Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Sama-Sama Patah Hati


__ADS_3

"Maaf tentang semalam." Sambungnya.


"Sudahlah Rubby. Aku hanya ingin kau percaya padaku." Arya menatap dalam pada Rubby. Tangannya terangkat, jemarinya membelai lembut pipi Rubby. Sepasang mata Rubby terpejam menikmati sentuhan lembut di wajahnya, jemari Arya beralih ke bibir ranum istrinya. Diusapnya bibir yang berwarna merah muda itu. Arya mendekatkan wajahnya, matanya ikut terpejam saat bibir mereka saling bertemu. Begitu hangat dan lembut.


Arya mendorong pelan tubuh Rubby hingga terbaring, dan menyatukan kembali bibir mereka yang sempat terlepas. Rubby meraba dada Arya yang berada di atasnya. Merasakan jantung Arya yang berdetak kencang sama sepertinya. Kini ciuman Arya beranjak turun, bibir itu memberi kecupan-kecupan kecil di lehernya tanpa membuat jejak. Tangan Rubby beralih mere*mas rambut Arya karena merasakan sensasi geli di lehernya. Rasa panas mulai menjalar pada tubuh keduanya.


Jemari Arya hendak membuka resleting gamis yang Rubby kenakan, tapi seketika dirinya tersadar. Arya menghentikan ciumannya di leher Rubby, dan menjauhkan tubuhnya. Menekan hasrat yang sudah membumbung tinggi.


Tidak, Arya tidak boleh melakukannya sekarang. Meskipun Rubby terlihat sudah menerima semua sentuhannya. Tapi rasanya tidak akan adil bagi istrinya. Rubby belum mencintainya. Jangankan cinta, Rubby bahkan masih belum bisa percaya sepenuhnya pada dirinya.


Rubby membuka matanya, dilihatnya Arya sedang menatapnya kemudian tersenyum. Arya kembali membelai wajahnya, dan mengecup singkat kening Rubby.


"Kita akan melanjutkannya setelah ada cinta di antara kita." Ucapnya.


Rubby membalas tatapan suaminya, ingin sekali ia mengatakan kalau dirinya sudah lama jatuh cinta pada seorang Arya Firaz. Tapi rasanya terlalu malu untuk mengakui hal itu.


_


_


_


Di sebuah apartemen.


Tirai terbuka, sinar mentari pagi menyorot langsung wajah pria yang masih terlelap dalam tidurnya, membuat dirinya terusik.


"Bara, bangun! Sudah pagi." Seru Mega yang berdiri di dekat Bara. Pria itu menggeliat, kelopak matanya perlahan terbuka. Bara mengerjap-ngerjapkan matanya, dan memijat keningnya yang terasa pusing.


"Di mana ini?" Gumamnya sambil beranjak duduk.


"Apartemenku!" Mega menyahut. Bara menoleh ke arahnya.


"Mega?"


"Iya, ini aku Mega." Mega duduk di sebrang Bara.


"Kenapa aku bisa ada di sini? Apa yang terjadi?" Bara masih memijat keningnya, ia belum bisa mengingat apa yang sudah terjadi dengan dirinya sendiri hingga berakhir di apartemen Mega.

__ADS_1


"Semalam kau mabuk berat. Kau menyebrang jalan sembarangan, untung saja aku tidak menabrakmu. Tadinya aku ingin meninggalkanmu di jalanan, tapi aku tak tega. Akhirnya aku membawamu ke sini." Mega menjelaskan, Bara terlihat berfikir. Perlahan pria itu mulai ingat kejadian semalam.


Dirinya memang mabuk, dan itu pertama kalinya dia mabuk. Semua karena rasa patah hati akibat penolakan Rubby dan juga ternyata sahabatnya sendiri yang sudah menikahi gadis pujaannya.


"Terima kasih telah menolongku, Mega." Ucapnya tulus.


"Kalau kau bukan teman kuliahku dulu, aku tidak mau menolongmu." Sahut Mega. Bara hanya diam tanpa menjawab. Mega memang biasa bicara tanpa di saring dulu, kecuali jika bicara dengan Arya.


"Sejak kapan kau minum alkohol?" Tanya Mega.


"Sejak semalam." Jawab Bara.


"Hah, apa yang membuatmu sampai mabuk begitu?"


Bara tak menjawab, hanya mengusap kasar wajahnya saja.


"Bara, semalam kau terus menerus menyebut nama Rubby. Siapa Rubby?" Lanjut Mega sambil menatap intens pada Bara, ia penasaran sejak semalam Rubby mana yang Bara maksud. Bara menoleh ke arahnya, wajahnya berubah suram.


"Rubby...? Dia gadis yang ku cintai..." Lirih Bara.


"Ya, kemarin aku melamarnya. Tapi ternyata dia sudah menikah." Jawab Bara sendu.


"Jadi itu yang membuatmu mabuk? Apa kau tidak tahu kalau gadis itu sudah menikah?" Mega semakin penasaran. Bara menggeleng.


"Ya, aku tidak tahu kalau dia..." Ucapan Bara terputus karena teringat sesuatu.


"Hei, apa kau tahu kalau Arya sudah menikah?" Bara balik bertanya. Mega mengerutkan keningnya.


"Kenapa jadi membahas Arya?" Tanyanya.


"Karena Rubby menikah dengan Arya!" Tandas Bara. Mega langsung terbelalak, benar dugaannya. Rubby yang di maksud Bara adalah Rubby yang sama.


"Aku sudah tahu! Arya memutuskan hubungan denganku beberapa hari yang lalu dan bilang kalau dia sudah menikah." Seloroh Mega.


"Jadi kalian benar-benar sudah putus? Hah, sulit untuk di percaya. Aku sudah lama menyukai Rubby. Tapi ternyata kekasihmu malah menikahinya." Kata Bara. Keduanya terdiam sejenak.


"Jadi kita sama-sama patah hati?" Tanya Bara kemudian.

__ADS_1


"Ya." Jawab Mega.


"Tapi aku tidak bodoh sepertimu!" Tambah Mega. Dirinya sebenarnya merasa heran, kenapa Bara bisa menyukai wanita yang berpenampilan kuno seperti Rubby. Bahkan hingga mabuk seperti semalam.


"Bodoh? Kau bilang aku bodoh?" Tanya Bara yang mulai tersulut emosi.


"Kalau bukan bodoh apa namanya?" Balas Mega tak mau kalah.


"Semalam kau bisa saja mati konyol karena tertabrak! Untung saja aku masih sempat mengerem mobilku!" Serunya. Bara mengusap kasar wajahnya, benar juga yang di katakan wanita itu.


"Kau tidak tahu apa yang ku rasakan, aku sudah lama memendam perasaan pada Rubby. Aku sudah mempersiapkan semuanya, mencari waktu yang tepat untuk melamarnya. Tapi aku malah mendapatkan fakta dia sudah menikah dengan sahabatku sendiri." Sanggahnya.


"Lalu bagaimana dengan diriku? Aku dan Arya sudah lama berpacaran, aku sengaja pulang kemari untuk menemuinya. Tapi ternyata ia malah memutuskan hubungan kami, dan menikah dengan wanita lain." Balas Mega tak mau kalah.


Bara membuang nafas berat, sekali lagi wanita itu benar. Mega pasti lebih sakit hati di banding dirinya. Tanpa ia tahu, Mega yang sudah lebih dulu mengkhianati Arya.


"Mega, apa kau punya makanan? Aku lapar." Tanya Bara tiba-tiba. Mega langsung menatap datar padanya.


"Kau benar-benar menyusahkanku!" Gerutu Mega. Namun tetap memberikan sarapan yang memang sudah ia sediakan pada temannya itu.


Keduanya tengah menikmati sarapan bersama.


"Biasanya orang patah hati itu tidak selera makan." Celetuk Mega yang melihat Bara makan begitu lahap.


"Aku lapar, masalah sakit hati bisa di sambung nanti." Timpal Bara dengan mulut penuh makanan. Mega hanya bisa menganga mendengarnya.


"Jadi hubunganmu dengan Arya benar-benar sudah berakhir?" Tanya Bara kemudian.


"Ya, tapi aku tak akan tinggal diam." Sahut Mega.


"Maksudmu?"


Mega terlihat berfikir, dan sebuah ide langsung terlintas di fikirannya. Sepertinya ia bisa memanfaatkan temannya itu.


"Kau sendiri bagaimana? Apa kau mau merelakan Rubby begitu saja?" Mega balik bertanya.


"Aku mungkin bisa merelakan jika Rubby menikah dengan orang yang tidak ku kenal." Jawab Bara dengan sedikit emosi. Mega tersenyum dalam hati, itu artinya Bara tidak merelakan Rubby untuk Arya. Ini bisa jadi kesempatan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2