
"Kau tahu, Rubby? Aku merasakan perasaan yang aneh saat melihatmu waktu membuat gambar sketsa seperti ini." Ucapnya.
"Maksudnya?" Memori Rubby berputar, ia ingat dulu Arya marah padanya saat dirinya membuat gambar sketsa itu.
"Ya, aku fikir kau menyukai pria lain. Dan aku takut, takut kau akan pergi bersamanya dan meninggalkan aku. Makanya saat itu aku emosi, tapi kemudian aku sadar kalau aku tengah cemburu." Ujar Arya.
"Itu kan wajah Mas Firaz. Dan anehnya Mas Firaz tidak mengenali wajah sendiri." Timpal Rubby.
"Ya mana ku tahu."
"Makanya jangan berfikiran buruk dengan istri sendiri."
"Bagaimana aku tidak berfikiran buruk, Rubby. Dulu aku pernah di khianati, padahal aku selalu berusaha untuk setia dan memperlakukannya dengan begitu baik. Aku menjaganya dan tidak pernah merusaknya. Tapi apa yang ku dapat? Pengkhianatan dan rasa sakit hati. Dan tiba-tiba saja Mama memintaku menikah, sedangkan hatiku masih terluka. Itu membuat aku berfikir kalau semua wanita itu sama, tidak bisa di percaya." Ucap Arya dengan pandangan menerawang. Rubby sudah tahu siapa yang di maksud suaminya.
"Tapi aku bukan dia, Mas." Rubby menyela.
"Ya, dan itulah kesalahanku, mengira kau sama dengannya. Padahal kalian jelas jauh berbeda."
"Mas masih memiliki perasaan dengannya?" Tanya Rubby sambil menatap lekat suaminya. Arya menggeleng pelan, ia merangkul bahu isrinya.
"Kalau aku masih memiliki perasaan dengannya tidak mungkin aku menyentuhmu, Rubby. Bahkan sampai hamil seperti sekarang." Jawabnya diiringi tawa.
"Apa benar Mas sama sekali tidak pernah menyentuhnya?" Tanya Rubby ragu.
"Aku hanya menyentuhnya sebatas pegangan tangan saja. Kau boleh tanyakan langsung padanya kalau tidak percaya. Lagipula kalau aku sampai macam-macam, Mama pasti akan menghajarku habis-habisan. Seperti Andika dulu." Jawab Arya. Rbby tersenyum simpul mendengarnya. Ya, suaminya bukan tipe pria yang suka macam-macam.
"Sebenarnya aku masih heran." Ucap Arya kemudian.
"Heran kenapa, Mas?" tanya Rubby.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau membuat gambar sketsa sebanyak ini?" Tanya Arya sambil menunjukkan gambar sketsa yang menumpuk itu. Rubby mengendikkan bhaunya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Mas. yang jelas saat itu wajah Mas selalu membayangiku. Jadi aku buat saja gambar sketsa, ku fikir dengan berjalanannya waktu aku bisa lupa. Tapi ternyata..." Rubby menggeleng pelan.
"Cintaku dalam sketsa." Ucapnya.
"Aku sangat beruntung di cintai olehmu." Arya mengecup sekilas kening Rubby.
"Dan aku beruntung memiliki suami sepertimu." Rubby merengkuh pinggang Arya dan menyandarkan kepala di bahunya.
_
_
_
Waktu terus berjalan, kini kandungan Rubby sudah menginjak usia tujuh bulan. Rubby sudah tidak bekerja lagi di toko kue miliknya atas permintaan suami dan juga keluarganya.
"Wah, Rubby. Perutmu sudah semakin membulat. Apa tidak berat?" Tanya Indah sambil mengusap-usap perut sahabatnya yang jauh lebih besar dari miliknya. Mereka sudah berada di taman dan mengadakan pikinik di sana. Menggelar tikar di rerumputan dan membawa berbagai jenis makanan.
"Kau ini ada-ada saja. Ini tidak berat, hanya saja membuatku sedikit kesulitan bergerak." Jawab Rubby.
"Kak Malik, nanti kita buat yang seperti ini ya?" Pinta Indah sambil menarik-narik kaos suaminya.
"Iya, Indah." Jawab Dokter Malik pasrah.
"Aku ingin anak kembar juga, kalau bisa lima sekaligus." Tambah Indah membuat Dkter Malik menganga mendengarnya.
"Dengar itu Dokter, istrimu minta anak kembar lima." Andika ikut bicara.
__ADS_1
"Dika aku juga ingin, tapi jangan lima. Itu terlalu banyak. Dua saja cukup." Intan menimpali. Sekarang giliran Andika yang ternganga. Sekarang anaknya sudah mau dua, jika di tambah kembar dua, berarti ada empat. Belum kejadian saja Andika sudah pusing memikirkannya.
"Rasakan! Istrimu juga minta anak kembar." Timpal Dokter Malik.
"Sayang, kau jangan seperti mereka ya?" Ucap Indra pada istrinya.
"Tidak, Mas. Satu juga sudah cukup untukku." Jawab Mei.
"Ini semua gara-gara Kak Arya." Celetuk Andika sambil melirik sinis kakaknya.
"Heh, kenapa jadi menyalahkan aku?" Arya langsung protes.
"Harusnya anak Kak Arya jangan kembar, jadi para istri kami tidak iri begini." Sahut Andika.
"Mana ku tahu, kalau istriku hamil kembar. Dan ini sudah menjadi rezek untuk kami." timpal Arya.
Sementara yang lain sedang terlibat perdebatan tentang anak kembar, Mega dan Bara hanya memperhatikan dan mendengarkan saja. Rasanya mereka masih canggung jika ikut bicara. Mereka ikut bergabung di sana juga karena Rubby yang memintanya.
"Mega, kenapa diam saja?" Tanya Rubby pada Mega yang duduk tidak jauh darinya.
"Eh, aku..."
"Tidak perlu canggung begitu, Mega. Biasa saja, kami semua ini teman." Ujar Rubby.
"Ya itu benar, Kak Mega. Biasa saja. Kami memang seperti ini jika sudah berkumpul, jadi jangan aneh." Indah menimpali. Sementara Mega hanya bisa menyengir saja.
Mereka memang baik dan tidak membeda-bedakannya. Tapi tetap saja Mega masih merasa asing.
......................
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊