
Tidak ada salahnya sepertinya. Mungkin saja sakitnya bisa berkurang daripada dirinya harus ke dokter. Fikir Arya.
Rubby mulai memberi pijatan lembut di kaki Arya.
"Mama ke mana? Rasanya aku tak melihatnya tadi?" Tanya Arya.
"Mama sedang ke rumah Ayah, Mas. Tadi Mama mengirim pesan ke ponselku. Mama juga pasti memberi tahu Mas."
"Ya, mungkin. Aku tak mengecek ponselku dari tadi." Jawab Arya yang mulai memejamkan matanya. Pijatan Rubby nyatanya sangat enak dan membuatnya nyaman.
Tiga puluh menit kemudian Arya pun tertidur. Rubby menghentikan pijatannya dan merapikan posisi tidur suaminya.
"Kasihan suamiku." Gumamnya. Wajah Arya nampak begitu pucat, dan masih demam. Padahal tadi Rubby sudah memberinya obat penurun panas.
Rubby kembali memijat suaminya, setidaknya itu akan mengurangi rasa sakit di tangan dan kaki Arya nantinya. Sesekali Rubby tersenyum memandangi wajah Arya. Walau terlihat pucat, wajah Arya tetap terlihat tampan di matanya.
Waktu terus berlalu, setelah hampir dua jam memijat suaminya Rubby merasa lelah. Dan juga waktu menunjukkan hampir tengah malam.
"Sudah ya, Mas. Aku lelah dan juga mengantuk." Ucapnya, padahal Arya juga tak mendengarnya karena sudah larut dalam tidurnya.
"Semoga Mas cepat sembuh ya." Rubby mengecup kening Arya, kemudian beranjak dari duduknya. Rubby menuju meja rias, menyisir dan merapikan rambut panjangnya. Hal yang biasa ia lakukan sebelum tidur.
"Mega..."
Rubby mengerutkan keningnya, sepertinya ia mendengar suara. Gadis itu beranjak bangun dan mendekati suaminya kembali.
"Mega..." Terdengar Arya menginggau memanggil nama Mega dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Mega? Kenapa Mas Firaz memanggil nama Mega?" Tanya Rubby pada dirinya sendiri. Rubby memeriksa suhu badan Arya, ternyata suhu badannya naik lagi. Pantas saja Arya sampai menginggau begitu.
Gadis itu akhirnya turun ke lantai bawah untuk mengambil kompres.
"Rubby? Kau sedang apa?" Tanya Mama Dewi yang kebetulan melihatnya.
"Eh, Mama? Mama sudah pulang?" Rubby balik bertanya.
"Sudah dari dua jam yang lalu, Rubby." Jawab Mama Dewi.
"Untuk apa air es itu?" Tanyanya.
"Mas Firaz demam, Ma. Rubby mau mengompresnya." Jawab Rubby.
"Arya sakit? Apa sudah berobat?" Tanya Mama Dewi, terlihat kekhawatiran di wajahnya.
__ADS_1
"Mas Firaznya tidak mau berobat, Ma." Jawab Rubby ragu.
"Hah, dasar Arya! Dia memang seperti itu Rubby. Tidak pernah mau jika di suruh berobat, kecuali kalau sakitnya benar-benar parah."
"Em... Tadi Mas Firaz sudah minum obat, Ma. Dan sekarang demamnya tinggi lagi. Makanya Rubby mau mengompresnya."
"Ya, sudah kau kembali ke kamar saja. Tapi kalau sakit Arya bertambah parah, kau kasih tahu Mama ya?"
"Iya, Ma. Rubby ke kamar dulu."
Rubby kembali ke kamarnya dengan membawa air es dan juga sebuah handuk kecil.
Dengan telaten Rubby mulai mengompres suaminya.
"Mega..." Lagi, Arya menginggau sambil menyebut nama Mega.
"Mas?" Rubby memegang tangan Arya, berharap suaminya berhenti menginggau.
"Mega, aku mencintaimu... Aku ingin menikah denganmu..."
DEG
Seketika Rubby membeku mendengarnya. Apa sebegitunya Arya mencintai Mega? Hingga dalam keadaan tak sadar pun hanya nama Mega yang di sebutnya?
Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya, tak bisa di pungkiri hatinya terasa begitu sakit mendengar sang suami yang terus memanggil dan mengatakan cinta pada wanita lain.
"Iya, Mas. Aku di sini." Ucap Rubby dengan nafas tercekat, tangannya menggenggam erat tangan Arya.
"Mega... Jangan tinggalkan aku..." Arya membalas genggaman tangan Rubby. Tapi matanya tetap terpejam.
"Tidak, Mas. Aku di sini..." Bisik Rubby dengan air mata yang mengalir.
_
_
_
Sepasang netra itu nampak mengerjap. Tangannya memijat kening yang masih terasa sedikit pusing. Arya membuka matanya. Silau cahaya lampu mengganggu pengelihatannya. Arya menoleh ke sisi, nampak Rubby yang tertidur dengan posisi duduk di lantai dan bersandar di tempat tidur. Di tangannya masih ada handuk kecil yang di gunakannya untuk mengompres Arya semalam.
"Kenapa Rubby tidur di bawah?" Gumam Arya. Ia melirik ke arah tangan Rubby.
"Apa mungkin semalam aku demam lagi? Dan Rubby yang menjagaku?" Tanya Arya dalam hati.
__ADS_1
"Rubby..." Panggil Arya. Tapi Rubby diam saja, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya.
"Rubby..." Tangan Arya mengusap lembut rambut Rubby. Rubby yang merasa ada pergerakan, akhirnya membuka mata.
"Mas Firaz? Mas sudah bangun?" Tanyanya sambil mengucek matanya.
"Kenapa kau tidur di bawah?" Tanya Arya.
"Semalam Mas Firaz demam, jadi aku mengompres Mas dan ternyata aku ketiduran." Jawab Rubby sambil meletakan kembali handuk kecil itu ke tempatnya. Kemudian Rubby memeriksa suhu badan suaminya.
"Syukurlah, panasnya sudah turun." Ucapnya. Arya hanya memperhatikannya saja. Rubby melirik ke arah jam yang menempel di dinding.
"Sudah hampir subuh ternyata, aku mandi dulu ya Mas." Rubby beranjak ke kamar mandi. Arya bangkit dari tidurnya, memandang Rubby yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Rubby, maaf. Semalam pasti aku sudah merepotkanmu." Batinnya.
Sementara itu, begitu masuk kamar mandi Rubby menyandarkan punggungnya di balik pintu. Air matanya mulai mengalir. Teringat semalam Arya tak hentinya menyebut nama Mega, walaupun Rubby sudah berusaha untuk menenangkannya.
Dan saat hampir jam tiga pagi Arya baru berhenti menginggau, Rubby yang kelelahan akhirnya tertidur di samping Arya.
"Apa kau begitu mencintainya, Mas? Hingga sepanjang malam kau terus menginggau dan menyebut namanya? Lalu apa artinya pernikahan ini dan apa artinya aku di sisimu?" Lirih Rubby yang akhirnya terisak di dalam kamar mandi.
"Kalau kau masih sangat mencintainya, tak seharusnya kau mengakhiri hubunganmu dengan Mega. Kau seharusnya menikahinya, bukan menikahiku..." Isaknya dalam tangis.
Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya mengigau nama wanita lain? Walau mereka menikah tanpa cinta, tapi tetap saja status Rubby adalah istrinya sekarang. Tak bisakah Arya menghargai sedikit saja perasaanya?
Di tempat tidur Arya mencoba menggerakan tangan dan kakinya, sepertinya rasa sakitnya sudah jauh berkurang. Pijatan Rubby benar-benar efektif ternyata.
"Rubby benar-benar paket lengkap. Sudah baik, cantik, selalu menjaga jarak dengan pria lain, pintar memasak dan juga membuat kue. Dan juga pintar memijat. Bukankah aku beruntung memiliki istri seperti Rubby?" Tanya Arya pada dirinya sendiri. Namun kemudian ia tertegun.
"Tapi Rubby sudah menyukai pria lain, pria yang ia buat sketsa wajahnya..." Arya membuang nafas berat, perlahan ia beranjak ke meja kerjanya dan mengambil kembali gambar sketsa yang di buat Rubby.
_
_
_
"Arya bagaimana keadaanmu?" Tanya Mama Dewi yang datang ke kamar anaknya.
"Sudah jauh lebih baik, Ma." Jawab Arya.
"Benar? Tapi sebaiknya hari ini kau istirahat, tidak usah bekerja dulu." Ucapnya.
__ADS_1
"Tapi Ma, Arya..."
"Arya, kau ini semalam demam tinggi. Untung saja ada istrimu yang menjaga dan mengurusmu. Apa kau mau sakit lagi dan menyusahkan istrimu lagi?" Mama Dewi menyela lebih dulu.