Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Penasaran


__ADS_3

"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Indah sambil memasang tampang polosnya.


"Tentu saja salah, tidak seharusnya kau menemui Arya. Arya juga pasti tidak mengenal dirimu." Tukas Indra, Indah terdiam. Memang benar yang di katakan Kakaknya itu, Arya tidak mengenali dirinya.


"Aku hanya menemuinya saja, Kak. Aku merindukannya." Jawab Indah sendu. Indra menghela nafas berat.


"Tidurlah, ini sudah malam." Indra mengusap rambut adiknya, Indah mengangguk. Pria itu membantu adiknya untuk berbaring dan menyelimutinya.


"Selamat malam, Kak." Ucap Indah yang kemudian memejamkan matanya.


Indra menutup pintu kamar Indah dengan perlahan agar tidak mengganggu adiknya yang baru saja terpejam.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa juga Indah bisa begitu mencintai Arya, seperti tidak ada pria lain saja." Indra menyugar rambutnya ke belakang. Memikirkan Indah selalu membuatnya pusing. Dulu adiknya itu menderita kanker hati hingga harus menjalani perawatan di luar negri dan sekarang setelah sembuh Indah selalu memaksa pulang ke tanah air dengan alasan merindukan lelakinya. Padahal lelaki itu pun tidak mengenal dirinya.


Bukan Indra tidak suka jika Indah menyukai sahabatnya itu, tapi yang ia tahu Arya sudah lama berhubungan dengan Mega dan ia tidak ingin adiknya itu menjadi perusak hubungan orang walaupun status Arya dan Mega masih berpacaran.


_

__ADS_1


_


_


Tengah malam.


Seakan tak bosan, Arya terus memandangi wajah polos istrinya yang nampak begitu damai dalam tidurnya. Ia melabuhkan satu kecupan hangat di kening Rubby.


"Aku mencintaimu." Bisiknya, tapi tidak ada reaksi apapun dari Rubby karena wanita itu sudah benar-benar terlelap. Setelah melakukan ritual suami istri tadi Rubby sepertinya kelelahan, mungkin karena mereka melakukannya lebih dari satu kali. Bahkan Arya pun harus menggendong istrinya ke kamar mandi dan membantunya membersihkan tubuh karena istrinya itu terus merengek.


"Kenapa Rubby tidak pernah mengatakan kalau dirinya mencintaiku ya?" Pertanyaan itu tiba-tiba menyelinap di fikiran Arya.


"Akh iya, aku ingat!" Sorak Arya dalam hati ketika mengingat sesuatu yang penting dan sepertinya bisa memberi petunjuk untuknya. Perlahan ia memindahkan kepala Rubby yang bersandar di lengannya, beruntung Rubby tidak merasa terusik sedikitpun.


Di rasa aman, Arya bangun dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju lemari Rubby. Di bukanya pintu lemari itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


"Di mana ya?" Arya mencoba mencari sesuatu di antara tumpukan baju Rubby di dalam sana.

__ADS_1


"Ketemu!" Arya mengeluarkan buku dengan sampul tebal itu.


"Aku penasaran apa isi dari buku ini. Apalagi Rubby selalu marah jika aku ingin membaca buku ini." Ia membolak-balikan buku itu dan melangkah menuju kursi yang ada di kamar itu. Walau hanya cahaya temaram yang menerangi kamar, rasanya Arya masih bisa membaca dengan jelas isi dari buku tersebut.


Lelaki itu melirik ke arah Rubby sebelum membuka sampul kancing bukunya. Di rasa tidak ada tanda-tanda Rubby akan terbangun, Arya mulai membukanya.


Kedua alis pria itu saling bertaut, melihat sesuatu di sana. Sebuah gambar sketsa wajah di bagian paling depan.


"Ini sketsa wajahku." Gumamnya. Arya membuka halaman berikutnya, ada sketsa wajahnya lagi dan tulisan Rubby di sana.


"Kau siapa? Kenapa aku tidak bisa melupakan wajahmu?"


Kening Arya berkerut dalam saat melihat tanggal yang tertera di sana. Itu hampir dua tahun yang lalu, jauh sebelum pernikahan pertamanya dengan Rubby.


"Kenapa Rubby bisa membuat sketsa wajahku? Bukannya kami pertama kali bertemu saat melamar Intan? Apa aku pernah bertemu Rubby sebelumnya?"


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2