
Malam harinya.
Arya menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mereka baru saja selesai makan malam. Rubby duduk di sampingnya.
"Apa kaki Mas masih sakit? Mau ku pijat lagi?" Tanyanya. Arya mengangguk.
"Boleh." Jawabnya. Tidak ada salahnya kembali menikmati pijatan seorang istri. Fikir Arya. Walaupun sebenarnya kakinya sudah tak sakit lagi.
Rubby mulai memijat kaki suaminya. Arya memandangnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
"Rubby, gadis polos dan apa adanya. Rubby begitu cantik walaupun tanpa make up. Dan Rubby adalah milikku, dia istriku." Batin Arya menggumam. Arya beranjak duduk dari posisi awalnya yang berbaring.
"Kenapa Mas? Apa pijatanku tidak enak?" Tanya Rubby, tangannya menghentikan kegiatannya.
"Tidak. Lanjutkan lagi memijatnya." Pinta Arya. Rubby menurut, dan kembali melanjutkan pijatannya di kaki suaminya.
"Rubby, aku tidak ingin melihatmu dekat dengan lelaki lain." Ucap Arya setelah beberapa saat keduanya terdiam. Rubby menoleh, sepasang alisnya nampak saling bertaut.
"Dekat dengan lelaki lain? Aku tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, Mas." Ujarnya heran.
"Ya, mungkin kau merasa seperti itu. Tapi tidak dengan para lelaki itu." Tukas Arya.
"Siapa yang Mas bicarakan?" Raut wajah Rubby terlihat penuh tanya.
"Siapa saja. Pokoknya aku tidak mengizinkanmu dekat dengan lelaki manapun karena kau istriku." Ucap Arya penuh penekanan. Rubby menatap heran pada suaminya, tapi kemudian ia mengangguk pelan.
"Iya, Mas." Jawabnya.
"Sudah. Sebaiknya kau istirahat. Ini sudah malam." Ucap Arya kemudian.
"Iya, Mas."
Rubby beranjak ke meja riasnya, dan mulai melepas hijabnya.
"Siapa sebenarnya yang Mas Firaz maksud?" Rubby bertanya-tanya dalam hati.
"Mas Firaz melarangku dekat dengan pria lain padahal aku tidak pernah dekat dengan siapa pun. Sedangkan Mas Firaz? Dia masih berhubungan dengan Mega, bahkan mengigau namanya..." Batin Rubby.
_
_
_
Walaupun hanya cahaya temaram yang menyinari kamar, Arya masih bisa melihat dengan jelas wajah istrinya. Perlahan jemarinya membelai wajah itu dengan sentuhan seringan bulu.
"Kenapa hatiku rasanya tidak terima saat ada pria lain yang memuji-muji dirimu? Kenapa rasanya aku kesulitan bernafas saat pria lain mengatakan kalau dia menyukaimu?"
__ADS_1
Arya menatap dalam wajah polos itu, sedetik kemudian ia tersentak.
"Apa aku cemburu? Dan tanpa sadar aku sudah jatuh cinta padamu?"
Pemuda itu terdiam, apa benar dirinya sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri?
Rubby terlihat bergerak pelan, mungkin karena merasakan sentuhan di wajahnya. Tapi bukannya berhenti, jemari Arya masih membelai wajah itu.
Sepasang netra Rubby mengerjap.
"Mas?"
"Kenapa bangun? Apa aku mengganggumu?" Tanya Arya.
Mata Rubby melirik pada jemari Arya yang berada di wajahnya.
"Tidak, kenapa Mas belum tidur?" Rubby balik bertanya.
"Tidak apa-apa." Arya menyingkirkan guling yang selama ini menjadi penghalang di antara mereka. Kemudian meraih Rubby ke dalam pelukannya. Gadis itu sempat terkejut dengan perlakuan suaminya.
Cup.
Satu kecupan hangat mendarat di kening Rubby, membuat gadis itu kembali terkejut. Arya menyandarkan kepala istrinya di dadanya.
"Tidurlah, ini masih tengah malam." Ucapnya dengan berbisik.
"Semoga saja ini bukan mimpi. Kalaupun ini mimipi, aku tidak pernah ingin bangun lagi." Rubby mengangkat tangannya dan membalas pelukan suaminya. Rasa nyaman begitu terasa baginya. Ini yang ia inginkan sejak awal pernikahan mereka, Arya memeluknya ketika tidur. Tubuhnya semakin tenggelam dalam pelukan Arya.
_
_
_
Suara alarm ponsel membuat Arya terbangun, di raihnya ponsel itu dan mematikan alarmnya. Dilihatnya Rubby yang masih berada dalam pelukannya, itu artinya sepanjang malam mereka berdua tidur berpelukan.
Arya mencoba memindahkan tangannya yang di jadikan bantal oleh Rubby, tapi gerakannya malah membuat Rubby terbangun.
"Mas? Apa sudah masuk waktu subuh?" Tanya Rubby sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Ya, alarm di ponselmu sudah berbunyi tadi." Jawab Arya. Rubby beranjak bangun dari tidurnya. Diikatnya asal rambut panjangnya. Tapi itu malah membuatnya terlihat seksi di mata Arya, suaminya itu bahkan tak berkedip saat melihatnya.
"Aku mandi duluan ya, Mas." Pamit Rubby sambil beranjak ke kamar mandi.
"Kenapa Rubby jadi terlihat sangat seksi? Rasanya kemarin-kemarin aku melihatnya biasa saja. Kecuali saat dia memakai lingerie dari Mama." Gumam Arya kemudian bangun dari tidurnya.
"Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta pada Rubby. Tapi bagaimana perasaan Rubby padaku? Apa dia akan membalas perasaanku jika tahu kalau aku mencintainya?"
__ADS_1
Sementara itu di kamar mandi. Wajah Rubby terlihat merona di pantulan cermin, mengingat semalam Arya mencium dan juga memeluknya saat tidur.
"Semoga setelah ini setiap malam Mas Firaz memelukku dan tidak ada jarak lagi di antara kami." Ucap Rubby dengan senyum penuh harap.
_
_
_
Rubby kembali melipat mukena begitu selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama suaminya.
"Kau mau ke mana?" Tanya Arya yang melihat Rubby hendak beranjak dari kamar.
"Aku mau membuat sarapan, Mas." Jawab Rubby.
"Tidak perlu, sudah ada pelayan yang melakukan itu." Arya duduk di sisi tempat tidur.
"Kemarilah." Panggilnya. Rubby menurut dan menghampiri suaminya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Rubby yang sudah berdiri di hadapan Arya.
"Temani aku tidur sebentar." Arya kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ya?" Rubby malah terbengong mendengar permintaan suaminya. Tak biasa sekali Arya memintanya di temani tidur kembali.
"Kemari, Rubby." Arya menepuk tempat kosong di sampingnya. Walaupun ragu Rubby kembali mendekat, kemudian ikut berbaring di samping Arya.
"Buka hijabmu." Pinta Arya. Rubby pun membuka hijabnya. Jemari Arya perlahan menyentuh dan membelai lembut wajah di hadapannya, Rubby menggigit bibir bawahnya. Mau apa sebenarnya suaminya itu?
"Apa kau takut?" Tanya Arya yang menyadari wajah istrinya berubah memucat.
"Ti.. Tidak, Mas. Aku... Hanya gugup saja." Jawab Rubby terbata-bata. Arya menyunggingkan senyumnya. Istrinya itu lucu sekali. Padahal tiap hari mereka sudah tidur bersama, tapi malah terlihat gugup begitu padahal ia baru menyentuh wajahnya saja.
"Bagaimana kalau aku mencium bibirmu?" Tanya Arya dengan nada menggoda, jemarinya berpindah ke bibir merah milik Rubby. Seketika Rubby membelalakan matanya dan langsung terduduk.
"Jangan lakukan itu." Ucap Rubby.
"Kenapa?" Arya ikut bangun dan terduduk.
"Karena Mas masih mencintai wanita lain. Jadi jangan pernah mencium bibirku, jika Mas masih menyebut nama wanita lain." Ujar Rubby, pandangannya berubah sendu. Mengingat kembali malam di mana Arya yang terus mengigau nama Mega.
"Wanita lain? Apa Mega yang kau maksud?"
"Ya." Rubby menundukkan pandangannya, namun Arya meraih dagunya hingga keduanya kembali bertatapan.
"Dengar, Rubby. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Mega." Kata Arya, Rubby menggeleng pelan.
__ADS_1