Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Foto Mega


__ADS_3

"Cinta tidak bisa datang begitu saja. Dan aku tidak ingin menjadikan Rubby sebagai pelarian dan juga pelampiasanku. Mama tenang saja, aku akan tetap mempertahankan Rubby sebagai istriku. Karena dari dulu aku sudah berkomitmen hanya akan menikah sekali dalam hidupku."


Arya bangkit dari duduknya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku akan tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, aku tidak akan menyakiti istriku. Selamat malam, Ma." Ucapnya sebelum kembali ke kamar.


"Hah, dasar Arya. Sudah di jodohkan dengan wanita sebaiknya Rubby bukannya bersyukur malah menolak untuk mencintainya." Mama Dewi menggerutu.


* * *


Rubby terduduk di atas lantai yang di alasi karpet bulu itu, setitik air matanya menetes.


"Ternyata aku tak akan pernah bisa mendapatkan cinta dari suamiku sendiri. Mas Firaz sudah mencintai wanita lain..." Lirihnya


"Bukannya seharusnya aku sadar diri, dari awal Mas Firaz mau menikah denganku karena terpaksa? Dan tidak seharusnya aku berharap lebih." Rubby mengusap air matanya. Sakit rasanya hati ini. Di hari pertamanya menikah, ia justru mendapat fakta itu.


"Sudahlah, Rubby. Kau ini tidak cantik, mana ada pria yang menyukaimu. Mas Firaz mau menikah denganmu saja itu sudah suatu keberuntungan untukmu." Ucapnya menghibur diri.


"Tapi... Apa Mas Firaz akan menceraikanku setelah Intan melahirkan nanti?" Mendadak fikiran itu muncul di kepalanya. Sayangnya Rubby tak mendengar semua percakapan Arya dan Mama Dewi tadi.


"Tidak, tidak. Jangan berfikiran buruk Rubby. Mas Firaz tak akan menceraikanmu." Rubby menggeleng cepat. Mencoba menghilangkan fikiran-fikiran aneh itu.


Gadis itu mengambil kembali beberapa pakaiannya yang belum sempat ia rapikan. Tangannya membuka pintu lemari, namun sebuah foto tiba-tiba terjatuh dari sana.


"Foto siapa ini?" Rubby memperhatikan gambar yang ada di foto itu. Sebelumnya ia tidak melihat ada foto itu di sana.


"Cantik sekali, tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Apa ini kekasih Mas Firaz yang bernama Mega?" Rubby bertanya-tanya sendiri.


"Pantas saja Mas Firaz begitu mencintainya. Mega benar-benar cantik. Dan aku memang tidak ada apa-apanya di banding dia." Kata Rubby terdengar putus asa, ia masih memandangi foto itu.


Klek, pintu kamar itu terbuka membuat Rubby terkejut. Suaminya sudah kembali ke kamar mereka.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arya sambil melangkah mendekat ke arah Rubby.


"Aku sedang merapikan pakaianku, Mas." Jawab Rubby, di tangannya masih ada foto Mega. Arya melirik ke arah sana, dan mengambil foto Mega dari tangan Rubby.


"Dari mana kau dapat foto ini?" Tanyanya.


"Foto itu tiba-tiba terjatuh saat aku menyimpan pakaianku." Jawab Rubby jujur.

__ADS_1


Arya membuang nafas berat. Rasanya ia sudah membuang semua foto dan barang-barang yang berhubungan dengan Mega. Tapi kenapa masih saja ada yang tertinggal?


"Boleh aku tanya sesuatu, Mas?" Ragu-ragu Rubby bertanya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Arya.


"Apa itu foto kekasih Mas Firaz?" Tanya Rubby kembali. Arya sejenak memandang ke arah istrinya, lalu menjawab.


"Dia bukan siapa-siapaku." Arya kemudian meremas foto Mega dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sana. Rubby sedikit terkejut melihatnya, di fikirnya Arya akan marah dan mengakui kalau foto itu adalah foto kekasihnya.


"Apa kau sudah selesai merapikan barangmu?" Tanya Arya.


"Sudah, Mas." Jawab Rubby di iringi anggukan.


"Tunggulah di tempat tidur, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Iya, Mas."


Arya berlalu ke kamar mandi, sedangkan Rubby melangkah ke arah tempat tidur dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Apa yang ingin Mas Firaz katakan padaku? Apa Mas Firaz akan mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan pada Mama Dewi tadi?" Rubby bertanya-tanya dalam hati.


"Rubby..." Panggilnya.


"Iya, Mas..." Rubby menoleh.


"Kau tahu kan kenapa kita menikah?" Tanya Arya sambil memandang sepasang netra yang terhalang kacamata itu.


"Iya, Mas. Aku tahu." Rubby mengangguk.


"Kau juga pasti tahu kalau kita menikah tanpa cinta."


"Iya, Mas."


Arya membuang nafas berat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dengarkan aku, aku akan tetap melakukan tugasku sebagai seorang suami, dan kau lakukan tugasmu sebagai istri. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukan apapun di luar sana, yang penting kau bisa menjaga nama baikku. Begitupun sebaliknya. Jangan pernah melarangku untuk melakukan apapun. Dan aku akan tetap mengingat statusku sebagai suamimu. Kita akan selalu menjaga jarak sampai..."


"Mas tenang saja. Aku bisa mengerti posisiku di sini." Rubby menyela lebih dulu. Ia tak ingin mendengar lebih jauh dan yang pasti perkataan Arya akan menyakiti hatinya nanti. Arya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Rubby..."


"Mas Firaz, aku tidak akan menuntut apapun padamu." Rubby kembali menyela, memandang sejenak wajah suaminya.


"Aku mengantuk, aku ingin tidur." Rubby beranjak dari sana. Ia berjalan menuju lemari, memandang bayangannya pada cermin. Matanya sudah nampak berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Ucapan Mas Firaz pasti hanya akan menyakiti hatiku saja." Lirihnya dalam hati.


Sedangkan Arya hanya melihatnya saja, tanpa mengatakan apapun lagi.


"Padahal aku belum selesai bicara, tapi Rubby malah pergi." Batinnya.


Tangan Rubby bergerak, hendak membuka hijabnya. Tapi sesaat kemudian ia tersadar kalau ini bukan kamarnya, dan ada orang lain di sana.


"Aku tak pernah membuka hijabku di hadapan orang lain. Walaupun sekarang Mas Firaz suamiku, tapi..." Rubby mengurungkan niatnya. Ia kembali berbalik dan seketika gadis itu terkejut melihat Arya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Arya yang nyatanya memperhatikan gerak-gerik istrinya di depan cermin.


"Aku.... Aku ingin..." Rubby tergagap, kemudian menunduk.


"Kau ingin apa?" Tanya Arya lagi.


"Aku biasa melepas hijabku saat tidur." Cicit Rubby. Arya malah menatapnya heran.


"Ya sudah lepas saja." Kata Arya.


"Tapi ada Mas Firaz di sini." Sambung Rubby.


"Memangnya kenapa?" Tanya Arya tak mengerti.


"Aku tak biasa melepas hijabku di hadapan orang lain." Jawab Rubby pelan. Arya menipiskan bibirnya, ia mengerti sekarang.


"Aku suamimu, bukan orang lain." Ujarnya.


Perlahan Rubby mengangkat wajahnya hingga keduanya saling bertatapan.


"Aku suamimu. Kau bisa melepas hijabmu di dalam kamar ini." Kata Arya. Rubby mengangguk pelan. Tangannya bergerak melepas hijab dan juga kacamatanya.


Rambut panjang dan berwarna hitam berkilau itu jatuh tergerai. Arya merasa waktu berhenti saat itu juga, sama seperti saat melihat Rubby ketika selesai mengucap ijab qobul tadi siang.

__ADS_1


"Ternyata Rubby memang benar-benar cantik." Pujian itu lolos dalam hati Arya.


__ADS_2