
"Aku tidak yakin Mega akan melepaskan kekasihnya begitu saja, apalagi Mega masih mencintai Mas Firaz..." Ucap Rubby merasa sangsi.
"Aku tidak peduli. Yang jelas kau istriku sekarang, dan kau sangat berarti untukku." Tegas Arya, ia menarik Rubby ke dalam pelukannya.
Mas Firaz bilang aku berarti untuknya? Benarkah?
"Lepaskan aku, Mas." Rubby mendorong pelan tubuh Arya hingga pelukannya terlepas.
"Kau tidak ingin aku peluk?" Tanya Arya dengan nada kecewa.
"Selesaikan dulu urusan Mas Firaz dengan Mega. Baru memelukku." Sahut Rubby. Terdengar suaminya itu menghela nafas berat.
"Baiklah kalau itu maumu." Jawabnya.
Arya berjalan menuju lemari, mengambil satu stel pakaian olahraganya.
"Mas Firaz mau ke mana?" Tanya Rubby.
"Aku ingin lari pagi. Kau mau ikut?" Hari ini hari libur, seperti biasa Arya selalu lari pagi mengelilingi komplek tempat tinggalnya.
"Tidak, Mas. Aku di rumah saja." Jawab Rubby. Gadis itu sama sekali tidak tertarik yang namanya lari pagi. Ia lebih senang membuat sarapan di dapur jika hari libur.
_
_
_
Rubby sedang sibuk dengan peralatan dapurnya. Memasukkan berbagai bahan masakan ke dalam wajan yang berada di atas kompor. Aroma yang begitu menggugah selera setika menyeruak di dapur.
"Menantu Mama, rajin sekali. Pagi-pagi sudah memasak." Ujar Mama Dewi yang baru memasuki dapur.
"Selamat pagi, Ma." Sapa Rubby sambil tersenyum singkat dan fokus kembali pada masakannya.
"Pagi, sayang. Apa yang kau masak? Wanginya enak sekali." Tanya Mama Dewi sambil mengintip ke arah wajan.
"Hanya mie goreng untuk sarapan nanti." Jawab Rubby.
"Hanya mie goreng tapi wanginya seenak ini. Beruntung sekali Arya memiliki istri yang pandai memasak sepertimu." Puji ibu mertuanya.
"Mama, jangan terlalu berlebihan."
"Buka berlebihan, tapi memang faktanya seperti itu." Mama Dewi kemudian mengalihkan pandangannya.
"Rubby, matamu kenapa?" Tanya Mama Dewi yang baru menyadari sepasang mata menantunya terlihat sembab di balik kacamatanya.
"Oh, ini... Tadi perih karena memotong bawang, Ma." Jawab Rubby sedikit gugup.
__ADS_1
"Benar karena bawang? Bukan karena yang lainnya? Suamimu mungkin?" Tanya Mama Dewi yang memandang curiga padanya.
"Benar, Ma. Bawang pelakunya. Kenapa juga jadi bawa-bawa suami? Mas Firaz nya saja tidak ada." Sangkal Rubby.
"Memang suamimu ke mana?"
"Sedang lari pagi, Ma."
Rubby mematikan kompor karena di rasa masakannya sudah matang.
"Sudah matang, Rubby mau menata ini di meja makan dulu ya, Ma. Sebentar lagi Mas Firaz pulang."
"Biar Mama bantu."
Mertua dan menantu itu menata hidangan meja makan bersama.
Ting Tong. Terdengar suara bel dari luar. Kedua wanita itu menoleh bersamaan.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Gumam Mama Dewi. Rubby mengendikkan bahunya.
"Biar Rubby yang buka pintunya."
_
_
_
Ting Tong.
"Ya, sebentar." Terdengar sahutan dari dalam.
Klek, pintu terbuka. Seorang gadis berhijab dan berkacamata berdiri di ambang pintu. Kedua wanita berdiri berhadapan dan nampak terkejut. Dua masang mata itu bertemu, saling menatap heran.
"Kau? Kau bukannya pelayan di toko kue kemarin? Sedang apa kau di sini?" Tanya Mega lebih dulu. Ia heran melihat keberadaan Rubby di rumah Arya.
"Mega...? Aku..."
"Ini rumah kekasihku. Kenapa kau bisa bisa ada di sini?" Mega menyela lebih dulu sebelum Rubby menjawab.
"Aku..."
"Rubby... Siapa yang datang?" Lagi, belum sempat Rubby menjawab, Mama Dewi menghampiri dan ikut bergabung bersama dua gadis itu.
"Tante Dewi. Selamat pagi." Sapa Mega sambil menyunggingkan senyumnya.
"Mega? Kau di sini? Kapan kau kembali dari Paris?" Tanya Mama Dewi. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut melihat kedatangan Mega pagi-pagi di rumahnya. Ia juga tidak tahu jika Mega sudah kembali.
__ADS_1
"Aku tiba kemarin, Tante." Jawab Mega.
"Ini aku bawa oleh-oleh untuk Tante." Mega meyerahkan paper bag yang di bawanya. Mama Dewi menerimanya.
"Terima kasih, Mega. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini." Sahutnya.
"Sama sekali tidak, Tante. Em... Boleh aku masuk?" Tanya Mega. Ia mengabaikan Rubby yang berdiri di sebelah Mama Dewi.
"Silakan. Silakan masuk." Mama Dewi membuka pintu itu lebih lebar. Mega melangkah masuk, mendaratkan tubuhnya di sofa tamu.
"Rubby buat minum dulu ya." Pamit Rubby yang langsung beranjak ke dapur, Mama Dewi tidak sempat mencegahnya.
"Arya di mana, Tante?" Tanya Mega sambil mengedarkan pandangannya. Namun tak menemukan sosok yang dicarinya.
"Arya sedang lari pagi." Jawab Mama Dewi yang duduk berhadapan denganya.
Tak lama Rubby kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Silakan di minum." Ucapnya sambil meletakkan cangkir itu di depan Mega.
"Terima kasih." Mega menyahut. Rubby tersenyum tipis dan meletakkan satu cangkir lagi di depan Mama Dewi.
"Apa kau pelayan di rumah ini?" Tanya Mega pada Rubby. Rubby dan Mama Dewi tersentak mendengarnya. Mungkin karena apron yang masih melekat pada pakaiannya, Mega jadi menyangka Rubby adalah pelayan?
"Dia bukan pelayan!" Sahut Mama Dewi, kemudian menarik lengan Rubby agar duduk di sampingnya.
"Lalu dia siapa? Kemarin yang aku tahu dia seorang pelayan di toko kue." Ujar Mega, kemudian meraih cangkir minumannya.
"Dia Rubby, istri Arya." Jawab Mama Dewi sambil merangkul bahu menantunya.
"Uhuk! Uhuk!" Seketika Mega tersedak minumannya. Mama Dewi hanya menatap datar padanya.
"Tante bilang apa? Dia siapa?" Tanya Mega, jari telunjuknya terangkat ke arah Rubby seakan tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.
"Namanya Rubby. Dan dia adalah menantu Tante, alias istri dari Arya Firaz." Ucap Mama Dewi dengan penekanan di setiap katanya.
"Tante bercanda?!" Seru Mega yang langsung bangkit dari duduknya.
"Tante tidak bercanda, memang benar Rubby ini istrinya Arya. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja langsung pada Arya." Jawab Mama Dewi dengan tenangnya. Sementara Rubby diam saja, tak ikut bicara.
Sepasang mata Mega memandang Rubby dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita ini biasa sekali, lihat penampilannya. Hanya menggunakan gamis panjang dan hijab polos serta kacamata di wajahnya. Kuno sekali. Sangat jauh berbeda jika di banding dirinya. Tidak mungkin Arya mau menikahi wanita seperti ini.
"Tante pasti bohong! Tidak mungkin Arya mau menikahi wanita kampungan seperti dia." Tukas Mega.
"Jangan menghina menantu Tante." Mama Dewi ikut bangun dari duduknya.
"Rubby adalah wanita baik-baik, tidak seperti dirimu!" Seru Mama Dewi.
__ADS_1
"Apa maksud Tante? Aku juga wanita baik-baik. Aku seorang model terkenal, sedangkan dia hanya seorang pelayan di toko kue!" Ucap Mega tak mau kalah.