Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Penolakan


__ADS_3

Para tamu yang datang kini tengah menikmati berbagai hidangan yang di sediakan. Tak terkecuali keluarga Ayah Bakti dan Mama Dewi. Mereka berkumpul dan mengobrol ringan. Setidaknya dengan begini Rubby bisa melupakan kesedihannya karena ketidakhadiran Arya di sana.


"Mohon perhatian semua." Ucap Ayah Bakti, mengalihkan perhatian dua keluarga yang sedang berkumpul. Ayah Bakti beranjak berdiri dari duduknya.


"Di hari yang bahagia ini, Ayah ingin menyampaikan sesuatu." Lanjutnya.


"Ada apa, Ayah?" Tanya Rubby. Ayah Bakti memandang sejenak istrinya sambil tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.


"Hari ini ada pria yang mau melamar putri pertama Ayah." Jawabnya, seketika Rubby tersentak. Sementara yang lain hanya bisa saling menatap.


"A... Ayah... Bilang apa?" Tanya Rubby terbata-bata.


"Hari ini ada pria yang mau melamarmu, Rubby. Dan jika kalian merasa cocok, dia bersedia menikahimu hari ini juga." Terang Ayah Bakti, sepasang netra gadis berhijab itu kontan membulat.


"Tidak, Ayah! Rubby tidak mau menikah!" Seru Rubby, namun masih dengan suara yang rendah. Gadis itu bangun dari duduknya.


Kenapa juga tiba-tiba ada pria yang mau melamarnya? Bukannya ini acara untuk keponakannya? Kenapa berubah jadi acara lamaran dirinya?


"Rubby, dia pria yang baik. Ayah sudah cukup mengenalnya. Lagipula sampai kapan kau akan terus seperti ini? Ini sudah tujuh bulan sejak kau berpisah dengan Arya. Dan sudah saatnya bagimu memulai hidup baru." Ayah Bakti mencoba memberi pengertian. Rubby menggeleng pelan.


"Bukannya Rubby sudah bilang kalau Rubby tidak ingin menikah, Ayah? Kalaupun Rubby harus menikah lagi, Rubby hanya ingin rujuk dengan Mas Firaz." Ucap Rubby, sepasang netra di balik kacamatanya sudah nampak berkaca-kaca.


"Rubby, benar kata Ayahmu. Kau harus memulai hidup barumu, jangan berharap pada Arya lagi." Mama Dewi menimpali. Rubby mengalihkan pandangannya pada mantan ibu mertuanya itu.


"Kenapa Mama malah berkata seperti itu? Apa Mama tidak ingin aku dan Mas Firaz bersama kembali?" Tanya Rubby dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Kenapa juga Mama Dewi malah mendukung keputusan ayahnya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Rubby. Mama hanya ingin kau melupakan kesedihanmu. Kau berhak menjalani hidupmu dan tidak terbelenggu dengan masa lalumu. Kau masih muda, hidupmu masih panjang. Jangan menghabiskan waktumu hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kau berhak mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dan lebih pantas di banding Arya." Ujar Mama Dewi. Rubby terperangah, menatap Mama Dewi dengan tatapan tak percaya. Jadi maksud Mama Dewi, Arya sudah tidak pantas untuknya hanya karena pria itu kini tidak bisa melihat?


"Tidak. Rubby tidak ingin menikah lagi." Ucap Rubby penuh penekanan.


"Rubby hanya ingin kembali dengan Mas Firaz. Tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Rubby hanya ingin Mas Firaz." Rubby mengusap kasar air matanya dan memilih pergi dari sana.


Sementara orang-orang di sana saling melempar pandangannya.


"Dew, kau lihat sendiri kan? Putriku itu sudah cinta mati pada putramu." Ucap Ayah Bakti.


"Iya, aku tahu itu." Sahut Mama Dewi, terdengar helaan nafas berat darinya.


"Jadi bagaimana? Apa acara lamarannya tetap jadi di laksanakan?" Tanya Intan, pandangan orang-orang di sana langsung tertuju padanya.


"Kenapa? Intan kan hanya bertanya?" Intan terlihat bingung.


"Sudah, Bunda mau bujuk Rubby dulu." Bunda Maya beranjak dari sana menuju kamar putri sulungnya.


_


_


_


Isak tangis itu terdengar cukup kencang walau Rubby sudah menenggelamkan wajahnya pada bantal.

__ADS_1


"Rubby...." Panggil seseorang di balik pintu kamarnya.


"Rubby. Ini Bunda, Nak. Bunda masuk ya?" Bunda Maya membuka pintu kamar yang untungnya tidak di kunci, dilihatnya Rubby yang sedang menangis dengan posisi tertelungkup.


"Rubby..." Bunda Maya mengusap lembut punggung putrinya.


"Bunda... Rubby tidak ingin menikah..." Ucap Rubby di sela isak tangisnya.


"Sayang, tadi kan Ayah bilang kalau dia adalah pria yang baik. Ayah juga sudah cukup mengenalnya." Kata Bunda Maya dengan tangan yang masih mengusap-usap punggung Rubby.


"Rubby tidak peduli mau sebaik apapun dia." Rubby berbalik dan duduk di samping sang Bunda.


"Rubby, tidak ada salahnya temui dia dulu." Bujuk Bunda Maya.


"Rubby tidak mau, Bunda." Gadis itu tetap bersikeras pada keputusannya.


"Rubby, dengarkan Bunda." Bunda Maya memegang kedua bahu putrinya, membuat mereka saling berhadapan.


"Dia pria yang baik, mungkin saja jika bersamanya kau bisa melupakan kesedihanmu. Dan dia bisa membuatmu bahagia." Bunda Maya menyeka air mata yang masih mengalir deras di pipi Rubby.


"Rubby hanya ingin kembali dengan Mas Firaz." Lirih Rubby. Bunda Maya menghela nafas berat. Ternyata putrinya lumayan keras kepala.


"Apa setelah menalakmu, Arya mau menemuimu? Tidak kan? Arya sudah tidak ingin bertemu denganmu, Arya juga selalu menolak kedatanganmu. Lalu apa yang masih kau harapkan darinya?"


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA YA 😊


__ADS_2