
"Arya, kau ini semalam demam tinggi. Untung saja ada istrimu yang menjaga dan mengurusmu. Apa kau mau sakit lagi dan menyusahkan istrimu lagi?" Mama Dewi menyela lebih dulu. Arya melirik Rubby yang tengah memakai hijabnya di depan meja rias. Benar juga kata mamanya, kalau ia sakit lagi itu akan menyusahkan Rubby saja. Sementara Rubby hanya jadi pendengar yang baik tanpa ikut bicara. Lagipula itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri.
"Iya, Ma." Mau tak mau Arya akhirnya menurut, tidak baik melawan ucapan orang tua.
"Tapi nanti Rubby berangkat dengan siapa?" Tanyanya kemudian.
"Nanti Mama akan pesankan taksi." Jawab Mama Dewi, Arya hanya bisa membuang nafas berat. Rubby menghampiri ibu mertua dan suaminya.
"Rubby, tidak apa-apa kan kalau hari ini kau berangkat naik taksi? Biar suamimu ini istirahat di rumah." Tanya Mama Dewi. Rubby mengangguk.
"Tidak apa, Ma. Lagipula Mas Firaz belum benar-benar sehat." Jawabnya.
"Terima kasih, sayang. Kau benar-benar istri yang pengertian." Mama Dewi mengusap lembut lengan Rubby.
"Ya sudah, ayo kita sarapan." Ajak Mama Dewi.
"Em.. Mas Firaz mau sarapan di mana?" Tanya Rubby pada suaminya.
"Di bawah saja." Jawab Arya sambil beranjak bangun.
"Memangnya kaki Mas sudah tidak sakit?" Tanya Rubby lagi.
Mama Dewi mengerutkan keningnya.
"Memang kakimu sakit, Arya?" Tanyanya. Arya melirik istri dan sang mama bergantian kemudian menjawab,
"Kemarin Arya jatuh kepleset di coffe shop, Ma. Gara-gara Andika yang mengepelnya tidak benar." Jawabnya.
"Jadi kau jatuh di coffe shop? Lalu bagaimana? Apa ada tulang yang patah atau terkilir? Kenapa kau tidak ke rumah sakit?" Tanya Mama Dewi khawatir sambil membolak-balikan tubuh putranya.
"Mama, aku baik-baik saja. Kemarin tangan dan kakiku yang sakit. Tapi semalam Rubby sudah memijatku dan rasa sakitnya sudah jauh berkurang." Jelas Arya.
"Untung saja ada istrimu." Mama Dewi menghembuskan nafas lega.
"Ya, Ma. Dan terima kasih Rubby, berkat kau aku sudah jauh lebih baik sekarang." Ucap Arya sambil menatap dalam Rubby. Rubby yang di tatap sedemikian rupa, jadi gugup sendiri.
"I... Iya, Mas. Lagipula itu sudah menjadi tugasku." Jawab Rubby sambil menundukkan wajahnya. Mama Dewi tersenyum simpul, sepertinya anak dan menantunya sudah semakin dekat. Sepertinya ia harus sering-sering meminta Andika untuk membuat kakaknya itu terpleset dan berakhir dengan pijat memijat dengan istrinya.
_
_
_
Rubby Cake's
Rubby duduk di depan meja kasirnya, sesekali ia tampak menguap. Matanya terasa begitu berat. Semalam ia hanya tidur kurang dari dua jam saja.
__ADS_1
"Mba? Mba kenapa? Mba Rubby ngantuk?" Tanya Mei salah satu pegawai Rubby.
"Ah, iya ngantuk sedikit, Mei." Jawab Rubby sambil memijat pangkal hidungnya dengan jari telunjuknya.
"Mba Rubby habis begadang ya semalam?" Tanya Mei dengan tatapan menggodanya.
"Iya Mei. Semalam suamiku demam tinggi, jadi aku menjaganya semalaman." Jawab Rubby.
"Eh... Ku kira..." Mei tak melanjutkan ucapannya.
"Kau kira apa?" Sambar Rubby.
"He.. he.. Ah, Mba kaya tidak tahu saja. Mba kan masih dalam suasana pengantin baru." Mei nampak salah tingkah dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Rubby hanya bisa menggeleng melihat kelakuan pegawainya.
"Jangan berfikir yang aneh-aneh Mei." Tukasnya.
"Tidak Mba, aku berfikir realistis." Timpal Mei.
"Ya... Terserah kau saja." Rubby beranjak dari duduknya.
"Oh ya, Mba. Ngomong-ngomong suami Mba kenapa tidak pernah kemari?" Tanya Mei. Memang ia dan pegawai yang lainnya tak pernah sekalipun bertemu dengan Arya.
"Suamiku selalu kemari untuk mengantar dan menjemputku, Mei." Jawab Rubby sambil merapikan beberapa kue di etalase.
"Tapi kami tidak pernah melihatnya, Mba."
"Oh begitu? Tapi kami penasaran, Mba. Sekali-kali kenalkan lah pada kami."
"Nanti ya, kalau waktunya sempat." Rubby sendiri ragu untuk mengenalkan Arya pada para pegawainya. Karena Arya yang selalu menolak jika di minta untuk mampir saat mengantarnya.
"Okey. Aku ke dapur lagi ya, Mba." Sahut Mei yang di jawab anggukkan oleh Rubby.
_
_
_
Sore harinya.
Arya sudah nampak rapi dengan kaus turtle neck hitam dan juga celana jeansnya, Wajahnya sudah terlihat berseri tak pucat lagi seperti kemarin. Sentuhan seorang istri benar-benar menyembuhkannya.
"Arya? Kau mau ke mana?" Tanya Mama Dewi yang melihat putranya menuruni tangga.
"Arya mau jemput Rubby, Ma." Jawabnya.
"Jemput Rubby?" Mama Dewi melihat arloji yang melingkar di tangannya. Ini masih lumayan siang.
__ADS_1
"Memangnya kau sudah sehat?" Tanyanya.
"Sudah, Ma. Arya baik-baik saja. Sudah ya Ma, Arya jalan dulu." Arya meraih meraih tangan Mama Dewi dan menciumnya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arya sambil berlalu dari sana.
" Wa'alaikumsalam." Mama Dewi memandang punggung Arya yang menjauh.
"Semoga saja Arya sudah bisa mulai mencintai Rubby. Bagaimanapun Rubby adalah gadis yang baik." Batin Mama Dewi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Arya sampai di toko kue istrinya. Terlihat toko itu masih ramai dengan pengunjung.
"Selamat datang di Rubby Cake's." Suara itu menyambut Arya yang baru saja membuka pintu.
"Bukannya dia pria yang waktu itu..." Ria yang kebetulan sedang menjaga meja depan mendadak terdiam. Ia ingat, lelaki itu pernah datang ke sana beberapa waktu lalu mencari Rubby. Arya melangkah menghampirinya.
"Maaf, saya mau tanya..."
"Arya?!"
Seseorang menepuk pundak Arya, menghentikannya yang baru akan bicara pada Ria.
"Bara?" Ternyata Bara yang menyapanya.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Bara.
"Aku..."
"Sebaiknya kita duduk dulu, tidak nyaman bicara sambil berdiri seperti ini." Lagi, Bara lebih dulu menyela sebelum Arya menjawab pertanyaannya.
"Ria, bawakan dua kopi ya." Ucap Bara pada Ria.
"Iya, Tuan." Jawab Ria yang menatap kedua pria itu bergantian.
"Ayo kita duduk." Bara menarik tangan Arya dan membawanya ke kursi kosong di sana.
"Apa mereka saling mengenal ya?" Ria bicara sendiri.
"Tadi Tuan Bara memanggilnya Arya. Jadi pria tampan itu namanya Arya?" Ria senyum sendiri sambil memperhatikan Arya dari jauh.
Arya dan Bara mendaratkan tubuhnya di salah satu meja yang kosong. Kedua pria itu duduk saling berhadapan.
"Apa kau sering kemari?" Arya bertanya lebih dulu.
"Ya, ini adalah toko kue langgananku. Aku sering memesan kue di sini." Jawab Bara, Arya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" Bara bertanya.
__ADS_1
"Oh, aku ke sini..." Ucapan Arya menggantung, haruskah ia katakan pada Bara dirinya datang ke sana untuk menjemput istrinya?