Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Percayalah Padaku


__ADS_3

"Dengar, Rubby. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Mega." Kata Arya, Rubby menggeleng pelan.


"Kau masih mencintainya, Mas." Sahut Rubby.


"Tidak, Rubby." Arya kembali menyangkal.


"Mas masih mencintanya. Kalau tidak kenapa Mas terus-terusan menyebut nama Mega?" Cecar Rubby.


"Kapan aku menyebut nama Mega?" Arya balik bertanya. Rubby masih menatapnya, rasanya ini saat yang tepat untuk mengungkapkan apa yang di rasakannya waktu itu.


"Saat Mas demam tempo hari. Mas mengigau nama Mega. Mas bahkan mengatakan kalau mencintainya dan ingin menikah dengannya." Terang Rubby dengan suara tercekat. Terlihat Arya mengerutkan keningnya.


"Benarkah?" Tanyanya dengan nada tak percaya. Rasanya dirinya tidak melakukan hal seperti itu.


"Ya. Mas mengatakan kalau sudah tidak mencintai Mega. Tapi jauh di lubuk hati Mas, Mas masih mencintanya." Jawab Rubby, sepasang netranya sudah terlihat berkaca-kaca. Arya membeku. Demi Tuhan Arya berani bersumpah, kalau dirinya sudah tidak lagi mencintai Mega. Tapi kenapa ia malah mengigau nama Mega?


"Aku pasti tidak sadar saat melakukan itu." Ucapnya. Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya, menahan air mata yang siap untuk meluncur. Memang Arya tidak sadar, tapi kenapa harus nama Mega yang di sebutnya padahal Rubby lah yang ada di sisinya?


"Aku yang menemani Mas malam itu, bukan Mega." Lirih Rubby.


"Maaf." Ucap Arya pelan, tangannya menggenggam erat tangan Rubby.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku saja yang terlalu berlebihan." Rubby menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku mau membuat sarapan, Mas." Rubby mengalihkan pembicaraan. Tangannya menepis genggaman Arya hingga akhirnya terlepas. Rubby hendak beranjak dari tempat tidur, tapi suara Arya menghentikan gerakannya.


"Aku sudah tidak mencintai Mega. Dan aku berani bersumpah untuk itu." Arya menarik lengan Rubby hingga keduanya saling bertatapan kembali.


Tangan Arya terangkat, jemarinya kembali membelai wajah Rubby dan berhenti tepat di bibirnya. Rasanya Arya tidak bisa lagi menahan keinginannya. Wajahnya perlahan mendekat dan pelan namun pasti, Arya menyatukan bibir mereka berdua.


Rubby membeku, menyadari suaminya tengah menciumnya. Ingin rasanya menolak, medorong dada Arya dan pergi menjauh karena Rubby masih tidak tahu apa arti dirinya untuk Arya. Namun Rubby tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia juga menginginkan sentuhan suaminya. Akhirnya kedua matanya terpejam menikmati ciuman hangat dan lembut dari Arya. Ciuman pertama mereka. Tangan Arya merengkuh pinggang ramping isrinya hingga tubuh keduanya merapat. Sedangkan tangan Rubby berada di dada Arya, merasakan detak jantungnya.


Arya mendorong pelan tubuh Rubby hingga akhirnya terbaring, seiring dengan ciuman mereka yang berakhir. Arya menatap dalam wanita yang kini berada di bawahnya.

__ADS_1


"Percayalah padaku, Rubby." Bisiknya. Arya kemudian berpindah posisi di samping Rubby dan meraih tubuh Rubby ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala istrinya di dadanya.


Sementara Rubby hanya diam tanpa membalas pelukan suaminya. Dirinya benar-benar bingung dengan sikap Arya yang mendadak berubah.


_


_


_


Sementara itu di kediaman Ayah Bakti.


"Andika! Apa sudah selesai?" Teriak Intan yang sudah berdiri tak jauh dari suaminya.


"Sebentar lagi, sayang." Sahut Adika.


"Kenapa lama sekali? Anakmu sudah lapar." Rengek Intan sambil mengusap-usap perutnya yang masih nampak rata, usia kandungannya kini sudah menginjak dua bulan.


"Sabar, Intan. Sebentar lagi selesai." Andika mengaduk-aduk nasi goreng di dalam wajan, sementara Intan hanya memperhatikannya saja dari jarak aman. Ibu hamil itu tidak bisa terlalu dekat dengan dapur dan kompor. Ia akan langsung mual jika tercium aroma dapur.


"Meminta suamimu memasak lagi?" Sambungnya. Intan mengangguk dengan tatapan polosnya. Bunda Maya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putrinya. Sudah beberapa hari ini Intan hanya ingin makan makanan yang di masak suaminya. Untungnya Andika bersedia belajar memasak saat tahu Intan hanya ingin makanan buatannya.


"Ini, sayang. Nasi gorengnya sudah jadi." Andika menghampiri istrinya dengan membawa sepiring nasi goreng yang baru saja selesai di buatnya.


"Hore!" Intan bersorak layaknya anak kecil.


"Bunda, Intan sarapan dulu ya." Ujar Intan sambil menarik suaminya menuju meja makan. Bunda Maya menghela nafas berat.


"Rasanya aku waktu hamil pertama dan kedua tidak semanja itu dengan suamiku. Tapi Intan manja sekali dengan suaminya. Apa Rubby juga akan begitu kalau hamil nanti?" Gumamnya.


Sedangkan di meja makan, Andika tengah menyuapi Intan.


"Bagaimana rasanya? Enak tidak?" Tanya Andika. Intan mengangkat kedua ibu jarinya.

__ADS_1


"Tentu saja enak. Masakan suamiku selalu enak." Puji Intan dengan mulut penuh makanan.


"Oh, ya? Boleh aku mencobanya?" Tanya Andika yang penasaran dengan nasi goreng buatannya. Selama ini ia belum pernah sekalipun mencicipi masakannya sendiri karena ia langsung berikan pada Intan yang selalu tidak sabaran jika dirinya baru selesai memasak.


"Sedikit saja." Ujar Intan dengan tatapan tak relanya.


"Iya, Intan." Andika mengambil satu sendok dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan, namun seketika matanya terbelalak.


"Uhuk, uhuk!" Dengan cepat Andika meraih gelas di sampingnya dan meneguk isinya hingga tak bersisa.


"Kenapa?" Tanya Intan heran. Andika hanya menggeleng sambil tersenyum kaku.


"Kenapa rasanya aneh sekali? Terlalu manis, apa aku tadi kebanyakan menuang kecap ya? Dan juga bau bawangnya begitu menyengat. Tapi kenapa Intan bilang rasanya enak?" Andika bertanya-tanya dalam hati.


"Andika, kenapa diam? Suapi aku lagi." Ujar Intan menyadarkan Andika dari lamunannya.


"Iya, iya." Andika kembali menyuapi Intan dengan satu sendok penuh nasi goreng.


"Apa Intan tidak mual ya makan sebanyak ini? Tadi aku makan satu sendok saja rasanya sudah mengacak-ngacak lidahku. Hah, selera ibu hamil memang kadang-kadang aneh." Batin Andika.


_


_


_


Andika mengenderai sepeda motornya dengan kecepatan penuh, dirinya sudah hampir terlambat kerja karena tadi melayani istrinya dulu.


"Gawat, mobil Kak Arya sudah sampai." Andika panik melihat mobil kakaknya sudah berada di parkiran. Karena sesuai peraturan di coffe shop itu, pegawai harus datang lebih dulu di banding atasanya.


"Bisa-bisa Kak Arya memotong gajiku lagi." Andika kembali melajukan motornya menuju parkiran. Memakirkan motornya tak jauh dari mobil Arya. Dengan tergesa Andika turun dan hendak masuk coffe shop. Tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Andika, kau baru datang?" Tanya Arya yang baru keluar dari mobilnya. Andika tersenyum kaku, kakak sekaligus bosnya itu ternyata masih ada di dalam mobil, di fikirnya Arya sudah masuk dan berada di ruangannya.

__ADS_1


"Iya, Pak Arya. Tadi saya melayani istri saya dulu, karena istri saya sedang hamil jadi sangat manja pada saya." Jawab Andika sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya.


__ADS_2