Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 136


__ADS_3

"Bara tidak bisa melihat? Apa maksudmu, Mega?" Cecar Arya, namun Mega tak menjawab dan hanya menggeleng.


Sepasang mata Arya melebar, ia baru menyadari sesuatu.


"Apa Bara yang melakukan itu?" Tanyanya dengan nada getir.


"A... Apa maksudmu?" Mega tergagap.


"Jangan pura-pura bodoh, Mega! Kau pasti tahu apa yang ku maksud." Tukas Arya.


"Arya..."


"Jawab aku, Mega." Ucap Arya penuh penekanan. Mega tidak punya pilihan lain, akhirnya wanita itu mengangguk.


"Iya, Bara yang melakukan itu. Dia yang menjadi pendonor untukmu." Jawabnya. Arya menggeleng pelan, ia tidak menyangka jika Bara lah yang sudah mendonorkan kornea untuknya.


"Bara ingin menebus semua kesalahannya padamu, maka dari itu dia melakukan ini. Dia juga meminta dokter yang menanganimu saat itu untuk merahasiakan hal ini dari siapa pun. Termasuk keluargamu." Mega menjelaskan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arya pergi dari sana.


"Bara, maafkan aku. Aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Arya..."


_


_


_


Malam harinya.


Dengan langkah gontai, Mega memasuki rumahnya. Sudah ada suaminya yang menunggunya di sana.


"Mega, kau sudah pulang?" Tanya Bara yang mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Iya, Bara. Aku baru saja sampai." Mega duduk di samping Bara, ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


"Kenapa, Mega?" Tanya Bara, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari istrinya.


"Apa tadi ada yang datang kemari?" Mega balik bertanya. Bara menggeleng.


"Tidak ada." Jawabnya.


"Memangnya kenapa?" Sambungnya.


"Tapi kau harus janji dulu, kau tidak akan marah jika aku mengatakannya." Pinta Mega membuat Bara mengernyit heran.


"Ada apa sebenarnya, Mega?" Tanya Bara penasaran.


"Janji dulu." Desak Mega.


"Baiklah, aku janji tidak akan marah." Jawab Bara. Mega menegakkan badannya dan menatap lekat suaminya, walaupun Bara tidak bisa melihatnya.


"Tadi Arya datang ke rumah makan..." Ucap Mega.


"Arya?"


"Ya, Arya bilang ingin bertemu denganmu."


"Untuk apa?"


"Aku tidak tahu, Bara. Pada awalnya aku melarangnya untuk menemuimu. Tapi Arya malah curiga padaku. Dan akhirnya tanpa sengaja aku mengatakan hal itu pada Arya..."


Bara menghela nafas berat mendengar cerita istrinya.


"Maaf, Bara. Tapi aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Mega penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Mega. Mungkin memang sudah saatnya Arya tahu." Ucap Bara pasrah.


"Kau marah padaku?" Tanya Mega.

__ADS_1


"Tadikan aku sudah janji tidak akan marah padamu." Jawab Bara, Mega kembali bersandar di bahu suaminya.


"Maaf..." Gumamnya.


"Tidak apa-apa." Bara mengusap lembut rambut istrinya.


"Bagaimana reaksi Arya tadi?" Tanya Bara.


"Arya terlihat sedih." Jawab Mega jujur, ia memang melihat kesedihan di mata Arya tadi.


Lagi, Bara menghela nafas berat. Ini yang tidak ia inginkan, Arya pasti sedih jiika tahu dirinya lah yang menjadi pendonor untuk temannya itu. Seandainya Arya tahu dari awal, mungkin Arya akan menolaknya. Fikir Bara saat itu.


"Karena Arya sudah tahu, sebaiknya kita segera meminta maaf saja pada mereka." Kata Bara kemudian.


"Tapi bagaimana jika mereka menolak kedatangan kita?" Tanya Mega ragu.


"Tidak akan. Kau seharusnya tahu bagaimana Arya dan Rubby, mereka bahkan lebih memilih untuk membebaskanku dan menutup kasusnya." Jawab Bara.


"Jangan takut, aku akan selalu berada di sisimu." Sambungnya.


"Iya, baiklah." Ucap Mega yang terdengar pasrah.


_


_


_


Sedangkan di kediaman Arya.


"Mas Firaz kenapa?" Tanya Rubby yang melihat suaminya nampak berbeda semenjak pulang tadi.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Arya yang kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia menatap hampa pada langit-langit kamarnya yang putih bersih. Rubby langsung menghampirnya dan ikut berbaring.


"Ada apa, Mas?" Tanyanya lagi membuat Arya menoleh ke arahnya.


"Peluk aku, Rubby." Pinta Arya. Tanpa bertanya lagi, Rubby menarik suaminya ke dalam pelukannya. Tidak ada kata terucap, Arya hanya menyandarkan kepalanya di dada Rubby dan Rubby mengusap lembut punggung kokoh itu.


"Kau tahu Rubby." Akhirnya Arya bersuara setelah terdiam cukup lama.


"Apa, Mas?"


"Aku sudah tahu siapa yang menjadi pendonor untukku." Ucap Arya.


"Siapa, Mas?" Tanya Rubby dengan tangan yang masih setia mengusap punggung suaminya.


"Bara."


Rubby langsung menghentikan gerakan tangannya dan menunduk menatap Arya.


"Bara?" Ulangnya.


"Ya, Mega yang mengatakan padaku." Jawabnya.


"Mega? Mas bertemu Mega?" Tanya Rubby heran. Kapan suaminya itu bertemu dengan sang mantan?


"Sebenarnya tadi siang setelah dari toko kuemu, aku pergi ke rumah makan milik Bara. Aku ingin bertemu dengannya, karena sudah cukup lama kami tidak bertemu. Tapi pelayan di sana bilang kalau Bara sudah tidak pernah datang ke sana lagi, dan sekarang istrinya lah yang mengurus rumah makan itu." Arya mulai bercerita.


"Istri? Bara sudah menikah?" Tanya Rubby yang sedikit terkejut.


"Ya, Rubby. Tadi aku juga terkejut saat tahu Bara sudah menikah. Dan kau tahu dengan siapa Bara menikah?" Tanya Arya, Rubby menggeleng pelan.


"Mega." Jawab Arya, Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.


"Jadi mereka sudah menikah?" Tanyanya.


"Ya, baru tiga hari yang lalu." Jawab Arya.

__ADS_1


"Jadi Mega yang mengatakan kalau Bara lah yang menjadi pendonor untuk Mas?"


"Pada awalnya Mega tidak mau mengatakannya, tapi aku memaksanya hingga akhirnya dia jujur. Andai aku tahu jika Bara lah yang menjadi pendonor untukku, aku pasti akan menolaknya. Aku membebaskannya bukan untuk semua ini, aku hanya ingin dia mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya." Ucap Arya sendu, Rubby menangkup wajah suaminya.


"Mungkin Bara ingin menebus kesalahannya padamu, Mas. Dan inilah alasannya dia tidak memberitahumu, karena dia tahu Mas pasti akan menolaknya."


"Ya, Mega juga bilang seperti itu. Aku hanya tidak menyangka saja, ternyata dia menghilang karena ini semua."


"Semuanya sudah terjadi, Mas Firaz tidak perlu sedih."


Rubby mengecup kening suaminya dan Arya mengeratkan pelukannya.


"Mas..."


"Hem..."


"Bagaimana Mega sekarang?" Tanya Rubby.


"Dia terlihat berbeda, penampilannya jauh lebih sederhana." Jawab Arya jujur.


"Apa Mega bertambah cantik?"


"Menurutku sama saja."


"Tadi Mas bilang berbeda?"


"Hanya beda pakaiannya saja, Rubby."


"Pasti lebih cantik."


Arya mengadahkan wajahnya, pandangan keduanya saling beradu.


"Jangan memancingku, Rubby." Tukas Arya.


"Siapa yang memancing? Aku hanya bertanya saja." Elak Rubby.


"Tapi pertanyaanmu sedari tadi seakan memancingku agar aku mengatakan kalau Mega bertambah cantik." Ujar Arya.


"Jadi benar Mega bertambah cantik?" Rubby mengulang kembali pertanyaannya.


"Astaga Rubby... Sudah ku bilang tadi sama saja. Hanya kau yang tercantik di mataku." Jawab Arya sedikit kesal.


"Aku hanya bercanda, Mas." Wanita itu malah tertawa lepas, sedangkan Arya hanya bisa menatap datar istrinya.


"Seandainya tadi Mas Firaz bilang Mega bertambah cantik, aku akan menyuruh Mas Firaz untuk tidur di luar." Ucap Rubby di sela tawanya.


"Kau benar-benar menyebalkan, Rubby." Arya melepaskan pelukannya dan kembali ke bantalnya. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Hei, kenapa di tutup? Aku jadi tidak bisa melihat wajah suamiku." Rubby mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Rubby, diam. Aku mengantuk." Ucap Arya di balik selimutnya. Rubby tersenyum melihatnya, setidaknya dengan begini Arya bisa melupakan kesedihannya tadi.


"Tapi aku belum mengantuk, Mas..." Suara Rubby terdengar berubah. Tapi Arya mencoba untuk tidak terpancing lagi. Ia tetap mempertahankan selimutnya.


"Mas Firaz..." Panggil Rubby dengan suara yang mendayu-dayu, jemarinya bergerak meraba dari atas kepala dan turun ke dada suaminya. Tapi Arya tetap bergeming. Jemari itu bermain sejenak di sana, membuat pola tak kasat mata dan itu membuat Arya sedikit terpancing. Rubby menurunkan kembali jemarinya melewati perut dan terus turun.


"Rubby!"


Berhasil! Arya membuka selimutnya dan langsung terduduk, sentuhan Rubby benar-benar membuatnya merinding.


"Kenapa, Mas?" Tanya Rubby sambil memasang tampang polosnya, ia ikut duduk di tengah tempat tidur.


"Kau sengaja?" Arya balik bertanya, menatap tajam pada istrinya. Bukannya takut, Rubby malah semakin menjadi.


"Kalau iya, memang kenapa?" Tanya Rubby menantang dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya.


Kalau sudah seperti ini, Arya mana mampu untuk menolak.

__ADS_1


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2