Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Kak Arya!


__ADS_3

"Pasti terjadi sesuatu pada Kak Arya. Tidak mungkin Kak Arya meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan seperti ini." Rasa khawatir langsung menyelimuti hati Andika. Matanya berkeliling, mencoba mencari Arya.


"Kak Arya!"


"Kak Arya!"


Sambil terus berteriak memanggil nama kakaknya, Andika menyusuri daerah sekitar. Ia menuruni jalan, tempat yang lumayan sepi dan namun tidak begitu gelap.


"Kak Arya! Kakak di mana?" Andika terus berjalan, melewati jalan rerumputan. Detak jantung Andika makin tak karuan melihat sesuatu yang tergeletak di atas rerumputan.


"Ini sepatu Kak Arya." Ucapnya saat menemukan sebelah sepatu yang di yakini milik Arya.


"Kak Arya!" Andika terus memanggil, namun sosok yang di carinya tidak kunjung di temukannya.


"Kak Arya!" Teriakan Andika terdengar frustasi, sudah cukup jauh dirinya berjalan namun tak ada tanda-tanda dari Arya.


"Kakak di mana?" Andika sudah hampir menangis, sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi pada kakaknya. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah bangunan tua yang sudah rusak dan tidak terurus. Rumput ilalang memenuhi depan bangunan itu.


"Apa mungkin Kak Arya ada di dalam?" Andika memberanikan diri melangkah masuk, menyingkirkan ketakutannya akan bangunan kosong. Sepasang matanya mengedar mencari di setiap sudut bangunan yang lumayan gelap itu. Andika berjalan mendekat karena melihat sesuatu di pojok ruangan. Ia merasa tidak asing dengan corak yang terlihat di sana. Itu adalah kemeja yang Arya pakai pagi tadi!


Langkahnya semakin dekat, tenggorokan Andika seakan tercekat, dan jantungnya makin berdetak tak karuan. Matanya membulat, tubuh Andika langsung terasa lemas tak bertenaga melihat dengan jelas Arya yang tergeletak di bawah sana dengan tubuh penuh luka dan wajah yang bersimbah darah. Di dekatnya ada balok kayu dan juga serpihan kaca.


"Kak Arya...!" Dengan tangan gemetar Andika meraih tubuh kakak lelakinya.


"Kak..." Andika tidak bisa menahan air matanya.


"Kakak bangun, Kak..." Andika mengecek denyut nadi Arya, ternyata masih ada walaupun lemah.


_


_


_


Mama Dewi menghempaskan tubuhnya di sofa, perasaannya jadi tak karuan setelah Andika yang mengangkatnya panggilannya tadi. Apa terjadi sesuatu pada putra sulungnya?


"Mama, kenapa?" Tanya Rubby yang duduk di sampingnya. Mama Dewi menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa." Mama Dewi tersenyum tipis.


"Apa Mas Firaz sudah dalam perjalanan kemari?"


Mama Dewi memandang ke arah Rubby. Haruskah ia katakan kekhawatirannya?


"Ini sudah malam, tapi kenapa Arya ataupun Andika belum ada yang sampai ya?" Bunda Maya melirik ke arah jam, ini sudah jam pulang kerja Andika.


"Bunda..." Intan bergabung bersama mereka.

__ADS_1


"Bunda, Andika ke mana ya? Biasanya sudah pulang jam segini?" Tanya Intan.


"Coba kau telepon, Intan." Sahut Bunda Maya.


"Sudah Bunda, tapi tidak di angkat." Jawab Intan.


"Ya Tuhan, anak-anakku pergi ke mana?" Gumam Mama Dewi cemas, ia meremat-remat jari-jari tangannya.


"Mama, ada apa?" Tanya Rubby yang melihat ibu mertuanya gelisah.


"Mama tidak tahu, Rubby. Sepertinya terjadi sesuatu pada Arya."


"Maksudnya?"


"Tadi Mama menelepon Arya tapi tidak di angkat-angkat, tapi kemudian Andika yang menjawab. Andika bilang dia tidak tahu di mana Arya..."


Rubby membeku, apa yang sudah terjadi dengan suaminya?


"Mas Firaz baik-baik saja kan, Ma?" Tanyanya dengan suara tercekat.


"Mama tidak tahu Rubby..."


Ponsel Mama Dewi berdering, semua perhatian langsung tertuju padanya.


"Andika menelepon." Ucapnya dan langsung mengangkat panggilan itu.


Seyap. Tak ada jawaban apapun dari Andika.


"Andika?!" Suara Mama Dewi terdengar menyentak karena tidak ada jawaban. Tak lama terdengar suara sesegukan di balik ponselnya.


"Ma... Kak Arya..."


_


_


_


Tak henti-hentinya Andika menghapus kasar air matanya. Remaja itu tidak berhenti menangis apalagi saat melihat keadaan Arya tadi.


"Kak Arya... Semoga Kak Arya tidak apa-apa, semoga Kak Arya baik-baik saja." Doa itu Andika ucapakan terus-menerus dalam hatinya. Walaupun tidak mungkin, mengingat betapa parahnya keadaan Arya tadi.


"Andika!"


Andika menoleh, tampak Mama Dewi, Ayah Bakti, dan Rubby datang mendekat dengan tergesa.


"Andika, kakakmu kenapa?" Tanya Mama Dewi panik. Apalagi melihat baju Andika yang penuh darah. Karena tadi Andika membopong tubuh Arya sendiri sampai ke mobil.

__ADS_1


"Bajumu kenapa kotor begini? Apa yang sudah terjadi dengan Kakakmu?" Suara Mama Dewi sudah gemetar, tapi bukannya menjawab, Andika malah memeluk Mama Dewi dan menangis sesegukan.


"Ayah..." Rubby menggenggam tangan Ayah Bakti. Rasa takut melingkupinya, keadaan suaminya pasti tidak baik-baik saja. Apalagi melihat Andika sampai menangis seperti itu.


"Tenang Rubby." Ayah Bakti merangkul bahu putrinya. Mencoba memberi ketenangan, padahal dirinya sama cemasnya.


"Andika, jangan buat Mama takut..." Lirih Mama Dewi yang ikut-ikutan menangis. Mama Dewi kemudian membawa Andika duduk di kursi besi yang berada di sana.


"Katakan pada Mama apa yang terjadi." Tanyanya sambil perlahan melepas pelukan Andika.


"Tadi Dika dalam perjalanan pulang... Dika lihat mobil Kak Arya terparkir di pinggir jalan..."


Andika kemudian menceritakan apa yang sudah terjadi tadi walaupun dengan nafas yang tersendat-sendat.


Bulir bening mengalir begitu saja di pipi Rubby, tubuh gadis itu membeku ketika Andika baru saja menyelesaikan ceritanya.


"Mas Firaz..." Lirihnya.


"Tenanglah Rubby, Arya akan baik-baik saja." Ayah Bakti memeluk putrinya. Pintu ruangan itu terbuka. Keempat orang itu langsung bangkit menghampiri dokter yang baru saja keluar dari sana.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Mama Dewi yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Dokter pria itu menatap satu persatu orang yang ada di sana sebelum menjawab pertanyaan Mama Dewi.


"Keadaan pasien saat ini masih kritis dan kami baru saja melakukan operasi."


"Operasi?"


"Iya, operasi pada mata pasien. Kornea mata pasien mengalami kerusakan yang cukup parah akibat terkena pecahan kaca."


DEG


Semua orang langsung terdiam mendengar penjelasan dokter. Dokter pria itu kemudian melanjutkan ucapannya.


"Kemungkinan besar pasien tidak akan bisa melihat."


Bulir bening itu kembali mengalir di wajah Mama Dewi dan Rubby sementara para pria hanya bisa mematung.


"Maksud Dokter, anak saya... Buta...?" Tanya Mama Dewi dengan nafas tercekat. Dokter itu terlihat mengangguk.


"Ya, pasien akan mengalami kebutaan. Tapi tenang, kebutaan ini hanya bersifat sementara. Jika suatu hari nanti pasien mendapatkan donor kornea yang cocok, kemungkinan besar pasien dapat melihat kembali." Tutur dokter tersebut.


"Kira-kira berapa lama untuk menunggu donor kornea, Dok?" Andika bertanya.


"Untuk soal itu tidak bisa saya pastikan. Donor kornea untuk saat ini sangat jarang. Paling cepat kita bisa menunggu selama enam bulan sampai satu tahun." Jawab dokter.


Rubby merasa tiba-tiba pandangannya gelap dan seluruh tubuhnya lemas.


*****

__ADS_1


__ADS_2