
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku." Lirihnya dalam hati. Mama Dewi memandang nanar pada menantunya, kemudian menghampirinya.
"Rubby, ada apa denganmu? Mama tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Kau bilang tidak tidak membenci suamimu, tapi kenapa sikapmu seperti ini pada Arya?" Tanya Mama Dewi sambil mengusap rambut Rubby yang tertutup hijab, Rubby menundukkan wajahnya.
"Rubby sudah tidak layak untuk Mas Firaz..." Lirihnya.
"Tidak layak? Maksudmu?"
Rubby hanya menggeleng pelan dan tiidak menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
_
_
_
Sementara itu di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, ruangan itu tertutup, hanya sebagian cahaya matahari yang menyinari tempat itu hingga membuat tempat itu sedikit gelap. Dua orang nampak saling menatap tajam.
"Semua salahmu! Andai saja kau tidak menyarankan ide bodoh itu, semua tidak akan seperti ini!" Seru Bara pada wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
"Kau menyalahkan aku?" Tanya Mega menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja. Semua memang salahmu!" Jawab Bara.
"Hah! Kau yang bodoh! Aku hanya menyuruhmu untuk menakuti gadis itu, tapi kau malah tidak bisa menahan diri!" Sentak Mega tak terima.
"Kau tidak tahu bagaimana aslinya Rubby. Andai kau pria, ku yakin kau pasti juga tidak bisa menahan diri!" Sanggah Bara, Mega memandang remeh pada lelaki itu.
"Cih! Tetap saja dia wanita kampungan!" Mega berdecih. Baginya Rubby tetaplah wanita kuno yang sangat jauh jika di banding dengan dirinya.
"Aku tidak mau tahu, Bara. Kau harus menyelesaikan ini sendiri, dan jangan pernah membawa-bawa namaku!" Tandasnya.
"Enak sekali kau mau cuci tangan begitu saja. Sekarang aku sudah menjadi buronan polisi dan itu gara-gara dirimu!" Tukas Bara, jari telunjuknya tepat di depan wajah Mega.
"Singkirkan tanganmu!" Mega menepisnya.
"Itu semua konsekuensi yang harus kau tanggung! Dan aku tidak peduli!" Mega menatap tajam Bara sebelum akhirnya pergi dari sana meninggalkan lelaki itu seorang diri.
"Mega, jangan harap kau bisa lolos begitu saja." Geramnya.
Rahang Bara mengeras, jemarinya mengepal. Semudah itu Mega bicara, tapi dirinya yang harus menanggung akibatnya seorang diri. Padahal semua adalah ide wanita itu.
__ADS_1
"Arya Firaz, kau sudah merebut wanita yang ku cintai. Kau dan mantan kekasihmu juga sudah membuatku dalam masalah. Aku tidak akan tinggal diam. Kau juga harus ikut menanggung akibatnya." Sorot mata Bara memancarkan api amarah.
_
_
_
Sebuah mobil baru saja meninggalkan halaman rumah minimalis bercat biru langit. Seorang gadis memperhatikan mobil itu hingga menghilang dari pandangannya di balik jendela kamarnya.
"Maafkan aku, Mas..." Lirih Rubby, ia memejamkan matanya. Menahan rasa sesak di dadanya. Rubby tak ingin berpisah dari Arya, tapi keadaannya sekarang memaksanya untuk tidak bersama suaminya.
"Rubby..." Bunda Maya masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, Bunda."
"Kau baik-baik saja?" Tanya Bunda Maya, membelai lembut wajah putri sulungnya. Rubby mengangguk pelan.
"Boleh Bunda tanya sesuatu?" Tanya Bunda Maya lagi.
"Apa Bunda?" Sebelum bicara Bunda Maya membawa Rubby duduk di sisi ranjang.
"Apa selama menikah Arya memperlakukanmu dengan baik?" Tanyanya.
"Apa Arya pernah marah atau berbuat kasar padamu?" Tanya Bunda Maya lagi. Rubby terdiam sejenak mencoba mengingat. Dulu Arya pernah mencengkram lengannya hingga memerah, tapi Arya melakukan itu tanpa sengaja karena menganggap dirinya menyukai pria lain.
Rubby kemudian menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak pernah Bunda. Mas Firaz tidak pernah marah ataupun memukul Rubby." Jawabnya. Bunda Maya tersenyum lembut.
"Kau memutuskan untuk tinggal di sini sendiri, Bunda yakin ada alasannya. Bunda tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Tapi Bunda harap kau tidak terlalu lama tinggal terpisah seperti ini dengan suamimu. Karena bagaimanapun kalian masih suami istri, tidak baik jika suami istri tinggal terpisah seperti ini." Tuturnya.
"Sebaiknya sekarang kau istirahat saja, tenangkan fikiranmu."
"Iya, Bunda." Ucapnya. Rubby mengangguk dan membaringkan tubuhnya, Bunda Maya menyelimuti, mendaratkan ciuman hangat di kening putrinya.
Bunda Maya memandang iba ke arah Rubby, teringat saat tadi putri dan menantunya itu datang. Di fikirnya mereka berdua akan menginap sementara di rumah, tapi ternyata Rubby memilih untuk tinggal berpisah bersama suaminya.
"Semoga hubungan kalian cepat membaik."
_
__ADS_1
_
_
Arya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, pandangan hampa di arahkannya ke langit-langit kamarnya. Setelah mengantar Rubby, Arya memutuskan untuk pulang saja dan tidak kembali ke tempat kerjanya. Untuk apa kembali ke sana? Sedangkan fikirannya sedang kacau balau seperti ini.
Sepanjang perjalan mengantar Rubby ke rumah Bunda Maya, Rubby diam saja. Gadis itupun memilih untuk duduk di kursi penumpang bersama Mama Dewi daripada duduk di sampingnya. Saat sudah sampai di rumah, Rubby langsung saja pergi ke kamarnya. Tanpa berucap satu katapun padanya.
"Rubby... Apa yang harus ku lakukan agar kau tak marah lagi padaku?" Arya beranjak duduk, memijat kepalanya yang terasa pusing. Arya terdiam, ia teringat sesuatu.
"Mega..." Gumamnya.
"Ke mana wanita itu? Kemarin-kemarin begitu gencar untuk menemuiku. Tapi sekarang menghilang bagai di telan bumi." Arya mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Mega. Tapi sayangnya nomor itu sudah tak aktif.
"Ck." Arya berdecak, melempar ponselnya di atas kasur. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Apa dia kembali ke Paris? Kenapa polisi lama sekali untuk menangkap Bara? Ke mana perginya dia? Apa bersembunyi bersama Mega?"
Berbagai pertanyaan memenuhi fikiran Arya. Ia memijat pangkal hidungnya. Rasanya masalah dalam hidupnya tak ada habisnya. Mulai dari pengkhianatan Mega, adiknya yang menghamili anak orang, hingga akhirnya dirinya harus terlibat pernikahan dengan Rubby. Kini setelah dirinya jatuh cinta pada Rubby, justru harus dipisahkan oleh musibah yang menimpa Rubby dan dirinya lah penyebab utamanya.
_
_
_
Dua hari berlalu...
Kehampaan menyelimuti sepasang suami istri itu. Rubby hanya menghabiskan waktu di kamarnya. Sementara Arya bekerja seperti biasa, dan setiap pergi dan pulang dari tempat kerjanya Arya selalu menyempatkan untuk singgah sejenak di depan toko kue Rubby yang masih belum beroperasi kembali.
Rencananya hari ini Arya akan coba untuk menemui Rubby. Mungkin setelah dua hari emosi Rubby padanya sudah berkurang. Tanpa ia tahu, sebenarnya bukan itu alasan Rubby menghindarinya.
_
_
Jemari lentik itu meraba gambar sketsa wajah yang selama dua hari ini dibuatnya. Entah berapa kali ia menggambar setiap harinya, waktunya hanya habis untuk membuat sketsa wajah pria yang dicintainya saja.
"Mas Firaz... Aku merindukanmu..." Air mata Rubby jatuh menetes membasahi gambar sketsanya. Ditutupnya buku tebal itu, dan dipeluknya begitu erat. Rubby membaringkan tubuhnya, dengan buku yang masih ada dipelukannya.
"Kenapa Mas Firaz tidak datang menemuiku kemari?"
__ADS_1
Sudah dua hari ini diam-diam Rubby selalu menunggu kedatangan suaminya.