
Tanya Arya, terdengar begitu tegas. Andika menelan salivanya dengan susah payah, kakaknya itu lumayan 'jahat' juga ternyata.
"Potong gaji saja, Pak." Jawab Andika pasrah. Daripada dirinya di pecat, potong gaji masih lebih baik. Mencari pekerjaan sekarang sangat sulit. Apalagi dirinya hanya lulusan SMA.
"Ya sudah, kembali bekerja sana." Usir Arya.
"Iya, Pak." Sahut Andika yang kemudian memutar langkahnya.
"Hah, mentang-mentang dia bos nya. Enak sekali memotong gajiku." Gerutunya.
"Kau bilang apa?" Suara Arya menghentikan langkah Andika yang baru mencapai pintu.
"Tidak, Pak. Saya tidak bilang apa-apa." Andika menggeleng cepat. Jangan sampai ia menambah masalah lagi, bisa-bisa dirinya tak mendapat gaji bulan ini.
"Nanti siang belikan aku makan siang." Perintah Arya.
"Baik, Pak Arya." Jawab Andika dengan senyum lebar di wajahnya berbeda dengan hatinya yang mengerutu setengah mati. Ia langsung keluar dari ruangan itu.
*****
Siang harinya...
Tok, tok, tok.
Andika mengetuk pintu ruangan Arya, tapi tak ada reaksi apapun dari dalam.
"Apa Kak Arya sedang keluar ya?" Gumam Andika.
"Lebih baik aku masuk saja."
Klek, Andika membuka pintu itu. Pandangannya mengedar, dan dilihatnya Arya sedang berbaring di atas sofa.
"Lihat, kakakku tersayang itu malah tidur. Padahal aku sudah membawakan makan siang untuknya." Andika menggerutu, ia meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja. Lalu membangunkan Arya.
"Kak. Bangun, Kak." Andika mengguncang pelan tubuh kakaknya. Namun tak ada reaksi apapun dari Arya.
"Sebentar." Andika merasa ada yang aneh. Ia kemudian memeriksa suhu tubuh Arya.
"Kak Arya demam." Ujarnya ketika merasakan suhu tubuh Arya lebih panas darinya.
"Kak, bangun." Ia kembali membangunkan Arya. Membuat Arya membuka sedikit matanya.
"Andika? Kepalaku pusing, kau jangan menggangguku." Ucap Arya begitu lirih. Tubuhnya benar-benar terasa tak bertenaga. Kepalanya pusing, tangan dan kakinya pun sakit karena jatuh tadi pagi.
"Tapi aku membawakan makan siang untuk Kakak." Ujar Andika lagi.
"Ck, taruh saja di meja." Arya berdecak, Andika mengganggu saja. Batinnya.
"Sudah, Kak." Jawab Andika yang masih berdiri di samping kakaknya.
"Ya sudah keluar sana." Arya kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kakak sakit? Aku telepon Kak Rubby ya supaya merawat kakak di sini."
Sontak mata Arya terbuka, ia langsung bangun dari tidurnya. Nampak Andika meraih ponsel dari saku bajunya hendak menghubungi Rubby.
"Tidak perlu." Cegah Arya.
"Tapi Kakak kan..." Andika terlihat ragu, bagaimanapun ia khawatir dengan kondisi Arya.
"Aku bilang tidak perlu, Dika. Kau menelepon Rubby, ku pecat kau sekarang juga." Tukas Arya. Andika menelan salivanya dengan kasar. Kakaknya itu senang sekali menggunakan pemecatan sebagai ancamannya sekarang.
"Baiklah..." Andika menyimpan kembali ponselnya.
"Sekarang kau keluar, dan terima kasih untuk makan siangnya." Arya kembali merebahkan tubuhnya.
"Iya, Kak."
_
_
_
Sore harinya, kondisi Arya belum membaik. Kepalanya masih terasa berdenyut, badannya pun panas. Padahal ia sudah minum obat tadi, tapi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Di tambah rasa nyeri di tangan dan kakinya saat terjatuh pagi tadi. Lengkap sekali rasanya penderitaan Arya.
Walaupun begitu ia tetap menjemput Rubby. Dengan langkah tertatih ia membuka pintu toko kue itu.
"Rubby..." Panggilnya. Arya masih berdiri di depan pintu, rasanya sakit sekali kakinya jika berjalan.
"Mas, minum dulu." Ucapnya. Mau tak mau Arya menghampiri istrinya.
"Mas Firaz kenapa?" Tanya Rubby yang melihat suaminya berjalan dengan langkah tertatih.
"Tadi pagi aku terpeleset di coffe shop." Jawab Arya seraya duduk di hadapannya.
"Terpeleset? Bagaimana bisa? Apa Mas Firaz sudah ke dokter?" Tanya Rubby beruntun, terlihat kekhawatiran di wajahnya.
"Aku tidak ingin ke dokter." Arya menyesap minuman yang di sediakan Rubby.
"Tapi Mas, sebaiknya kita berobat dulu. Wajah Mas juga pucat." Ujar Rubby lagi. Ia benar-benar khawatir.
"Tidak Rubby, kita pulang saja. Aku ingin beristirahat di rumah." Jawab Arya bersikeras. Dari dulu dirinya memang tak menyukai dokter dan rumah sakit. Akhirnya dengan terpaksa Rubby menurut saja.
_
_
_
Arya langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur begitu mereka sampai di rumah. Rubby membantunya melepaskan sepatu yang masih menempel di kakinya.
"Aku siapkan air hangat untuk Mas mandi ya." Ucap Rubby, seperti biasa ia selalu melayani semua kebutuhan Arya kecuali kebutuhan di atas ranjang.
__ADS_1
"Hem..." Arya hanya menjawab dengan deheman. Ia seakan tak mampu untuk sekedar bicara saja.
Beberapa menit kemudian...
"Mas air hangatnya sudah siap." Ujar Rubby.
"Iya, Rubby. Terima kasih." Arya beranjak bangun. Rubby masih berdiri di sampingnya.
"Em... Mau ku bantu, Mas?" Tanya Rubby ragu. Ia melihat Arya kesulitan melepaskan kemejanya.
"Tidak per..."
"Biar ku bantu." Rubby lebih dulu menyela dan langsung membantu Arya melepaskan kancing kemejanya. Arya terdiam dan membiarkan istrinya membuka bajunya. Keduanya berpandangan sejenak. Wajah Rubby nampak merona melihat tubuh atas suaminya, padahal ia sudah sering melihatnya.
"Terima kasih." Arya beranjak bangun dan menuju kamar mandi.
Sementara suaminya mandi, Rubby mengambilkan makan malam untuk Arya. Suaminya sedang kesulitan berjalan seperti itu, tidak mungkin juga turun ke ruang makan. Tadi saja untuk jalan ke kamar harus susah payah, untung ada Rubbby yang memapahnya.
Rubby meletakan sepiring makanan itu di atas meja kerja Arya. Kemudian mengambil baju ganti untuk Arya.
Klek, pintu kamar mandi terbuka. Arya berjalan dengan tertatih menuju tempat tidurnya dan mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang. Arya mengambil baju yang sudah di siapkan Rubby.
"Mas mau ku bantu lagi?" Tawar Rubby.
"Tidak perlu Rubby, aku bisa sendiri." Tolak Arya. Tidak mungkin juga Rubby membantunya memakai baju dan celana. Itu akan memalukan untuknya.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu. Makan malam untuk Mas sudah ku ambilkan." Ucap Rubby sambil menunjuk makanan di atas meja.
"Ya, terima kasih." Jawab Arya singkat, ia menatap punggung Rubby yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Apa aku kena karma ya karena kemarin aku sudah menyakiti istriku walaupun tidak sengaja, dan sekarang aku jadi sakit begini?" Celetuknya dalam hati.
_
_
_
Arya kembali membaringkan tubuhnya yang sudah tak bertenaga itu.
"Apa tidak sebaiknya Mas ke dokter saja?" Tanya Rubby yang khawatir melihat suaminya.
"Tidak perlu Rubby, aku hanya ingin tidur." Jawab Arya. Terdengar Rubby menghela nafas panjang. Susah juga ternyata meminta suaminya untuk berobat.
"Mas mau ku pijat?" Tanya Rubby yang duduk di samping Arya.
"Memangnya kau bisa?" Arya balik bertanya.
"Alhamdulillah, bisa sedikit-sedikit." Jawab Rubby.
"Ya sudah, boleh." Sahut Arya.
__ADS_1