Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 148


__ADS_3

"Oh ya Bara, apa rencanamu ke depannya?" Tanya Indra pada sahabatnya. Bara mengendikkan bahunya.


"Entahlah. Mungkin aku akan kembali mengurus rumah makan." Jawabnya.


"Lalu bagaimana dengan coffe shop milikmu?" Kini giliran Arya yang bertanya.


"Dari dulu aku sudah menyerahkannya pada pegawai kepercayaanku. Aku hanya memantaunya dari jauh saja." Jawab Bara.


Dua minggu yang lalu Bara sudah menjalani operasi atas informasi dan bantuan dari Dokter Malik. Mega begitu senang karena kini suaminya sudah bisa melihat lagi. Arya dan Indra pun demikian, karena mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu. Walau dalam hati Bara tetap merasa canggung jika teringat dengan perbuatannya dulu pada Arya.


"Arya, bagaimana dengan couvade sindrommu? Apa sudah berkurang?" Indra mengalihkan pandangannya pada Arya.


"Alhamdulillah sekarang sudah jauh berkurang, Indra. Kau tahu, di trimester awal itu rasanya sungguh nikmat." Jawab Arya. Ia ingat, saat Rubby memberitahu tentang kehamilannya sejak saat itu dirinya mengalami morning sickness yang parah. Bukan hanya pagi, siang bahkan sore hari. Dan jika di tempat kerja, Andika lah yang jadi sasaran untuk di repotkannya.


"Ya, Kak Arya selalu saja minta dibuatkan teh hangat, minta pijat, ganti pengharum ruangan, pengharum mobil, sampai parfumku di suruh ganti." Sambar Andika.


"Itu karena aroma parfummu membuatku mual. Apa kau mau aku muntah di bajumu?" Timpal Arya membuat Andika mencebik.


"Yang jelas aku membayar gajimu dua kali lipat, jadi jangan mengeluh." Tambahnya.


"Iya Bos!" Andika menyahut.


"Jadi kau mengalami couvade sindrom?" Tanya Bara yang baru tahu.


"Iya, Bara. Mungkin kalau istrimu hamil nanti, kau juga bisa mengalaminya." Ucapnya. Bara melirik ke arah Mega yang terlihat mengobrol dengan para istri sambil menyiapkan makan siang. Pernikahannya dengan Mega sudah berjalan hampir enam bulan, tapi belum ada tanda-tanda dari kehamilan dari Mega.


"Sudah jangan di fikirkan. Kalau sudah saatnya, istrimu pasti akan hamil." Celetuk Arya yang seolah tahu isi hatinya.

__ADS_1


"Kau ini, tahu saja apa yang ku fikirkan." Timpalnya.


"Karena aku sudah mengalaminya. Dulu Rubby merasa iri karena teman-temannya sudah hamil sedangkan dirinya belum. Tapi siapa sangka kini Rubby juga ikut hamil dan kami akan mendapat tiga anak sekaligus." Ucap Arya.


"Ya, ya. Kami akan sabar untuk menunggu."


"Kakak-kakak para suami, ayo kita makan siang dulu. Makanannya sudah siap." Ucap Intan setengah berteriak memanggil para pria.


"Ayo kita makan siang dulu, istriku sudah memanggil." Andika beranjak dari duduknya diikuti yang lainnya. Mereka duduk di samping istri masing-masing.


Makan siang berlangsung hangat, walau sesekali ada saja celetukan yang keluar dan mengundang gelak tawa.


_


_


_


"Jangan takut, aku akan menemanimu." Ucap Arya yang terus menggenggam tangan istrinya. Kini mereka sudah berada di salah satu ruangan di rumah sakit. Sedangkan anggota keluarga yang lain menunggu di luar.


"Aku hanya gugup saja." Ujar Rubby, wajahnya terlihat pucat.


"Tidak perlu gugup, Rubby. Ingat, sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak-anak kita." Arya mengecup kening Rubby agar mengurangi rasa gugupnya.


"Satu lagi. Kau akan melahirkan anak dari pria yang selama ini selalu kau gambar sketsa wajahnya. Jadi seharusnya kau senang, bukan gugup apalagi takut." Kata Arya membuat Rubby menautkan kedua alisnya dan mencerna ucapan sang suami.


"Mas!" Pekik Rubby. Lagi-lagi masalah sketsa yang di bahas.

__ADS_1


"Jangan meledekku!" Tukasnya.


"Aku tidak meledek, aku hanya bicara fakta saja." Sahut Arya dengan memasang wajah polosnya.


PLAK! Satu tepukan yang cukup keras melayang di lengan Arya.


"Sakit, Rubby." Ringis Arya sambil mengusap lengannya yang terasa panas.


"Makannya jangan meledekku!" Timpal ibu hamil itu sambil memasang wajah garang, tapi bukannya takut, Arya malah tergelak.


"Kau tahu? Kau tambah menggemaskan jika galak seperti ini." Tangannya mencubit pelan pipi bulat Rubby membuat wanita itu semakin cemberut.


"Mas!"


_


_


_


Akhirnya saat itu tiba. Arya bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bayi-bayi mungil itu di keluarkan oleh dokter. Ia menghujani kening Rubby dengan kecupannya. Rasa bahagia dan haru menjadi satu.


Bayi pertama dan kedua berjenis kela*min laki-laki sedang yang terakhir adalah perempuan. Suara tangis bayi menggema dalam ruangan itu.


"Terima kasih, Rubby. Aku mencintaimu."


Rubby hanya bisa mengangguk, ia juga tidak bisa menahan tangisnya. Walau dalam pengaruh obat bius, ia bisa mendengar suara tangis dari putra-putrinya.

__ADS_1


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2