberapa jam yang lalu. Aku pulang kemari karena ingin bertemu dengan kekasihku." Jawab Mega sambil tersenyum.


"Kekasih? Apa yang di maksudnya adalah Mas Firaz? Apa Mas Firaz tahu kalau Mega sudah kembali?" Batin Rubby.


"Aku mau yang ini saja." Mega menunjuk gambar cake red velvet yang ada di menu.

__ADS_1


"Kekasihku sangat menyukai cake red velvet." Lanjutnya tanpa di tanya. Rubby mengangguk.


"Baik, Nona. Akan aku siapkan. Tolong tunggu sebentar." Jawabnya.


"Mas Firaz menyukai cake red velvet? Kenapa aku baru tahu ya? Mas Firaz juga tidak pernah mengatakan apa makanan kesukaannya padaku. Sementara Mega masih ingat apa cake kesukaan Mas Firaz padahal mereka sudah lama tidak bertemu."


Beberapa saat kemudian.


"Ini Nona pesanan anda." Ucap Rubby sambil menyerahkan satu kotak kue pada Mega.


"Terima kasih. Ini uangnya." Mega menyerahkan beberapa lembar uang pada Rubby.


"Terima kasih atas kunjungannya, Nona." Ucap Rubby sambil tersenyum, Mega membalas senyumnya kemudian berlalu dari sana. Gadis itu kembali ke mobilnya dan meletakan kotak kue di kursi samping.


"Kuenya terlihat lezat, Arya pasti suka. Dan aku sudah tidak sabar melihat ekspresinya melihat kedatanganku." Mega tersenyum sendiri sambil membayangkan wajah kekasihnya.


"Tapi Arya ada di mana ya? Di coffe shop atau rumah makan? Tapi coffe shop jaraknya lebih dekat dari sini. Sebaiknya aku ke sana saja." Mega menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan toko kue itu. Toko kue yang sebenarnya adalah milik dari istri kekasihnya sendiri.


Rubby terduduk lemas di kursinya begitu Mega hilang dari pandangannya.


"Mega sudah kembali... Apa itu artinya Mas Firaz akan kembali padanya dan meninggalkan aku?" Rubby menutup wajahnya, ketakutan itu langsung menyergap dalam fikirannya.


"Baru saja hubunganku dengan Mas Firaz membaik, baru saja Mas Firaz mau menyentuhku, tapi kenapa kekasihnya harus kembali?"


"Dan aku baru saja menyiapkan cake untuk suamiku sendiri yang di beli oleh kekasihnya? Permainan takdir macam apa ini?" Rubby tertawa miris sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Untung saja tadi para pegawainya sedang berada di belakang dan tidak mengetahui kedatangan Mega di sana. Bisa heboh para gadis belia itu kalau melihat Mega.


_


_


_


Coffe Shop Arya


Arya melirik jam yang terpasang di dinding. Ini masih lumayan siang. Tapi pekerjaannya sudah selesai. Ia bingung mau melakukan apa. Mau ke depan, tapi malas jika bertemu dengan Andika yang selalu menguji emosinya.


"Apa aku ke toko kue Rubby saja?" Arya terlihat berfikir.


"Tapi ini masih siang. Rubby juga pasti sedang sibuk di sana."


Arya menghembuskan nafas berat, percuma juga ke tempat Rubby di jam seperti ini. Istrinya itu pasti sedang sibuk dengan para pengunjung di tokonya seperti kemarin.

__ADS_1


Pria itu kemudian memilih untuk merapikan meja kerjanya saja. Tapi perhatiannya mendadak beralih kembali pada selembar kertas yang ada di sana. Ia mengambil dan memandangi kertas itu, gambar sketsa yang Rubby buat.


"Jadi ini gambar sketsa wajahku? Kenapa aku bodoh sekali ya tidak bisa mengenali wajahku sendiri?"


__ADS_2