Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Sketsa Wajah Siapa?


__ADS_3

Andika lalu berucap,


"Kalau mama tahu..." Andika sengaja menggantung ucapannya sambil melirik ke arah sang kakak.


"Dika, jangan macam-macam!" Seru Arya memperingatkan, pun dengan tatapannya. Adiknya pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak.


"Mama pasti senang, Kak!" Sambung Andika sambil tersenyum lebar, sementara Arya sudah menatap tajam padanya.


"Jadi.... Mama harus tahu!" Secepat kilat Dika berbalik, dan langsung berlari meninggalkan kamar itu. Ia harus melaporkan hal ini secepatnya pada sang mama.


"Dika!" Arya ikut berlari mengejar adiknya.


Sementara Rubby dan Intan hanya menjadi penonton, melihat tingkah laku para suami mereka.


"Mama, Mama!" Teriak Andika yang berlari menuruni tangga. Mama Dewi yang berada di ruang tamu sontak menoleh.


"Ada apa Dika? Kenapa kalian lari-lari seperti itu?" Tanya Mama Dewi yang melihat kedua putra berlarian.


"Mama, Kak Arya dan Kak Rubby mau buat anak!"


Terlambat, ucapan frontal itu sudah meluncur begitu saja dari mulut Andika.


"Apa?!" Seru ketiga orang yang berada di ruang tamu secara bersamaan. Mereka bertiga spontan bangkit dari duduknya. Nyatanya di ruang tamu itu bukan hanya ada Mama Dewi, tapi ada Ayah Bakti dan juga Bunda Maya.


Arya yang sudah berada di belakang Andika hanya bisa mematung dengan tatapan tak percaya. Tak di sangka ada ayah dan ibu mertuanya di sana.


"Tidak, bukan begitu..." Arya menggeleng cepat, mencoba mengelak.


"Andika, kalau kakakmu mau buat anak seharusnya kau jangan mengganggu mereka." Mama Dewi menyela lebih dulu.


"Habisnya Kak Arya tidak mengunci pintu kamarnya, dan pintunya juga terbuka. Jadi aku kan tidak tahu." Andika menjawab dengan entengnya. Mama Dewi mengalihkan pandangannya pada putra sulungnya.


"Astaga, Arya! Kau ini! Kalau mau enak-enak dengan istrimu, kunci pintunya. Dan seharusnya kau mandi dulu. Kau itu kan habis lari pagi, badanmu pasti bau keringat. Kasihan Rubby nanti." Celoteh Mama Dewi, Arya menganga mendengarnya


"Mama bukan begitu..." Arya mencoba bicara, namun lagi-lagi ucapannya terputus.


"Ayah, sepertinya hubungan mereka berdua sudah berkembang cukup pesat." Kali ini Bunda Maya yang menyela.


"Iya sepertinya begitu." Sahut Ayah Bakti sambil tersenyum lebar.


"Bukannya ini bagus, kita bisa memiliki dua cucu sekaligus nantinya." Tambah Mama Dewi.


"Iya, semoga Rubby juga cepat hamil. Mengingat Andika dulu hanya melakukannya sekali tapi langsung jadi. Dan semoga Rubby dan Arya juga begitu." Ujar Bunda Maya penuh harap.


"Ya, semoga saja. Apalagi mereka melakukannya di pagi hari juga." Timpal Mama Dewi sambil melirik ke arah Arya.

__ADS_1


Arya menepuk keningnya, mendengar celotehan aneh dari mama dan juga kedua mertuanya. Bagaimana menjelaskan kepada mereka kalau semuanya hanya salah paham? Dan kenapa juga Mama Dewi malah seperti sengaja menyudutkannya?


Lirikan tajam Arya layangkan pada Andika. Semua ini karena mulut ember adiknya itu. Sedangkan yang di lirik hanya memasang wajah polos seakan tanpa dosa dengan senyum lebar di wajahnya.


****


"Jadi begitu kejadian yang sebenarnya?" Tanya Intan pada kakak perempuannya.


"Ya, dan kalian berdua tiba-tiba sudah berada di depan pintu." Jawab Rubby.


Rubby sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi pada Intan. Kalau tadi dirinya dan Arya sedang berebut sesuatu hingga akhirnya keduanya terjatuh. Terlihat Intan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalian kenapa kemari pagi-pagi?" Tanya Rubby. Karena tak biasanya adiknya itu datang pagi-pagi ke rumah. Kalaupun mereka datang berkunjung, biasanya siang atau sore hari.


"Kami kemari karena merindukan Kakak." Jawab Intan sambil memeluk singkat Rubby.


"Dan ada yang ingin ayah dan bunda bicarakan dengan Mama Dewi." Lanjutnya.


"Ayah dan bunda? Kalian kemari bersama ayah dan bunda?" Tanya Rubby dengan nada terkejut.


"Iya, Kak. Ayah dan bunda sedang di ruang tamu bersama Mama Dewi, memangnya kenapa?" Intan balik bertanya.


"Tidak apa-apa." Jawab Rubby sambil tersenyum pelik. Bisa di bayangkan bagaimana hebohnya keadaan di bawah sana dengan Andika dan Arya yang berlarian tadi.


"Em... Kak, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Intan ragu-ragu.


"Apa Kak Rubby dan Kak Arya sudah..." Intan menggantung ucapannya, sebenarnya ia malu untuk menanyakan hal itu.


"Sudah apa?" Rubby terlihat penasaran. Intan menggigit bibir bawahnya.


"Sudah melakukan hubungan suami istri..." Cicit Intan. Sepasang netra Rubby di balik kacamata melebar mendengar pertanyaan adiknya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Rubby balik bertanya.


"Maaf kalau aku lancang, Kak. Tapi setiap Kak Rubby dan Kak Arya berkunjung ke rumah, kalian berdua terlihat seperti menjaga jarak."


Memang setiap akhir pekan Rubby dan Arya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Ayah Bakti dan Bunda Maya. Dan diam-diam ternyata Intan memperhatikan interaksi keduanya. Mungkin memang terlihat jelas jika Arya dan Rubby menjaga jarak.


Apa mungkin kedua orang tuanya pun menyadari hal ini?


"Kak? Kenapa melamun?" Tanya Intan membuyarkan lamunan Rubby.


"Tidak apa-apa, Intan..." Lirih Rubby.


"Jadi Kak Rubby dan Kak Arya...?"

__ADS_1


Rubby tak menjawab, gadis itu lebih memilih diam. Dan itu sudah menjadi jawaban untuk Intan.


"Maaf...." Cicit Intan.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Rubby heran.


"Karena..."


KLEK


Pintu kamar itu terbuka, menghentikan percakapan kakak beradik itu. Nampak Arya masuk ke kamarnya dengan wajah kusut.


"Ada Kak Arya, sebaiknya aku keluar." Intan beranjak bangun dari duduknya.


"Aku tunggu di bawah ya, Kak." Ucapnya. Rubby mengangguk sambil tersenyum.


"Permisi, Kak Arya." Pamit Intan sambil melangkah keluar kamar.


"Ya." Sahut Arya singkat.


Arya melangkah mendekati Rubby yang sedang duduk di sisi tempat tidur.


"Mas mau mandi? Akan ku siapkan baju gantinya." Baru satu langkah kaki Rubby beranjak, suara Arya menghentikannya.


"Tunggu Rubby." Panggil Arya dengan datarnya.


"Ada apa, Mas?" Rubby kembali menoleh pada suaminya.


"Berikan kertas tadi padaku." Pintanya sambil mengadahkan tangan.


"Ya?" Mata di balik kacamata itu mengedip beberapa kali.


"Kertas yang tadi membuat salah paham diantara aku dan juga keluarga kita." Jelas Arya masih dengan nada datar.


"Tapi Mas..." Rubby terlihat ragu, ia kira Arya sudah melupakannya.


"Berikan atau aku akan marah padamu." Ucap Arya, suaranya terdengar menajam. Membuat istrinya merasa takut.


"I, iya Mas."


Mau tak mau akhirnya Rubby memberikan kertas itu pada Arya. Mata pria itu meneliti coretan yang ada di atas kertas dengan serius.


"Gambar apa ini...?" Tanya Arya.


"Ini sketsa wajah, Mas." Takut-takut Rubby menjawab.

__ADS_1


"Wajah siapa?" Tanya Arya. Rubby menautkan kedua alisnya, memandang heran pada pria di hadapannya. Apa suaminya itu tak menyadari kalau itu sketsa wajahnya sendiri?


"Bukan siapa-siapa." Dengan cepat Rubby mengambil kertas itu kembali dan menyembunyikannya di balik tubuhnya.


__ADS_2