Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Teman Baru


__ADS_3

Sejak bangun tidur tadi Arya lebih banyak diam, pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mas Firaz, kenapa?" Tanya Rubby yang menyadari perubahan pada suaminya. Arya menatap Rubby dengan sendu, ia teringat semua kata-kata yang Rubby tulis di dalam bukunya.


"Mas sakit?" Rubby mengangkat tangannya, menyentuh wajah suaminya.


"Aku baik-baik saja." Arya menggenggam tangan istrinya.


"Apa kau mencintaiku, Rubby?" Tanya Arya tiba-tiba. Mata Rubby di balik kacamatanya mengedip beberapa kali.


"Kenapa Mas menanyakan hal itu?" Rubby balik bertanya.


"Aku hanya ingin tahu saja. Kau tidak pernah sekalipun mengatakan cinta padaku." Ucap Arya menatap lekat istrinya. Wanita itu menundukkan wajahnya.


"Rubby." Arya mengangkat dagu istrinya, hingga mereka saling bertatapan kembali.


"Aku, aku..." Rubby tergagap, ia seakan tidak bisa mengatakan apapun. Lidahnya kelu.


"Aku mau membantu Bunda membuat sarapan, Mas!" Rubby langsung berlari keluar dari kamarnya, meninggalkan Arya yang terbengong di sisi tempat tidur.


"Apa begitu sulit untukmu mengatakan cinta? Aku suamimu, Rubby. Aku saja sudah tidak terhitung berapa kali mengucapkan kata itu padamu. Seharusnya kau tidak perlu malu, untungnya aku sudah membaca isi dari buku itu. Dan aku akan memaksamu untuk mengatakan cinta padaku."


Langkah Rubby berhenti di tengah anak tangga untuk menormalkan detak jantungnya.


"Kenapa tiba-tiba Mas Firaz bertanya seperti itu? Apa masih penting untuk mengatakan cinta sedangkan kami sudah jadi suami istri seutuhnya? Apa Mas Firaz tidak bisa melihatnya sendiri tanpa aku mengatakannya?" Gumam Rubby.


"Di mana-mana perempuan yang meminta lelaki untuk mengungkapkan cinta padanya, tapi kenapa ini malah terbalik?" Keluhnya sambil kembali menuruni tangga.


_


_

__ADS_1


_


Siang harinya di Rubby Cake's.


Indah membuka pintu mobilnya, senyum manis tercetak di wajah cantiknya. Ya, Indah memang cantik. Tidak berbeda jauh dengan Mega, tubuhnya tinggi semampai dan rambutnya panjang hitam berkilau.


Kaki jenjang itu melangkah lebar memasuki toko kue milik Rubby.


"Permisi." Sapa Indah pada seseorang yang menjaga meja depan.


"Ya, selamat datang di Rubby Cake's." Rubby menyapa balik.


"Anda Nona yang kemarin kan?" Tanya Rubby yang masih mengingat wajah Indah.


"Iya, namaku Indah. Boleh aku tahu namamu?" Indah mengenalkan dirinya.


"Namaku Rubby, Nona." Jawab Rubby


"Rubby? Namamu sama seperti toko kue ini, apa kau pemiliknya?" Tanya Indah, gadis itu sudah jauh lebih ramah di banding kemarin. Niatnya Indah ingin mencari teman baru, karena terlalu lama di luar negeri ia jadi kehilangan teman-teman lamanya.


"Kau hebat, masih muda tapi sudah punya usaha sendiri." Ucap Indah yang terlihat kagum. Rubby tersenyum, walaupun dalam hati merasa heran kenapa gadis di hadapannya berbeda dengan kemarin.


"Apa Nona mau pesan kue lagi?" Tanya Rubby.


"Em... Kue seperti kemarin saja." Jawab Indah.


"Baiklah, Nona. Aku siapkan dulu ya."


Beberapa saat kemudian.


"Ini Nona, pesanan anda." Rubby menyerahkkan satu kotak kue pada Indah.

__ADS_1


"Kenapa kau terus memanggilku Nona? Panggil Indah saja." Pinta Indah.


"Maaf Nona, kami selalu memanggil pembeli di sini dengan sebutan Nona atau Tuan." Rubby menjelaskan.


"Ya sudah, kalau begitu kita berteman saja. Jadi kau bisa memanggil namaku saja." Ujar Indah dengan entengnya membuat Rubby terperangah.


"Kau mau kan berteman denganku?" Tanya Indah memastikan. Rubby tetap mengangguk walaupun ragu.


"Baiklah kita berteman." Jawab Rubby. Indah tersenyum lebar, dan mengulurkan tangannya. Rubby menyambutnya setelah terdiam beberapa saat.


"Indah Lestari."


"Rubby Az Zahra."


"Baiklah Rubby, ini uangnya." Indah menyerahkan beberapa lembar uang pada Rubby.


"Terima kasih, Indah."


"Aku harus pergi, aku ingin memberikan kue ini untuk seseorang."


"Seseorang? Apa dia kekasihmu?" Tanya Rubby. Indah menggeleng.


"Bukan, tapi calon kekasihku. Dan semoga saja dia bisa menjadi kekasihku." Jawab Indah sambil tertawa.


"Calon kekasih? Ya semoga saja kau bisa jadian dengannya." Sahut Rubby, ia tidak tahu saja kalau lelaki yang di maksud Indah adalah suaminya sendiri.


"Ya, semoga saja. Sudah lama aku menyukainya." Pandangan Indah berubah sendu.


"Semangat, Indah. Kejarlah dia kalau kau yakin padanya." Rubby memberikan semangat untuk teman barunya.


"Haha... Terima kasih Rubby." Gadis itu berlalu dari sana menuju ke suatu tempat.

__ADS_1


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2