
"Istriku wanita tercantik bagiku. Tadi kau bilang hati manusia mudah berubah? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah bisa melupakan perasaanmu pada istriku?" Tanya Arya, seketika lidah Dokter Malik terasa kelu. Lelaki itu mendengus, kenapa Arya jadi membahas perasaannya pada Rubby?
Arya tersenyum miring melihat lawan bicaranya terdiam.
"Lihatkan, kau tidak bisa menjawab." Ucapnya telak.
"Kita sedang membicarakanmu, kenapa jadi bawa-bawa diriku?" Dokter tampan itu balik bertanya.
"Sama saja denganmu. Aku mencintai istriku, dan akan tetap seperti itu." Timpal Arya.
"Ya, ya. Kau menang. Tapi kalau sampai suatu hari nanti kau menyakiti Rubby, aku akan langsung merebutnya darimu!"
"Silakan saja jika Rubby bersedia." Jawab Arya dengan santainya karena ia tahu Rubby pasti akan menolak lelaki itu. Sekali lagi, Dokter Malik kalah telak dari Arya.
"Cih, aku heran kenapa Rubby bisa sangat mencintaimu? Wajahku tidak kalah tampan darimu, aku seorang dokter dan aku laki-laki yang baik." Ujar Dokter. Arya langsung tertawa mendengarnya.
"Kau bisa tanyakan hal itu langsung pada Rubby." Sahut Arya. Dirinya juga sebenarnya tidak tahu kenapa Rubby bisa sangat mencintainya, sedangkan ada Dokter Malik yang lebih baik darinya. Apalagi setelah membaca tulisan Rubby semalam, yang merupakan isi hati Rubby.
Dokter Malik melirik ke arah arloji di tangan kirinya, sepertinya dia harus bekerja kembali.
"Ini sudah siang, aku harus kembali ke rumah sakit." Dokter Malik beranjak dari duduknya.
"Ya, terima kasih atas kunjungannya." Arya ikut bangun dari kursinya.
"Kalau ada keluhan, kau bisa hubungi aku." Pesannya.
"Tentu."
"Aku permisi." Pamitnya yang di jawab anggukkan oleh Arya.
__ADS_1
Baru saja hendak beranjak, Arya menghela nafas berat. Ia baru sadar kotak kue yang di berikan Indah padanya masih ada di atas meja.
"Apa iya Indah menyukaiku seperti yang di katakan Dokter Malik tadi? Tapi rasanya tidak mungkin. Aku dan dia tidak pernah dekat sama sekali." Gumamnya.
"Ck, benar-benar merepotkan!" Bukannya senang mendapatkan kiriman cake, Arya malah merasa risih. Arya meraih kotak kue itu dan memberikannya pada para pegawainya. Ia kemudian kembali ke ruangannya.
Tok, tok, tok.
Baru saja akan mendaratkan tubuhnya di kursi, pintu ruangan Arya sudah di ketuk.
"Ck, siapa lagi sih?" Arya berdecak dan kembali bangun, ia berjalan ke arah pintu. Belum sempat ia meraih handle pintu, benda bercat coklat itu sudah terbuka lebih dulu.
BRAK!
"Auch!" Arya meringis, hidung mancung dan dahinya terbentur pintu dengan cukup keras.
"Kak Arya?" Andika masuk ke dalam ruangan itu, ia begitu terkejut melihat Kakaknya yang berdiri di belakang pintu sambil menutup wajahnya.
"Andika!" Teriakan Arya tertahan, ia masih menahan rasa sakit pada hidung dan dahinya.
"Kenapa kau sembarangan membuka pintu?!" Serunya.
"Maaf Kak, aku tidak tahu Kak Arya ada di belakang. Lagipula Kakak sedang apa di belakang pintu?"
"Aku mau buka pintunya, tapi kau malah langsung membukannya. Ck, hidungku sakit sekali." Arya berjalan kembali ke kursinya dengan tangan yang masih memegang hidungnya.
"Maaf, Kak." Ucap Andika takut-takut, setelah ini dia pasti akan di hukum potong gaji.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Arya yang masih meringis.
__ADS_1
"Siapa Indah?" Andika balik bertanya dan langsung menatap curiga pada Arya.
"Indah?"
"Iya, Indah. Gadis yang tadi memberi cake pada Kakak." Tanpa sengaja tadi Andika mendengar percakapan Arya dan Indah ketika dirinya sedang merapikan meja pelanggan.
"Dia adiknya Indra, teman kuliahku." Jawab Arya apa adanya.
"Kenapa dia memberi cake pada Kakak?" Andika seakan mengintrogasi sang Kakak.
"Aku tidak tahu, kau tanyakan saja langsung padanya." Sahut Arya acuh, ia masih fokus pada rasa sakitnya.
"Awas Kakak kalau berani macam-macam. Akan ku laporkan pada Mama." Kata Andika dengan nada mengancam.
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun." Sahut Arya jujur.
"Ya sekarang belum, besok- besok bisa saja Kak Arya nakal. Apalagi gadis itu cantik, bukan tidak mungkin Kakak akan tergoda padanya." Timpal Andika. Arya menganga tak percaya mendengarnya, sejak kapan dirinya menjadi pria nakal?
"Andika! Aku bukan pria nakal! Aku suami yang setia." Sahut Arya yang masih menutupi hidungnya.
"Ya, tapi kan..."
"Sebaiknya kau keluar. Ini masih jam kerja, atau mau ku potong gajimu?" Kini giliran Arya yang mengancam. Andika langsung menatap datar sang Kakak, lagi-lagi kakaknya itu menggunakan ancaman potong gaji!
"Iya, aku keluar. Tapi ingat pesanku, Kak." Tandasnya sebelum pergi dari ruangan itu.
Arya hanya mengibaskan tangannya, menyuruh sang adik untuk keluar.
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊