
"Jadi ini gambar sketsa wajahku? Kenapa aku bodoh sekali ya tidak bisa mengenali wajahku sendiri?" Gumamnya.
"Lalu kenapa kau membuat sketsa wajah seorang pria?"
"Aku membuatnya karena..."
"Kau menyukai seorang pria hingga kau buat gambar wajahnya?"
Percakapannya dengan Rubby hari itu kembali hadir di ingatannya.
"Rubby mengakui kalau dia menyukai pria di gambar ini. Dan ternyata ini adalah gambar sketsa wajahku. Apa itu artinya Rubby menyukaiku?" Arya bertanya-tanya sendiri.
"Tapi Rubby tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya padaku?" Batin Arya berkecamuk.
Memang pada dasarnya pria itu tidak peka. Tidak mudah menyadari perasaan seseorang terhadapnya. Dan lagi, Rubby tidak akan mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaannya lebih dulu.
"Jangan terlalu berharap, Arya. Ingat, ada Bara yang mengharapkan istrimu, mungkin juga masih ada Bara-Bara yang lain yang menyukai istrimu."
Arya mendengus. Merasa kesal sendiri jika mengingat perkataan Bara hari itu.
Tok. Tok. Tok. Seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Ck, siapa lagi yang menggangguku?" Arya menggerutu. Siang tadi Andika sudah mengganggu acara makan siangnya dan sekarang ada lagi yang mengganggu kesendiriannya.
"Masuk!" Sahutnya. Arya kembali memandangi gambar itu, tanpa peduli siapa yang datang. Seseorang melangkah masuk ke ruangan Arya.
"Hai sayang..." Sapanya. Suaranya terdengar mendayu-dayu di telinga Arya.
Arya terdiam sejenak, rasanya suara itu tidak asing baginya. Arya mengangkat wajahnya. Seorang wanita cantik tersenyum manis berdiri di hadapannya.
"Kau siapa?" Tanya Arya, kedua alisnya nampak saling bertaut.
"Sayang, kau lupa padaku?" Tanya Mega heran, senyumnya langsung tenggelam. Ia duduk di kursi yang berada hadapan Arya.
"Kenapa kau memanggilku sayang? Apa kita saling mengenal?" Arya balik bertanya. Raut wajahnya masih terlihat penuh tanya. Mega menganga tak percaya mendengarnya. Apa kekasihnya itu lupa ingatan hingga tidak mengenali dirinya?
"Arya Firaz, jangan bercanda! Ini aku Megalicha, kekasihmu!" Seru Mega, bibirnya nampak cemberut.
"Megalicha?" Arya tampak mengingat-ngingat nama itu.
"Megalicha Audrey, kekasihmu Arya Firaz!" Ulang Mega penuh penekanan di setiap katanya.
__ADS_1
"Mega?!" Sedetik kemudian Arya tersadar, pria itu tersentak dan langsung bangkit dari duduknya.
"Kau lupa padaku, Arya?" Mega ikut bangun dari duduknya. Arya menggeleng, ia bukan lupa pada Mega. Tapi tadi bayangan Rubby terlalu memenuhi fikirannya.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya kau masih di Paris?" Tanya Arya bingung. Mega tiba-tiba saja ada di ruangannya. Kapan gadis itu kembali?
"Bukannya aku sudah bilang padamu kalau akan kembali?" Mega balik bertanya dan berjalan mendekati Arya.
"Aku merindukanmu, makanya aku datang." Ucap Mega dengan nada manjanya. Tangannya terangkat hendak menyentuh wajah Arya, namun dengan cepat Arya menepisnya.
"Jangan menyentuhku!" Serunya membuat Mega menarik tangannya kembali.
"Arya, kau selalu saja seperti ini. Kenapa kau selalu menolak jika aku sentuh?" Tanya Mega heran. Dirinya dengan Arya sudah lama menjalin hubungan, tapi Arya selalu saja menolak jika Mega menyentuhnya lebih dari pegangan tangan.
"Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku?" Tanya Mega lagi.
Arya berjalan menjauh menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Ia memijat keningnya yang mendadak terasa pusing karena syok, dan tak menjawab satu pertanyaaan pun dari Mega. Kedatangan Mega benar-benar mengejutkannya.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Mega sedikit khawatir melihat perubahan wajah kekasihnya.
"Aku hanya tak menyangka kalau kau ada di sini." Jawab Arya tanpa menoleh kearah Mega.
"Lihatlah, aku membelikan cake kesukaanmu." Mega menunjuk ke arah meja yang berada di depan Arya.
"Cake?" Arya mengalihkan pandangannya, ada satu kotak kue di atas meja tersebut.
"Ya sayang. Cake red velvet, kesukaanmu. Aku baru membelinya tadi." Ucap Mega, wanita itu duduk di samping Arya namun masih ada jarak di antara mereka.
Arya membulatkan matanya melihat tulisan yang terdapat di kotak kue itu.
Rubby Cake's?!
Apa itu artinya tadi Mega membeli kue di toko kue istrinya? Dan kedua wanita itu sudah bertemu?
"Kau mau kuenya? Aku suapi ya?" Tawar Mega. Arya menggeleng cepat.
"Tidak, tidak. Mega, sebaiknya kau pergi. Aku sedang banyak pekerjaan." Tolak Arya cepat. Gerakan tangan Mega yang hendak membuka kotak kue langsung terhenti.
"Kau mengusirku?" Tanya Mega dengan nada tak percaya.
"Mega, aku sedang sibuk. Jadi sebaiknya kau pergi dulu." Pinta Arya.
__ADS_1
"Tapi Arya..."
"Mega, please..." Sela Arya sambil memasang tampang memelas.
Wajah Mega nampak cemberut. Kenapa Arya malah mengusirnya? Apa pria itu tidak merindukan dirinya setelah mereka tidak bertemu bertahun-tahun lamanya?
"Baiklah, aku pergi." Ucap Mega kemudian.
"Terima kasih. Silakan keluar." Ujar Arya sambil menunjuk pintu ruangannya. Mega kembali membelalakan matanya. Kekasihnya itu benar-benar mengusirnya.
"Arya, kau menyebalkan! Aku sudah sengaja pulang kemari demi dirimu tapi kau malah mengusirku!" Seru Mega, tapi sepertinya Arya tidak mempedulikan ucapannya. Mega menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Arya.
Dengan langkah cepat dan wajah di tekuk Mega meninggalkan coffe shop itu. Sepasang mata memperhatikannya.
"Bukannya itu Mega? Mega ada di sini?" Andika yang kebetulan sedang membersihkan meja pengunjung tidak sengaja melihat Mega yang baru keluar dari ruangan kakaknya.
"Kapan Mega kembali? Dan apa yang di lakukannya di ruangan Kak Arya tadi?" Prasangka buruk langsung hadir di kepala Andika.
Andika memperhatikan keadaan sekelilingnya, di rasa aman, ia menyelinap masuk ke ruangan Arya.
Dilihatnya sang kakak yang sedang duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Kak Arya keterlaluan!" Serunya. Arya refleks terjingkat karena terkejut dan hampir terjatuh dari sofa.
"Andika! Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk ruanganku?" Sahut Arya.
"Aku tadi melihat Mega keluar dari ruangan ini. Apa yang sudah Kakak lakukan dengan Mega di sini?!" Tanya Andika yang seakan mengintrogasi kakaknya sendiri. Ia juga tak mempedulikan pertanyaan Arya barusan.
"Kau fikir apa yang kami lakukan? Aku saja begitu terkejut melihat kedatangannya." Jawab Arya apa adanya.
"Kak Arya jangan bohong. Kakak pasti tahu Mega sudah kembali. Dan kalian berada di satu ruangan, kalian pasti sudah berbuat yang tidak-tidak. Padahal Kakak sudah menikah." Cecar Andika. Arya menggeram dan bangkit dari duduknya.
PLAK!
Satu tepukan yang cukup keras melayang tepat di kepala Andika.
"Sakit, Kak." Andika mengeluh, mengusap-usap belakang kepalanya.
"Makanya jangan bicara sembarangan. Dengarkan Kakak bicara dulu, jangan langsung menuduh begitu!" Seru Arya.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Andika masih menatap curiga pada Arya.
__ADS_1