Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Sebuah Rencana


__ADS_3

"Aku mungkin bisa merelakan jika Rubby menikah dengan orang yang tidak ku kenal." Jawab Bara dengan sedikit emosi. Mega tersenyum dalam hati, itu artinya Bara tidak merelakan Rubby untuk Arya. Ini bisa jadi kesempatan untuknya.


Mega meletakan sendok yang di pakainya di samping piringnya. Tangannya kini menopang dagu, ia menatap Bara.


"Kau tahu Bara, sebenarnya Arya belum menyentuh Rubby." Kata Mega sengaja memancing, ia ingin lihat bagaimana reaksi Bara.


"Kau tahu darimana? Mereka sudah satu bulan menikah, tidak mungkin Arya tidak menyentuh istrinya sendiri." Tanya Bara heran, tidak mungkin juga Arya yang mengatakan itu pada Mega.


"Tentu saja aku tahu. Aku hafal betul bagaimana sifat Arya. Dia tidak mau menyentuh wanita sebelum mencintainya. Dan mereka menikah bukan karena cinta." Jelas Mega.


"Kau masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Rubby kembali. Dan aku bisa kembali bersama Arya." Tambahnya. Bara menyipitkan matanya, sepertinya wanita di depannya ini punya suatu rencana.


"Bagaimana caranya?" Tanya Bara yang mulai terpancing.


"Kita buat mereka bercerai." Jawab Mega dengan senyum seringainya.


"Bercerai? Apa kau yakin bisa membuat mereka bercerai? Arya adalah pria baik-baik begitu juga dengan Rubby. Mereka tidak akan mempermainkan pernikahan. Dan asal kau tahu, Rubby selalu menjaga jarak dengan pria lain." Seloroh Bara, pria itu terlihat ragu.


"Jadi Rubby selalu menjaga jarak?" Mega bertanya.


"Ya, dia tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis." Jawab Bara.


"Itu juga yang membuatku jatuh cinta padanya." Tambahnya.


"Bagus kalau begitu. Mereka bisa berpisah. Asal kau mau membantuku." Jawab Mega begitu yakin. Bara menatapnya curiga.


"Apa yang sebenarnya ada di otakmu?" Tanyanya.


"Kau ikuti saja. Dan kau pasti akan mendapatkan wanita impianmu itu." Tukas Mega. Senyum iblis muncul di wajah cantiknya.


_


_


_


Rubby Cake's


Arya dan Rubby sedang menikmati cokelat hangat bersama. Suasana toko kue masih sepi, karena memang sengaja Arya dan Rubby berangkat lebih awal. Ingin menikmati suasana pagi di toko itu.


Malu-malu Rubby mencuri pandang pada suaminya yang duduk di hadapannya.


"Tidak perlu curi-curi pandang seperti itu." Celetuk Arya, terlihat ia menahan senyumnya. Istrinya itu lucu sekali, padahal dirinya ada di depan Rubby tapi gadis itu malah malu-malu melihatnya.


"Mas..." Rubby cemberut dengan wajah yang merona merah.


"Kalau kau mau memandangku, ya pandang saja. Tidak di pungut biaya sama sekali." Ucap Arya dengan nada menggoda membuat wajah Rubby makin merona.

__ADS_1


"Berhenti menggodaku, Mas!" Ucap Rubby malu, terdengar tawa renyah dari Arya.


"Oh ya, Mas mau ku buatkan kue untuk di rumah nanti?" Rubby mengalihkan pembicaraan daripada Arya terus meledeknya.


"Kue apa?" Tanya Arya.


"Emm, red velvet mungkin?" Tawar Rubby.


"Aku tidak sedang ingin cake red velvet." Jawab Arya.


"Bagaimana kalau muffin?" Tawar Rubby lagi. Arya berfikir sejenak lalu mengangguk.


"Sepertinya boleh." Jawabnya.


"Ya sudah, nanti sore akan ku buatkan." Ujar Rubby. Keduanya kembali terdiam dan saling berpandangan. Tak lama pintu toko itu terbuka lebar.


"Mba Rubby!" Seru Mia, Ria dan Ela secara bersamaan, ketiga gadis belia itu baru saja tiba. Buyar sudah acara saling pandang antara Rubby dan Arya.


"Mereka sudah datang." Ucap Arya datar.


Mia, Ria, dan Ela langsung mematung melihat Rubby yang sedang duduk berdua bersama suaminya.


"Tuan Arya?" Gumam ketiganya.


"Selamat pagi." Sapa Arya sambil tersenyum tipis.


"Selamat pagi kembali Tuan Arya..." Sapa balik ketiganya serentak dengan senyum lebar di wajah masing-masing. Rubby tertawa kecil melihat tingkah laku gadis belia itu.


"Iya, Mas." Rubby mengadahkan tangannya. Arya menyambutnya.


"So sweet...." Sorak para pegawai Rubby saat melihat Rubby mengecup punggung tangan Arya. Padahal itu hanyalah hal yang biasa. Arya hanya bisa menggeleng dan beranjak pergi dari sana. Sungguh ajaib memang para pegawai istrinya.


"Ria, Mia, Ela! Kenapa kalian diam? Ayo kita mulai bekerja." Ujar Rubby membuat ketiganya tersadar. Mereka malah terdiam sambil memandangi Arya yang pergi menjauh.


"Eh, iya Mba." Ketiganya langsung membubarkan diri.


"Kenapa aku bisa mempunyai pegawai seperti mereka?" Gumam Rubby, tingkah laku para pegawainya selalu membuat mengusap dada. Tapi pekerjaan mereka tidak bisa di pandang sebelah mata.


_


_


_


Kediaman Ayah Bakti


Beberapa contoh kartu undangan berserakan di atas meja. Mama Dewi dan Bunda Maya terlihat sedang asyik memilih mana yang paling bagus.

__ADS_1


"Astaga, kenapa berantakan sekali?" Tanya Ayah Bakti yang baru saja datang.


"Ayah lihat! Menurut Ayah, mana yang bagus?" Tanya Bunda Maya sambil memegang contoh dua kartu undangan di tangan kanan dan kirinya.


"Semuanya bagus Bunda." Jawab Ayah Bakti.


"Ayah ini, Bunda kan meminta Ayah untuk memilih." Bunda Maya mendengus.


"Laki-laki memang seperti itu, May. Selalu tidak bisa memilih." Sambar Mama Dewi.


"Ya tapi memang keduanya bagus, Dew. Lagipula bagaimanapun modelnya, itu tidak terlalu penting. Orang hanya membaca sekali, lalu di simpan atau membuangnya." Ucap Ayah Bakti apa adanya. Kedua wanita itu langsung menatap tajam padanya.


"Tapi apa salahnya memilih yang terbaik untuk resepsi pernikahan anak-anak kita, Ayah." Kata Bunda Maya.


"Lelaki memang tidak pernah pakai perasaan, May. Hanya menggunakan logika saja." Tambah Mama Dewi. Ayah Bakti hanya bisa menganga mendengarnya. Kenapa juga kedua wanita itu jadi memojokkan dirinya hanya karena masalah kartu undangan.


"Acaranya kurang dari satu bulan lagi, Ayah. Dan kita belum dapat kartu undangan yang cocok." Keluh Bunda Maya.


"Ya sudah yang ini saja." Ayah Bakti menunjuk sebuah undangan berwarna hitam putih. Bunda Maya dan Mama Dewi saling memandang seolah minta persetujuan.


"Tapi lebih bagus yang ini." Bunda Maya menunjuk sebuah kartu undangan berwarna emas.


"Ya kau benar, May. Motifnya lebih cantik dan warnanya lebih cerah." Ujar Mama Dewi.


"Ya sudah, berarti kita pilih yang ini sebagai undangannya." Kedua wanita itu mengangguk setuju. Ayah Bakti tercengang, tangannya memijat pelipisnya. Untuk apa tadi para wanita itu bertanya pada dirinya kalau akhirnya memutuskan sendiri. Wanita memang kadang-kadang aneh!


_


_


_


Sore harinya.


Rubby sedang membuat kue muffin untuk suaminya.


"Mba Rubby sedang apa?" Tanya Ela.


"Buat kue muffin." Jawab Rubby sambil mengaduk adonan.


"Kue muffin? Tapi toko kita kan sudah mau tutup Mba?" Tanya Ela bingung.


"Untuk suamiku, Ela." Jawab Rubby.


"Oh....." Ela ber-oh-ria. Senyum usil nampak di bibirnya.


"Ehm, sepertinya Mba Rubby dan suami makin mesra saja." Goda Ela sambil menyenggol lengan Rubby.

__ADS_1


"Akh, biasa saja." Timpal Rubby malu-malu.


"Masa? Kalau biasa saja wajahnya tidak perlu merona begitu, Mba..."


__ADS_2