
"Tak ku sangka, ternyata Kak Arya adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia mengatakan semuanya pada ayah dan bunda." Kata Intan.
"Tentu saja Kak Arya harus bertanggung jawab karena semua ini memang salahnya." Timpal Andika.
"Dika, kau ini..."
"Jangan memuji lelaki lain di depanku Intan. Meskipun itu adalah kakakku sendiri." Andika cemberut.
"Astaga, Andika Farzan! Kau ini, masa cemburu hanya karena aku berkata seperti itu."
"Tentu saja aku cemburu. Asal kau tahu, aku juga lelaki yang bertanggung jawab, Intan. Buktinya aku menikahimu walaupun harus menerima pukulan dari Mama dan Kak Arya." Sahut Andika tak mau kalah.
"Iya, iya. Kau bertanggung jawab lebih dari Kak Arya. Kau puas?" Kata Intan, lebih baik mengalah saja daripada suaminya itu terus-terusan cemberut.
"Sudah, jangan bahas Kak Arya lagi. Biar itu menjadi urusan mereka. Sekarang kita selesaikan urusan kita sendiri." Tukas Andika sambil menarik istrinya ke tempat tidur.
"Urusan apa?" Tanya Intan bingung, tapi tetap mengikuti langkah suaminya.
"Aku ingin menjenguk anak kita." Andika mendorong pelan tubuh Intan hingga berbaring dan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dari tadi. Tapi niatnya tertunda karena kedatangan Arya dan istrinya lebih memilih untuk mengajaknya mengintip apa yang Arya dan kedua orang tuanya bicarakan.
Jika para adik sedang memadu kasih, para kakak sedang galau dengan fikirannya masing-masing.
Arya duduk merenung di dalam mobilnya. Ia baru saja sampai di halaman rumahnya.
"Jadi Rubby tidak pernah membenciku? Dan semua yang dikatakannya karena Rubby merasa dirinya sudah tidak pantas untukku...."
"Kenapa kau tidak membenciku Rubby? Setidaknya kalau kau membenciku, itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu."
"Kenapa kau begitu sempurna sebagai seorang istri? Sedangkan aku... Aku tidak bisa menjadi suami yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa membuatmu menangis, dan juga membuatmu disakiti oleh orang lain..."
"Jika suatu hari nanti aku membuatmu menangis lagi, aku akan melepasmu..."
Tok. Tok. Tok. Ketukan di kaca jendela mobil menyadarkan Arya dari acara melamunnya. Arya segera membuka pintu mobilnya.
"Kenapa di mobil saja?" Tanya Mama Dewi. Arya diam saja, hanya terdengar helaan nafas berat darinya.
"Bagaimana? Apa kau berhasil meminta maaf dan membujuk istrimu?" Tanya Mama Dewi lagi.
"Besok Arya akan menjemput Rubby, Ma. Tadi Arya belum sempat bertemu dengan Rubby." Jawab Arya, senyum langsung mengembang di wajah Mama Dewi.
"Tapi Rubby sudah memaafkanmu dan bersedia tinggal bersama lagi denganmu kan?" Tanya Mama Dewi memastikan.
"Kita lihat besok saja, Ma." Jawab Arya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
_
__ADS_1
_
_
Keesokkan harinya.
Mama Dewi menyandarkan kepala menantunya di bahunya.
"Mama senang akhirnya kau mau kembali bersama Arya." Ucapnya sambil mengelus lembut lengan Rubby.
"Maafkan Rubby, Ma..."
"Jangan minta maaf, sayang. Kau tidak salah sama sekali."
"Tapi Rubby sudah bicara kasar pada Mas Firaz beberapa hari ini..."
"Arya pasti mengerti." Mama Dewi mengecup pelipis menantunya.
Mama Dewi memutuskan menemui Rubby terlebih dahulu, baru sore nanti pulang bersama Arya.
"Aku senang akhirnya Kak Rubby dan Kak Arya bisa bersama kembali." Ucap Intan yang juga berada di ruang tamu.
"Dan aku berharap, Kak Rubby dan Kak Arya bisa terus bersama selamanya." Doa Intan tulus yang di amini oleh para orang tua dan juga Rubby.
"Semoga setelah ini hubungan Arya dan Rubby akan semakin membaik." Imbuh Bunda Maya.
"Aamiin..." Jawab serentak semua orang yang ada di ruang tamu. Sedangkan wajah Rubby terlihat merona, kenapa selalu hal itu yang di bahas? Dirinya dan Arya bahkan belum melakukan malam pertama.
_
_
_
Arya merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang, dirinya akan pulang cepat hari ini karena akan menjemput istrinya. Sebenarnya kemarin Arya ingin sekalian meminta Rubby untuk ikut pulang dengannya, tapi Bunda Maya bilang kalau Rubby sedang tidur. Karena tidak ingin mengganggu dan waktu juga sudah cukup malam jadi Arya memutuskan untuk menjemput Rubby keesokkan harinya.
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan Arya.
"Masuk!" Sahutnya.
"Kak Arya..." Sapa Andika setelah menutup pintu ruangan Arya.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Arya, rasanya ia tidak memanggil adiknya itu.
"Tidak mau apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja." Kata Andika menjawab.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Arya menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya.
"Kak Arya jadi menjemput Kak Rubby?" Tanya Andika yang berdiri di samping Arya.
"Ya, ini aku sedang bersiap-siap." Jawabnya. Andika mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kak..." Panggilnya.
"Apa Dika?"
"Jangan buat Kak Rubby menangis lagi. Hargai Kak Rubby sebagai istri Kakak..." Ucap Andika, wajahnya berubah sendu.
"Tentu, tanpa kau pinta pun aku tidak akan menyakitinya lagi." Sahut Arya, menatap lekat adiknya.
"Ya, semoga saja."
"Kau ragu dengan kakakmu sendiri?"
"Bukan begitu, Kak. Hanya saja aku tidak tega jika melihat Kak Rubby menangis. Kak Rubby wanita yang sangat baik, sangat tidak pantas untuk di sakiti."
Terdengar helaan nafas panjang dari Arya.
"Kau tenang saja. Yang terjadi kemarin sungguh di luar dugaanku. Tapi kini aku berjanji, aku tidak akan membuatnya menangis lagi. Dan bila aku membuatnya menangis lagi, aku akan melepaskannya."
Andika menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Arya.
"Kenapa bicara seperti itu, Kak?" Tanyanya.
"Sesuai katamu tadi, Rubby adalah wanita yang sangat tidak pantas untuk di sakiti." Jawab Arya. Andika terdiam mencoba mencerna ucapan kakak laki-lakinya.
"Sudah, Kakak harus pergi. Kakak mau menjemput Rubby sekarang." Arya mengambil kunci mobilnya di atas meja.
"Kau bekerja yang benar, ingat ini masih jam kerja." Pesan Arya sebelum pergi dari ruangannya. Sedangkan Andika masih terdiam di tempatnya.
"Kak Arya akan melepas Kak Rubby?" Andika bertanya-tanya dalam hati.
_
_
_
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang, jalan belum terlalu macet, bisa di bilang cukup sepi.
"Semoga setelah ini hubunganku dengan Rubby menjadi lebih baik. Tidak ada lagi yang mengganggu hubungan kami, dan kami bisa menjadi keluarga seutuhnya..." Doa Arya dalam hati sambil terus melajukan mobilnya.
__ADS_1
Tapi mendadak Arya merasakan sesuatu yang tidak beres pada mobilnya, hingga menepikannya di pinggir jalan. Arya langsung turun dan memeriksanya, terlihat salah satu ban mobilnya kempes.
"Bannya bocor?" Arya membuang nafas berat, kenapa ada-ada saja? Mau tak mau ia harus menggantinya sendiri. Padahal perjalan masih cukup jauh. Rasanya belum lama ia mengalami bocor ban juga, dan berakhir dengan kejadian naas yang menimpa Rubby karena ia telat menjemputnya. Tapi kini Rubby sedang berada di rumah Ayah Bakti, istrinya itu pasti aman.