
"Aku bisa mengambilnya sendiri, May." Ujar Mama Dewi, seharusnya Bunda Maya tidak perlu melayaninya seperti itu.
"Kau kan tamu di sini." Sahut Bunda Maya lalu menyerahkan piring yang sudah berisi makanan pada Mama Dewi.
"Terima kasih."
"Ayo para istri, layani suami kalian." Perintah Bunda Maya.
Rubby bangun dari duduknya dan mengambilkan makanan untuk Arya. Gadis itu mendadak gugup karena Arya terus memperhatikannya.
"Kenapa Mas Firaz melihatku seperti itu? Aku kan jadi gugup." Batinnya.
"Sepertinya istriku gugup. Lucu sekali dia." Batin Arya.
"Ini, Mas." Rubby menyerahkan sepiring makanan pada suaminya.
"Terima kasih." Ucap Arya.
Rubby tersenyum kecil kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan di lanjutkan dengan Intan.
Selesai makan siang, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Oh, ya. Setelah ini kalian akan tinggal di mana?" Tanya Ayah Bakti membuka pembicaraan.
Bukannya menjawab, Arya dan Andika malah saling memandang. Mereka sama sekali belum memikirkan hal itu.
"Kenapa para suami diam saja?" Tanya Bunda Maya.
"Mungkin mereka bingung." Timpal Mama Dewi.
"Apa boleh Bunda bicara?" Tanya Bunda Maya sambil menatap putri dan menantunya bergantian.
"Ada apa, Bunda?" Rubby menyahut.
"Em... Bisakah salah satu dari kalian tinggal di sini? Rasanya Bunda belum benar-benar siap jika harus kehilangan dua putri Bunda sekaligus." Ucapnya sendu.
"Bunda, anak-anak kita sudah menikah. Jadi mereka wajib untuk ikut dengan suami mereka." Ujar Ayah Bakti mencoba memberi pengertian.
"Aku tahu, Ayah. Tapi tetap saja rasanya..."
"Bunda, jangan sedih." Sela Intan.
"Bagaimana kalau Intan dan Andika yang tinggal di sini? Lagipula Intan juga belum benar-benar bisa memasak, Intan ingin Bunda mengajari Intan dulu." Tutur Intan, matanya melirik ke arah Andika seolah minta persetujuan.
__ADS_1
"Sepertinya benar kata Intan." Mama Dewi menyahut.
"Intan juga sedang hamil. Sebaiknya ia dan Andika tinggal di sini dulu. Bagaimana Dika? Tidak apa kan kalau kau tinggal di sini?" Sambung Mama Dewi.
Intan tersenyum lebar, ternyata ibu mertuanya itu pengertian sekali.
"Tidak apa-apa, Ma." Jawab Andika. Ia sama sekali tak keberatan tinggal di mana pun. Asalkan ada Intan di sisinya.
"Jadi kalau begitu, Rubby yang akan ikut kami pulang?" Tanya Mama Dewi. Ayah dan Bakti dan Bunda Maya mengangguk.
"Tak apa kan Rubby, kalau kau ikut tinggal bersama suamimu?" Tanya Bunda Maya.
"Tidak apa Bunda. Itu sudah menjadi kewajiban Rubby sebagai seorang istri, seperti yang Ayah bilang tadi." Jawab Rubby. Bunda Maya tersenyum.
"Apa sebaiknya kalian menginap dulu di sini saja?" Tanya Bunda Maya.
"Sepertinya tidak, May." Sahut Mama Dewi. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia bereskan.
"Kalau begitu... Rubby, sebaiknya kau bereskan barang-barang yang kau butuhkan." Kata Ayah Bakti.
"Iya, Ayah." Rubby beranjak bangun dari duduknya.
"Arya, bantu istrimu." Ujar Mama Dewi sambil menyenggol lengan putra sulungnya.
"Bantu istrimu untuk kemas barang, Arya." Jelas Mama Dewi.
"Tidak perlu, Ma. Rubby masih bisa melakukannya sendiri." Sahut Rubby.
"Tak apa Rubby. Lagipula sudah tugas seorang suami untuk membantu istrinya." Timpal ibu mertuanya. Arya melirik sejenak ke arah Rubby.
Sepertinya mamanya benar, dia harus membantu Rubby.
"Biar aku membantumu." Ucap Arya yang kemudian ikut bangun dari duduknya.
Rubby mengangguk pelan. Keduanya berjalan beriringan ke kamar Rubby.
"Intan, kau juga rapikan kamarmu. Mulai malam ini kau tidak tidur sendiri lagi." Titah Bunda Maya.
"Iya, Bunda. Ayo Dika, bantu aku." Intan menarik tangan suaminya. Andika menurut saja dan beranjak dari sana.
"Bagaimana menurutmu, May? Apa Arya dan Rubby bisa saling menerima satu sama lain?" Tanya Mama Dewi sambil memperhatikan sepasang pengantin baru yang menaiki tangga menuju lantai dua, karena kamar Rubby ada di sana. Sedangkan kamar Intan di lantai bawah.
"Ku harap begitu. Selama ini Rubby tak pernah dekat dengan pria manapun." Jawab Bunda Maya.
__ADS_1
"Apa itu artinya Rubby tidak pernah berpacaran?" Tanya Mama Dewi sedikit terkejut. Walaupun ia sudah cukup lama mengenal Rubby, tapi ia tidak pernah bertanya tentang hal itu. Dan Mama Dewi saat itu langsung melamar Rubby tanpa peduli jika Rubby sudah punya kekasih.
"Iya, Dewi. Rubby tak pernah berpacaran, dia ingin langsung menikah jika ada seseorang yang cocok dengannya." Jawab Bunda Maya.
"Dew, tadi Dika bilang kalau model Megalicha Audrey mantan kekasih Arya. Apa itu benar?" Ayah Bakti bertanya.
"Model Audrey?" Ulang Bunda Maya sedikit terkejut. Nama Audrey memang sudah cukup terkenal.
"Ya, itu benar." Sahutnya.
"Kenapa hubungan mereka bisa putus?" Tanya Ayah Bakti penasaran. Bagiamanapun Audrey adalah wanita yang sangat cantik dan juga profesinya sebagai model tidak bisa di pandang sebelah mata.
"Karena Mega mengkhianati putraku. Dia menjalin hubungan dengan pria lain di Paris." Jawab Mama Dewi sedikit kesal. Entahlah, jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Mega, Mama Dewi bawaannya emosi saja.
"Oh, begitu?"
"Ya Bakti, lagipula aku kurang menyukainya. Mega selalu berpenampilan seksi dan terbuka." Tambah Mama Dewi.
Ayah Bakti mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dan begitu aku melihat Rubby untuk pertama kalinya, aku langsung merasa kalau Rubby lah yang cocok untuk menjadi menantuku. Rubby begitu sederhana dan sangat ramah. Maka dari itu aku nekat melamar Rubby untuk Arya, walaupun mereka berdua belum pernah bertemu." Terangnya.
"Oh, ya. Walaupun Arya pernah berpacaran sebelumnya, tapi ia tidak pernah berbuat macam-macam. Arya adalah pria yang polos." Lanjutnya
"Benarkah?" Tanya Ayah Bakti dan Bunda Maya bersamaan, rasanaya seakan tak percaya jika di dunia ini masih ada pria yang benar-benar polos.
"Iya, dan aku berani menjamin itu. Aku juga selalu berpesan kepadanya untuk menghargai wanita, bukan merusaknya." Jawab Mama Dewi.
"Tapi sayangnya, pesanku tak berlaku untuk Andika." Mama Dewi membuang nafas berat.
"Sudahlah, Dew. Semuanya sudah terjadi. Dan ini bisa kita jadikan pelajaran ke depannya nanti. Dan yang terpenting, sekarang hubungan mereka sudah sah." Ujar Bunda Maya.
Sementara itu di kamar Rubby.
Arya berdiri di samping tempat tidur Rubby, sementara pandangannya mengedar memperhatikan tiap sudut kamar itu.
"Kamarnya bersih dan juga barang-barangnya tertata rapi." Ucap Arya dalam hati.
"Apa yang harus ku bantu?" Tanya Arya.
"Em... Mas Firaz duduk saja. Aku bisa mengemas barang-barangku sendiri, lagipula barangku tidak banyak." Ucap Rubby dengan canggung. Ini pertama kalinya ada pria yang masuk kamarnya selain ayahnya.
Arya memandang Rubby sejenak, mendengar panggilan Rubby kepadanya. Rasanya belum pernah ada orang yang memanggilnya dengan nama Firaz sebelumnya, dan itu terdengar istimewa untuk Arya.
__ADS_1