
Di rumah sakit.
Indah sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya, pandangannya terlihat hampa. Ia tidak sadar jika seseorang tengah memperhatikannya di ambang pintu.
"Kasihan gadis itu. Nasibnya sama sepertiku, tapi dia sudah lama memendam cinta rasanya pasti lebih menyakitkan." Gumam Dokter Malik namun hanya dalam hati. Ia mengayunkan kakinya melangkah masuk.
"Indah..." Sapanya membuat gadis cantik itu menoleh.
"Kau sendiri? Di mana Indra?" Tanyanya.
"Kak Indra sedang pergi sebentar, Dok." Jawab Indah yang kembali mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Jangan melamun." Ucap Dokter Malik yang sudah berdiri di samping Indah. Gadis itu menghela nafas kasar.
"Aku hanya memikirkan nasibku. Kenapa nasib baik tidak pernah berpihak padaku? Aku harus kehilangan orang tuaku di saat aku masih sangat membutuhkan kehadiran mereka. Aku juga harus menderita sakit parah hingga beberapa tahun lamanya. Dan saat aku sudah sembuh, aku ingin bersama dengan orang yang ku cintai tapi lagi-lagi nasib baik tidak berpihak padaku." Ucapnya sendu.
"Bukan nasib baik yang tidak berpihak padamu, Indah. Tapi memang belum saatnya. kelak kau pasti akan bahagia suatu hari nanti, kau harus yakin akan ada cinta yang benar-benar tulus untukmu." Ucap Dokter Malik menghibur gadis di sampingnya. Indah menghela nafas kasar, ia kembali menatap Dokter Malik.
"Bagaimana cara Dokter melupakan rasa sakit hati saat Rubby menolakmu?" Tanyanya.
"Aku hanya mencoba untuk ikhlas, aku sadar jika cinta tidak bisa di paksakan. Dan dengan melihat wanita yang ku cintai tersenyum bahagia, itu sudah cukup untukku." Jawab Dokter Malik.
__ADS_1
"Apa aku bisa sepertimu?" Tanya Indah lagi.
"Ku yakin kau pasti bisa, Indah." Timpal Dokter Malik menatap intens pada Indah.
"Kau cantik, Indah. Pasti ada banyak pria yang menyukaimu di luar sana." Tambahnya.
"Ya, mungkin. Tapi untuk mendapatkan yang benar-benar tulus itu yang sulit." Sahut Indah. Keduanya terdiam dan saling menatap lekat. Mereka tidak sadar dengan dua pasang mata yang memperhatikannya.
Beberapa menit yang lalu Arya dan Rubby baru saja sampai di rumah sakit.
"Mas." Rubby menghentikan langkah suaminya yang baru mencapai pintu.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Arya dengan berbisik juga.
"Sepertinya mereka sedang pandang-pandangan, Mas." Sahut Rubby.
"Mereka terlihat cocok." Tambah Rubby.
"Tadi Indra yang menatap Mei tanpa berkedip, dan sekarang adiknya. Apa mereka berdua sedang jatuh cinta bersamaan?" Tanya Arya lagi.
"Sepertinya begitu, tapi bukannya itu bagus?" Rubby balik bertanya.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Tapi ini jadinya bagaimana? Apa kita tetap di sini, masuk atau pulang lagi?" Tanya Arya bingung, sedari tadi mereka hanya bisik-bisikan saja di depan pintu.
"Tentu saja kita masuk, Mas. Masa kita pulang lagi? Tadi Tuan Indra kan bilang kalau Indah ingin bicara dengan kita." Tukas Rubby.
"Ya sudah, ayo kita masuk." Arya menarik tangan istrinya.
"Mas, nanti dulu." Rubby hendak mencegah suaminya, ia tidak ingin mengganggu Indah dan Dokter Malik. Tapi Arya sudah lebih dulu menariknya masuk ke ruangan itu.
"Assalamuala'ikum." Arya mengucap salam mengejutkan dua insan itu. Buyar sudah momen saling tatap antara Indah dengan Dokter Malik.
"Waalaikumsalam." Jawab Indah dan Dokter Malik bersamaan, mereka berdua nampak salah tingkah.
"Mas Firaz ini tidak peka sama sekali, ganggu mereka saja." Rubby menggerutu dalam hati.
"Arya, Rubby? Kalian di sini? Kapan kalian sampai?" Tanya Dokter Malik, pria itu mencoba bersikap biasa saja.
"Ya, kami sampai sejak kalian berdua pandang-pandangan." Jawab Arya apa adanya, entah jujur atau menyindir.
*****
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊
__ADS_1