
Tak lama kemudian Mama Dewi datang dengan membawa dua botol air mineral di tangannya.
"Arya, ini minum dulu. Kau pasti haus kan?" Mama Dewi memberikan satu botol ke tangan Arya. Bukannya segera minum, pria itu malah diam saja. Padahal tenggoroknnya terasa kering setelah bicara dengan mantan istrinya tadi.
"Arya, kenapa?" Tanya Mama Dewi yang melihat putranya diam saja. Arya menggeleng.
"Tidak apa-apa, Ma." Jawabnya.
"Ayo kita pulang." Ajaknya.
"Iya, tapi di minum dulu airnya." Titah Mama Dewi, Arya hanya bisa menurut.
Siang harinya.
Di Rubby Cake's
Beberapa kue yang baru saja matang Rubby pajang di etalase tokonya. Sedari tadi senyum tersemat di bibirnya karena bisa kembali bertemu dengan sang mantan suami.
"Rubby..." Panggil seseorang yang baru saja datang. Senyum di wajah Rubby langsung sirna melihat siapa orang itu.
"Selamat siang, Rubby." Sapa Dokter Malik.
"Ada apa?" Tanya Rubby datar.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu." Pria itu berdiri di depan Rubby hanya terhalang meja etalase.
"Tentang apa?" Tanya Rubby.
"Kenapa kau menolak lamaranku semalam?" Tanya Dokter Malik sambil menatap serius pada gadis berhijab itu.
"Bukannya itu hak ku? Mau menerima atau menolaknya?" Rubby balik bertanya, tanpa menatap lelaki itu.
"Aku hanya ingin tahu alasannya. Apa itu salah? Apa kurangnya diriku sampai menolak lamaranku?"
Rubby membuang nafas berat, keberadaan Dokter tampan itu sungguh membuatnya tidak nyaman.
"Karena aku tidak ingin menikah lagi. Kalaupun aku harus menikah lagi, aku hanya ingin kembali dengan mantan suamiku." Jawab Rubby jujur, terlihat gurat kecewa di wajah Dokter Malik.
"Apa sebegitunya kau mencintai mantan suamimu?" Tanyanya. Rubby mengalihkan pandangan, dan menatap lekat Dokter Malik.
"Lalu kenapa Arya menceraikanmu? Apa dia tidak mencintaimu? Dan hanya kau sendirian yang mencintainya?" Tanya Dokter Malik beruntun.
"Mau Arya mencintaiku atau tidak, itu bukan urusanmu. Yang jelas, aku akan tetap menunggunya mau selama apapun itu." Jawab Rubby dengan sedikit kesal, ini masalah hatinya dan pria itu tidak berhak untuk menghakiminya.
"Apa tidak ada kesempatan untukku?" Tanya Dokter Malik dengan nada putus asa.
"Tidak, dan tidak akan pernah." Jawab Rubby sungguh-sungguh. Gadis itu duduk kembali di kursinya, sementara Dokter Malik hanya bisa menatap nanar padanya. Sepertinya memang sudah tidak ada kesempatan untuknya mendapatkan hati gadis itu.
__ADS_1
"Aku permisi." Pamitnya.
"Ya." Jawab Rubby singkat.
Rubby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, rasanya lega setelah mengatakan itu semua pada Dokter Malik. Lelaki itu pasti tidak akan berharap apapun lagi pada dirinya.
"Maafkan aku Dokter Malik, tapi aku memang tidak bisa menerimamu. Karena dalam hatiku hanya ada nama Mas Firaz seorang."
Seharusnya dari dulu ia bersikap tegas seperti ini. Hingga tidak ada lelaki seperti Bara yang mengganggunya.
_
_
_
Dua bulan berlalu...
Semua tampak berjalan normal. Dokter Malik sudah tidak menemui Rubby lagi, bukan karena sakit hati Rubby telah menolaknya, tapi ia cukup sadar diri. Dirinya tidak berarti apa-apa bila di bandingkan dengan Arya di hati Rubby.
Walaupun Dokter Malik masih menyimpan perasaan pada Rubby, tapi ia yakin waktu akan mengikis perlahan perasaan di hatinya.
Dan Rubby merasa senang, lelaki itu tidak datang menemuinya lagi.
__ADS_1
*****
JANGAN LUPA LIKE UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😉