
"Ayo kita makan. Semuanya sudah kami siapkan." Kata Bunda Maya.
Makan siang berlangsung hangat di selingi dengan obrolan ringan.
"Apa kalian akan menginap di sini?" Tanya Ayah Bakti begitu makan siang selesai.
"Sepertinya tidak, Ayah. Kasihan Mama sendirian di rumah." Jawab Arya. Mereka memang memilki pelayan, tapi tidak tinggal di sana. Bunda Maya terlihat kecewa, mereka belum pernah menginap setelah menikah.
"Kalau begitu, biar mamamu menginap di sini juga." Bunda Maya ikut bicara.
"Tapi Arya belum bilang apa-apa pada mama, Bunda." Sahut Arya.
"Nanti biar Bunda yang bilang, mamamu pasti tidak akan menolak."
"Ya sudah bagaimana Bunda saja." Arya menurut saja.
_
_
_
Rubby menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, rasanya ia begitu merindukan kasur dan kamarnya.
"Aku lupa, aku tidak membawa baju ganti." Kata Arya yang duduk di sisi tempat tidur.
"Pakai bajuku saja, Mas." Celetuk Rubby. Arya langsung menoleh ke arahnya.
"Kau bilang apa?" Tanya Arya datar.
"Pakai bajuku." Ulang Rubby menahan senyumnya.
"Kau fikir aku wanita." Arya langsung menyerang Rubby. Menggelitiki pinggang rampingnya. Rubby tak bisa menahan tawanya.
"Mas Firaz, hentikan." Rubby mencoba melepaskan diri.
"Tidak mau." Arya makin gencar menggelitiki istrinya. Rubby yang sudah tak tahan, beranjak duduk tapi Arya mencegahnya.
"Mau ke mana?" Tanyanya.
"Ampun, Mas." Ucap Rubby di sela tawanya yang pecah. Tanpa sadar tubuh Arya kini berada di atas tubuh istrinya. Kedua pasang mata itu bertemu dan saling menatap dalam. Arya menghentikan gerakan tangannya, tatapan mata Rubby seakan menghipnotisnya. Suasana kamar yang tadi penuh suara tawa Rubby, sunyi seketika.
Tangannya kini beralih membelai wajah Rubby yang tanpa kacamata, gadis itu tadi melepas dan meletakkan kacamatanya di atas nakas. Kini suara detak jantung terdengar jelas. Rubby gugup, ia menggigit bibir bawahnya dan itu malah terlihat seksi di mata Arya.
__ADS_1
Jemari Arya beralih ke bibir Rubby. Bibir yang sudah dan pertama kali dikecupnya. Detak jantung Rubby semakin menggila, dengan susah payah ia menelan salivanya.
Tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, namun perlahan Arya mendekatkan wajahnya hendak mencium kembali bibir ranum istrinya.
Tapi tiba-tiba saja pintu kamar Rubby terbuka.
"Arya, Rubby..." Mama Dewi mematung di ambang pintu dengan wajah terkejut melihat posisi anak dan menantunya yang begitu intim. Arya dan Rubby tak kalah terkejutnya, secepat kilat Arya bangkit dari tubuh istrinya.
"Mama, kenapa tidak ketuk pintu dulu?!" Seru Arya, kesal sekaligus malu. Untuk saja bibir mereka belum saling bertemu tadi.
"Salah sendiri kenapa pintunya tidak di kunci." Sahut Mama Dewi berjalan menghampiri anak dan menantunya.
"Kalian...." Mama Dewi tidak melanjutkan ucapannya, tapi wajahnya terlihat seolah menggoda pasangan suami istri tersebut.
"Apa Mama? Sebentar, kenapa Mama bisa ada di sini?" Tanya Arya yang baru sadar, kapan Mamanya itu tiba di rumah mertuanya?
"Mama baru saja sampai. Tadi Bunda Maya yang menelepon Mama. Dia bilang kalau kau dan Rubby akan menginap dan meminta Mama menginap juga. Jadi Mama langsung kemari." Cerita Mama Dewi.
"Ini, Mama membawakan baju gantimu." Mama Dewi menyerahkan paper bag yang di bawanya. Niatnya ke kamar Rubby memang untuk memberikan baju ganti untuk putranya, tapi dirinya malah melihat adegan mesra itu.
"Terima kasih, Ma." Arya menerimanya.
"Padahal aku mau menjemput Mama kalau Mama jadi menginap di sini. Tapi Mama sudah datang." Lanjut Arya.
"Aku mau ke kamar mandi saja." Arya berjalan menuju kamar mandi.
"Arya, jangan melakukannya di kamar mandi. Ada istrimu di sini." Celetuk Mama Dewi yang langsung menghentikan langkah Arya yang baru mencapai pintu.
"Apa maksud Mama? Aku ingin mandi, tentu saja di kamar mandi." Kata Arya bingung.
"Oh, Mama kira kau mau bermain solo." Timpal Mama Dewi. Arya mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Rubby.
"Bermain solo? Apa itu?" Arya semakin bingung. Mama Dewi menepuk keningnya, putranya itu masih saja polos ternyata.
"Sudah, sudah. Kau tidak perlu tahu. Mandi sana." Mama Dewi mendorong tubuh Arya masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Ia kembali menghampiri menantunya.
"Ma, bermain solo itu apa?" Rubby ikutan bertanya membuat Mama Dewi tercengang. Suami istri ini sama polosnya.
"Jangan di bahas, Rubby. Bahaya." Jawab Mama Dewi sekenanya. Rubby masih menatapnya penuh tanya.
"Oh ya, bagaimana sekarang sikap Arya padamu?" Mama Dewi mengalihkan pembicaraan.
"Em... Sikap Mas Firaz masih sama saja. Memangnya kenapa, Ma?" Rubby balik bertanya.
__ADS_1
"Arya masih belum mau menyentuhmu?" Tanya Mama Dewi lagi.
"Oh itu..." Terlihat Rubby bingung menjawabnya. Belakangan ini Arya sudah mau menyentuhnya. Memeluk bahkan mencium bibirnya.
"Kenapa Rubby? Kau malah terlihat bingung begitu." Mama Dewi memperhatikan ekspresi menantunya.
"Mas Firaz sudah mau menyentuhku..." Jawab Rubby malu-malu.
"Benarkah? Sudah sampai mana?" Tanya Mama Dewi antusias.
"Em... Peluk." Jawab Rubby pelan. Ia malu jika menjawab dirinya dan Arya sudah pernah berciuman.
"Hanya peluk? Lalu bagaimana dengan hubungan suami istri? Kalian sudah melakukannya?" Mama Dewi terlihat penasaran. Rubby menggeleng pelan. Raut wajah Mama Dewi langsung berubah kecewa.
"Mama kira kalian sudah melakukannya. Tapi tak apa, setidaknya ada kemajuan. Cepat atau lambat kalian pasti akan melakukannya." Ujarnya yakin.
"Kenapa Mama ingin sekali kami melakukan itu?" Tanya Rubby malu namun penasaran.
"Rubby, hal itu penting untuk suami istri. Dengan melakukannya, hubungan kalian akan semakin mesra. Dan bukan tidak mungkin nantinya ada cinta yang hadir di antara kalian karena kalian semakin dekat dan bergantung satu sama lain." Mama Dewi menjelaskan.
Rubby hanya mengangguk, tanpa melakukannya nyatanya Rubby sudah jatuh cinta pada Arya pada pandangan pertama. Dan rahasia itu masih Rubby simpan sampai sekarang, tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
"Mama temui bundamu dulu ya." Mama Dewi bangkit dari duduknya.
"Iya, Ma."
_
_
_
Malam harinya.
"Jadi begitu ceritanya?" Tanya Intan, Rubby mengangguk. Dirinya baru saja menceritakan tentang Mega pada Intan, ia tahu adiknya itu pasti akan memikirkan soal ini. Maka dari itu ia datang ke kamar adiknya dan menceritakan semuanya, tanpa ada Andika tentunya.
"Tapi hubungan Kak Arya dan Mega sudah benar-benar berakhir kan, Kak?" Tanya Intan memastikan.
"Iya, Intan. Kakak melihatnya sendiri saat Mas Firaz mengucapkan itu." Jawab Rubby.
"Lalu bagaimana perasaan Kakak sekarang?"
"Yah... Kakak merasa lega, setidaknya status Kakak untuk Mas Firaz sekarang sudah jelas."
__ADS_1
"Maaf ya, Kak." Intan menggenggam tangan Rubby.