Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya, menahan air mata yang siap meluncur.


"Suamiku pria baik-baik. Tidak mungkin melakukan hal serendah itu." Gumam Rubby, tak bisa di pungkiri perkataan Mega tadi sedikit banyak mempengaruhinya. Apalagi mengingat jika keduanya sudah lama berpacaran dan mereka saling mencintai. Bukan tidak mungkin yang di katakan Mega benar adanya. Mega juga tahu betul bagaimana sikap Arya.


"Ya Tuhan, jangan biarkan aku berfikiran buruk pada suamiku sendiri..."


Rubby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berusaha menyingkirkan fikiran-fikiran buruk itu.


"Mba Rubby!" Seru Mia, gadis belia itu menepuk bahu Rubby membuat Rubby terjingkat kaget.


"Astagfirullah, Mia!" Pekik Rubby. Gadis itu benar-benar terkejut.


"Eh, maaf Mba. Mba kaget ya?" Raut wajah Mia seketika berubah. Niatnya tadi hanya ingin memanggil.


"Kenapa kau mengagetkanku?" Keluh Rubby.


"Maaf, Mba. Tidak sengaja." Jawab Mia yang merasa bersalah.


"Aku mau ke ruanganku dulu. Kau jaga meja kasir." Ujar Rubby sambil memakai kembali kacamatanya.


"Iya, Mba. Sekali lagi maaf..." Mia terlihat memelas.


"Sudahlah. jangan di fikirkan." Rubby beranjak pergi dari sana. Dirinya memang perlu ketenangan.


_


_


_


Sore harinya


Seluruh pegawai di toko kue Rubby sudah pulang, tinggal Rubby seorang di sana. Gadis itu sedang memeriksa laporan penjualan dan pemasukan di toko kuenya sambil menunggu Arya menjemputnya. Rubby sudah bisa melupakan ucapan Mega siang tadi. Tapi nanti dia akan tetap menanyakan semuanya pada Arya.


"Rubby..." Seseorang membuka pintu toko.


"Mas..." Rubby mengerutkan keningnya melihat seorang pria yang baru saja masuk. Di kiranya itu adalah suaminya.


"Tuan Bara?" Gadis itu bangkit dari duduknya, memandang heran pada Bara yang berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Hai Rubby, untung saja kau masih ada di sini." Kata Bara yang kemudian duduk berhadapan dengan Rubby.


"Ada Apa Tuan? Kenapa Tuan kemari?" Tanya Rubby.


"Jangan takut begitu, Rubby. Duduklah. Ada yang ingin ku katakan padamu." Ucap Bara yang menyadari ekspresi Rubby, gadis itu terlihat seperti tidak nyaman dengan kehadirannya.


"Sebaiknya kita bicara di luar saja, Tuan." Rubby langsung melangkah keluar. Mau tak mau Bara mengikutinya.


"Apa yang ingin Tuan bicarakan?" Tanya Rubby. Kini mereka berdua sudah duduk di kursi pengunjung luar toko dengan jarak yang cukup aman.


"Rubby, berhentilah memanggilku Tuan. Aku tak nyaman mendengarnya." Pinta Bara, namun Rubby menggeleng.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa." Jawab Rubby.


"Baiklah, terserah kau saja." Bara hanya bisa menghela nafasnya. Ia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.


"Rubby, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucapnya wambil memasang wajah serius.


"Apa Tuan?" Rubby terlihat sedikit penasaran. Sebenarnya apa yang mau di katakan pria di hadapannya itu?


Bara menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, rasa gugup itu tiba-tiba saja datang. Padahal tadi ia tidak merasa gugup sama sekali.


"Sudah lama aku menaruh perasaan terhadapmu." Ucap Bara. Kedua alis Rubby nampak saling bertaut.


"Aku..."


"Ada apa ini?" Arya menyela lebih dulu. Menghentikan Bara yang baru akan bicara. Dirinya baru saja tiba, sedikit telat menjemput Rubby. Arya sempat terkejut melihat ada Bara di sana. Pandangan curiga ia layangkan pada Rubby dan juga Bara yang tengah duduk berdua.


"Mas Firaz..." Gumam Rubby pelan, gadis itu beranjak bangun. Tak ingin suaminya salah paham terhadapnya.


"Arya? Kau di sini?" Tanya Bara memandang heran pada sahabatnya yang tiba-tiba ada di sana.


"Bukannya ini tempat umum? Jadi siapa saja bebas ada di sini bukan?" Arya balik bertanya.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Lanjut Arya. Ia ikut duduk bergabung bersama Rubby dan Bara.


"Kebetulan kau datang, kau bisa menjadi saksi. Rubby duduklah." Ujar Bara kemudian. Rubby duduk kembali di tempatnya, ekor matanya melirik takut pada Arya.


"Saksi? Saksi apa maksudmu?" Tanya Arya pada Bara. Bara tak menjawab, pria itu membuka kotak kecil yang berada di tangannya, terlihat sebuah cincin emas putih terselip di sana.

__ADS_1


"Rubby, aku mencintaimu. Apa kau bersedia menikah denganku?" Tanya Bara sambil menyodorkan kotak cincin itu kehadapan Rubby. Gadis itu terhenyak, tak di sangka Bara akan melamarnya. Berbeda dengan Arya yang terlihat tenang dengan wajah datarnya.


"Aku sungguh-sungguh Rubby. Aku mencintaimu. Biar Arya yang menjadi saksi keseriusanku padamu." Imbuh Bara. Rubby terlihat gugup, ia memandang ke arah Arya. Namun suaminya itu diam saja. Rubby menundukkan wajahnya, jemarinya saling bertaut di bawah meja.


"Kenapa tiba-tiba Tuan Bara melamarku? Dan kenapa Mas Firaz diam saja melihat istrinya di lamar pria lain?" Batin Rubby bertanya-tanya.


"Rubby, bagaimana? Apa kau menerima lamaranku?" Tanya Bara lagi, karena Rubby tidak menjawab apapun. Arya menyilangkan tangannya di depan dada, ia akan menunggu apa yang akan di ucapkan istrinya.


"Sebenarnya sudah lama aku ingin mendekatimu, tapi kau selalu menjaga jarak. Kau adalah wanita impianku. Aku benar-benar mencintaimu, Rubby. Aku ingin menikah denganmu." Ucap Bara lagi membuat Rubby semakin merasa tidak nyaman.


"Kenapa tidak di jawab?'' Arya ikut bersuara. Rubby mengangkat wajahnya, pandangannya bertemu dengan Arya.


"Kenapa Mas Firaz bertanya seperti itu? Bukannya mengakui kalau aku adalah istrinya malah ikutan bertanya." Keluh Rubby dalam hati.


"Rubby..." Panggil Bara, membuat Rubby mengalihkan pandangannya pada Bara.


"Bagaimana? Kau mau menerimaku kan?" Desak Bara. Rubby memejamkan matanya singkat, kemudian menggeleng pelan.


"Maaf Tuan, aku tidak bisa." Lirih Rubby. Raut wajah Bara langsung berubah.


"Kenapa? Apa kurangnya diriku?" Tanya Bara dengan nada kecewa.


"Katakan, aku akan memperbaikinya." Cecarnya. Rubby kembali menggeleng.


"Bukan itu alasannya. Tapi karena aku sudah menikah, Tuan." Jawab Rubby jujur, sepasang netra Bara melebar mendengarnya.


"Kau sudah menikah? Tidak mungkin, kau pasti berbohong." Ujar Bara tak percaya. Selama ini dia tidak pernah melihat ada pria yang dekat dengan Rubby di toko kue itu. Kalau sudah menikah, pasti suaminya akan berkunjung ke sana.


"Benar Tuan, aku sudah menikah satu bulan yang lalu." Jawab Rubby kembali.


"Rubby, kau boleh menolakku. Tapi tidak dengan alasan omong kosong seperti ini." Tukas Bara, lelaki itu terlihat emosi. Merasa Rubby telah membohonginya.


"Yang Rubby katakan bukan omong kosong." Sambar Arya.


"Apa maksudmu?" Tanya Bara pada Arya.


"Rubby memang sudah menikah." Jawab Arya.


"Darimana kau tahu Rubby sudah menikah? Sedangkan kau juga baru mengenal Rubby?'' Bara terlihat sangsi. Arya tidak mungkin tahu tentang kehidupan Rubby, fikirnya.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu, karena aku yang menikahinya." Jawab Arya. Bara terdiam sejenak mencerna ucapan sahabatnya, tapi kemudian pria itu malah tergelak.


"Kau bercanda, Arya? Kau sudah punya kekasih, mana mungkin menikahi wanita lain."


__ADS_2