Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 131


__ADS_3

Jika di rumah Bara sedang ada lamaran dadakan antara Bara dan Mega, lain pula dengan keadaan di rumah Mama Dewi.


Rubby, wanita cantik itu tengah menatap hampa pada pemandangan di luar jendela. Sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya.


"Kenapa melamun?" Tanya Arya yang menyandarkan dagunya di bahu istrinya.


"Tidak apa-apa, Mas." Jawab Rubby pelan.


"Rubby..." Arya mengeratkan pelukannya.


"Aku hanya sedih saja, ini sudah lebih enam bulan pernikahan kita. Tapi aku..." Ucapan Rubby terhenti, Arya membalikkan badannya hingga mereka saling berdiri berhadapan. Arya menangkup wajah istrnya.


"Bukannya sudah ku bilang padamu di awal pernikahan kita? Aku tidak memaksamu, Rubby. Biarkan semua berjalan apa adanya." Ucapnya begitu lembut.


"Tapi aku, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, Mas. Aku merasa iri. Mereka sudah di beri kepercayaan padahal belum lama menikah, dan Intan bahkan sudah hamil lagi." Lirih Rubby.


"Rubby, masalah cepat hamil atau tidak itu tergantung takdir. Kita tidak bisa memaksakan. Mau sekeras apapun usaha kita, jika Allah belum mengizinkan, kita bisa apa? Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, selebihnya kita hanya bisa menunggu takdir dari Allah." Ucap Arya.


"Aku hanya takut, Mas Firaz dan keluarga kita akan kecewa padaku." Cicit Rubby.


"Tidak pernah sedikitpun aku kecewa padamu, Rubby. Kau adalah istri terbaik bagiku. Aku sangat mencintaimu, bagaimanapun keadaanmu." Arya menarik Rubby kedalam pelukannya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Tapi aku belum bisa memberi kebahagiaan untukmu." Lirih Rubby dalam pelukan suaminya. Arya membelai rambut panjang istrinya dengan sayang.


"Kebahagiaan bukan hanya tentang keturunan, Rubby. Dengan kau berada di sisiku saja itu sudah membuatku bahagia." Arya menghujani puncak kepala istrinya dengan kecupannya, sementara Rubby makin merangsek ke dalam dekapan suaminya.


"Jadi, apa kita jadi pergi hari ini?" Tanya Arya setelah beberapa saat mereka larut dalam pelukan penuh cinta.


"Ya, kita janjian jam empat sore kan?" Tanya Rubby yang sudah melerai pelukannya.


"Iya, jam empat. Sekarang baru jam satu, itu artinya kita masih punya waktu." Jawab Arya.


"Baiklah kalau begitu, aku mau..."


"Kau mau ke mana?" Arya menarik tangan istrinya yang hendak pergi.


"Mau membuat cake untuk di bawa ke taman nanti." Jawab Rubby sambil kembali melangkah.

__ADS_1


"Tidak perlu. Ada banyak yang jual di taman nanti, Rubby." Arya kembali menarik tangan istrinya.


"Tapi kan..."


"Mas!" Rubby memekik tiba-tiba karena Arya menggendongnya dan menghempaskan tubuhnya dengan pelan ke tempat tidur.


"Tidak perlu buat cake, kita buat anak saja." Kata Arya yang langsung menyerang istrinya, dan selanjutnya hanya ada suara manja Rubby yang terdengar.


_


_


_


Sore harinya.


Sepasang suami istri tengah duduk di kursi panjang sebuah taman kota dengan stoller bayi di dekatnya. Sang istri nampak mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit.


"Dika, kenapa aku cepat sekali hamil?" Tanya Intan heran.


"Ya mana ku tahu." Sahut Andika sekenanya.


"Kau menyalahkan aku, tapi kau sendiri menikmatinya." Seloroh Andika tidak terima, membuat Intan langsung cemberut.


"Ck, lalu bagaimana?" Intan berdecak, walau kenyataan memang begitu adanya.


"Ya biarkan saja. Lagipula kau punya suami, kenapa harus bingung?" Tanya Andika.


"Para orang tua kan jadi meledek kita. Aku malu, Dika." Keluh Intan. Saat dirinya di nyatakan hamil lagi, orang tua mereka seakan tidak percaya. Bisa-bisa mereka memberi adik untuk anak mereka yang masih bayi, apa mereka tidak bisa bermain dengan aman? Tapi walaupun begitu Ayah Bakti, Bunda Maya dan Mama Dewi tetap bahagia karena cucu mereka akan bertambah.


Sebuah mobil hitam itu memasuki area parkiran taman kota, Andika menatap datar pada mobil itu.


"Ck, lama sekali." Celetuk Andika menyambut Kakak lelakinya yang baru saja turun dari mobil.


"Berisik!" Tukas Arya. Sedangkan Rubby langsung menghampiri adiknya.


"Mana yang lain?" Tanya Arya.

__ADS_1


"Itu." Andika menunjuk ke arah mobil merah dan putih yang sudah bertengger di sana.


"Arya!" Sapa Indra sambil berjalan menghampiri sahabatnya, di sisinya ada seorang gadis muda yang merupakan istrinya. Mereka baru menikah empat bulan yang lalu.


"Mba Rubby." Istri Indra ikut menyapa Rubby.


"Hai Mei." Sapa Rubby balik, ia memeluk singkat mantan pegawainya.


"Kak Arya, Rubby!" Sapa Indah yang baru turun dari mobil merahnya. Ia berlari kecil menghampiri Rubby.


"Indah, jangan lari-lari." Dokter Malik langsung berlari menyusul istrinya.


"Indah, ingat. Kau sedang hamil muda kandunganmu masih sangat rentan." Ucap Dokter Malik yang begitu posesif.


"Ck, Kak Malik. Aku tidak apa-apa, anak kita baik-baik saja." Indah memutar bola matanya jengah. Dokter Malik begitu posesif padanya, apalagi saat tahu istrinya sedang mengandung buah cinta mereka.


"Kak Mei juga sedang hamil, tapi Kak Indra sikapnya biasa saja." Sambungnya sambil menunjuk ke arah Mei.


"Aku kan hanya mengkhawatirkanmu, Indah." Dokter Malik menghela nafas berat, Indah sangat aktif padahal di perutnya sedang ada janin kecil yang baru saja tumbuh. Sebagai seorang dokter walaupun bukan dokter kandungan tentu ia tahu, jika kehamilan di trimester pertama itu sangat rentan.


"Sudah, sudah. Kalian kenapa malah berdebat? Kita kemari untuk kencan bersama." Ujar Indra melerai perdebatan tak penting antara adik perempuan dan suaminya.


"Kak Malik terlalu berlebihan, Kak." Indah mengadu.


"Itu karena aku peduli padamu dan anak kita, Indah." Dokter Malik mencoba memberi pengertian dengan suara selembut mungkin. Indra memijat pelipisnya, adiknya memang keras kepala.


Sedangkan Arya, Rubby, Andika dan Intan hanya menyimak perdebatan mereka.


"Apa kita kemari untuk mendengarkan kalian berdebat?" Arya akhirnya ikut bicara membuat kakak adik itu menoleh ke arahnya.


"Hehehe, maaf Kak." Kata Indah sambil tersenyum lebar pada Arya, dan itu langsung membuat Dokter Malik gelagapan.


"Jangan senyum pada pria lain!" Dokter Malik langsung merangkul lengan istrinya, bagaimanapun Indah pernah memiliki perasaan pada Arya. Jangan sampai perasaan itu datang lagi.


"Astaga! Kau masih saja cemburu?" Tanya Arya, pusing sendiri melihat kelakuan suami istri itu.


"Tentu saja aku cemburu." Jawab Dokter Malik, Arya hanya bisa menggeleng. Indah sudah menikah dan hamil dengan pria itu, untuk apa juga masih merasa cemburu padanya?

__ADS_1


"Jadi kapan kita akan makan es krimnya? Katanya kita kemari untuk makan es krim?" Intan bertanya hingga semua mata tertuju padanya.


*****


__ADS_2