Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 128


__ADS_3

"Kenapa kau memukuli suamimu, Rubby?" Tanya Bunda Maya yang sudah berdiri di hadapan putri dan menantunya.


"Tidak, Bunda." Rubby mengelak.


"Tidak bagaimana? Bunda melihat sendiri kau memukuli suamimu dengan buku itu. Ada apa sebenarnya? Tadi kau juga berteriak keras sekali, membuat Bunda panik saja." Bunda Maya mengintrogasi putrinya, sementara Arya hanya diam dan menahan senyumnya.


"Itu, Mas Firaz... Yang salah Bunda." Ragu-ragu Rubby menjawab. Bunda Maya mengalihkan pandangannya pada menantunya.


"Apa yang kau lakukan Arya?" Gantian Bunda Maya bertanya pada Arya.


"Arya hanya membaca buku Rubby saja, Bunda." Jawab Arya jujur.


"Buku? Buku apa?" Tanya Bunda Maya.


"Itu." Arya menunjuk buku yang masih berada di tangan istrinya. Bunda Maya kembali mengalihkan pandangannya. Matanya menyipit melihat buku yang di genggam putrinya


"Buku itu..." Bunda Maya ingat, buku itu isinya seluruhnya tentang Arya.


"Oh jadi karena buku itu?" Bunda Maya malah tertawa lepas, bisa di bayangkan putrinya pasti malu luar biasa karena Arya telah mengetahui isi hatinya selama ini.


"Bunda juga sudah tahu isinya?" Tanya Arya.


"Iya, Bunda sudah tahu." Jawab Bunda Maya di sela tawanya.


"Bunda jangan tertawa." Rengek Rubby. Rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya saja di dasar bumi. Bukannya membelanya, Bunda Maya malah mentertawakannya.


"Sudahlah, Rubby. Tidak apa-apa, lagipula yang kau tulis di sana tentang suamimu sendiri." Ucap Bunda Maya setelah tawanya terhenti. Sedangkan Rubby masih cemberut.


"Dengar kata Bunda Rubby, yang kau tulis tentang suamimu. Jadi kau tidak perlu malu." Timpal Arya. Wanita berhijab menatap kesal pada suaminya.


"Ayo kita sarapan dulu, Ayah sudah menunggu di bawah." Ajak Bunda Maya seraya keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Iya, Bunda." Jawab Arya, sedangkan Rubby masih bungkam.


"Ayo Rubby, kita sarapan." Ajak Arya sambil merangkul lengan istrinya. Tapi Rubby tak beranjak sedikitpun.


"Rubby...." Langkah Arya terhenti.


"Mas menyebalkan!" Tukas Rubby. Arya membuang nafasnya kasar.


"Baiklah, aku minta maaf karena sudah membaca bukumu tanpa izin. Tapi aku benar-benar penasaran apa yang ada di buku itu, kau juga selalu marah jika aku bertanya tentang isi bukumu." Ucap Arya dengan nada lembut agar istrinya tidak marah lagi, tapi tetap saja Rubby cemberut dan itu membuat Arya gemas dengan tingkah istrinya. Tanpa aba-aba ia langsung melahap bibir merah itu membuat Rubby terbelalak.


Arya menahan tengkuk istrinya dan sebelah tangannya menahan pinggang Rubby membuat wanita itu tidak bisa berkutik, Arya semakin memperdalam ciumannya membuat Rubby terhanyut dan memejamkan netranya. Tangannya berpindah, dari yang semula berada di pinggang Rubby kini merambat naik. Menyentuh dan memainkan sesuatu yang sangat di sukainya.


"Ar..." Bunda Maya mematung di depan pintu melihat pemandangan di depannya.


"Hah, dasar mereka itu. Tadi Rubby marah-marah sampai memukuli suaminya, sekarang malah ciuman seperti itu, pintu juga tidak di tutup." Bunda Maya memilih pergi dari sana. Niatnya tadi ingin kembali memanggil anak dan menantunya karena mereka tak kunjung turun, padahal Ayah Bakti sudah menunggunya di meja makan. Tapi ia malah di suguhkan pemandangan yang membuat jiwa bergelora.


"Mana mereka, Bunda?" Tanya Ayah Bakti yang masih setia menunggu, padahal perutnya sudah teriak minta di isi. Bunda Maya menggeleng dan duduk di kursinya.


"Kita sarapan duluan saja, Ayah. Mereka sedang sibuk sarapan dengan tubuh pasangannya!"


Setelah beberapa menit, akhirnya ciuman itu berakhir. Mereka berusaha menormalkan nafasnya yang tersengal-sengal karena hampir kehabisan pasokan oksigen di paru-parunya.


"Apa kau masih marah?" Tanya Arya, ia mengusap bibir Rubby yang basah karena ulahnya.


"Percuma aku marah, Mas sudah melihat semuanya." Sahut Rubby terkesan pasrah.


"Aku memang sudah melihat semuanya, bahkan menikmatinya setiap malam." Timpal Arya yang terkesan ambigu.


"Mas!" Rubby menggeram, tahu ke mana arah bicara suaminya.


"Kita sedang membahas buku!" Sambungnya. Arya tergelak, ekspresi Rubby selalu menggemaskan di matanya.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita sarapan." Ajak Arya sambil kembali menarik lengan istrinya, kali ini Rubby menurut.


Mereka baru saja sampai di ruang makan ketika Ayah Bakti dan Bunda Maya sudah menyelesaikan sarapannya.


"Ayah dan Bunda sudah sarapan?" Tanya Rubby.


"Sudah, Rubby. Ayah dan Bunda sudah lapar tadi, menunggu kalian tapi tidak turun juga. Jadi kami sarapan berdua saja." Jawab Ayah Bakti.


"Lain kali, kalau kalian mau bermesraan pintunya jangan lupa di tutup." Tambah Bunda Maya. Rubby dan Arya saling melempar pandangan. Apa tadi Bunda Maya melihat mereka yang sedang berciuman?


Ayah Bakti dan Bunda Maya beranjak dari duduknya.


"Kenapa kalian diam? Apa kalian tidak lapar?" Tanya Bunda Maya, karena baik Arya maupun Rubby tidak kunjung memulai sarapannya dan hanya saling tatap-tatapan saja.


"Eh, iya Bunda." Rubby tersadar dan mulai melayani suaminya.


"Sarapan yang banyak. Kalian pasti lelah." Ujar Ayah Bakti sebelum meninggalkan ruang makan bersama istrinya.


Lelah? Hah, Ayah Bakti tahu saja jika mereka tadi melakukan serangan fajar.


"Mas sih, main cium saja. Bunda pasti tadi melihat kita." Celetuk Rubby begitu kedua orang tuanya tidak ada.


"Tapi kau menikmatinya kan?" Tanya Arya yang membuat pipi Rubby langsung merona merah.


"Jangan si bahas!" Tukas Rubby.


"Kan kau yang baru saja membahasnya." Timpal Arya.


Eh, iya ya?


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2