Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Tidak Cemburu


__ADS_3

"Apa itu wajah kekasihmu?" Tanya Arya lagi. Rubby menganga tak percaya mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut suaminya.


Apa gambarnya benar-benar buruk hingga Arya tak mengenalinya? Tapi sepertinya dengan sekali lihat saja, sudah jelas kalau itu wajah suaminya.


"Aku tidak pernah memiliki kekasih." Sanggah Rubby.


"Lalu kenapa kau membuat sketsa wajah seorang pria?" Kedua alis pria itu terlihat menyatu, entah kenapa ada perasaan tak suka dalam hatinya ketika Rubby menggambar sketsa wajah seorang pria.


"Aku membuatnya karena..." Ucapan Rubby menggantung, ia bingung sendiri. Bagaimana menjelaskan pada Arya kalau itu adalah sketsa wajahnya?


"Kau menyukai seorang pria hingga kau buat gambar wajahnya?" Tanya Arya dengan tatapan menyelidik. Rubby membalas tatapan itu, namun tak ada jawaban keluar dari mulutnya.


"Jawab aku, Rubby." Desak Arya, tanpa sadar tangannya mencengkram lengan Rubby dengan kuat.


Rubby yang bingung dan merasakan sakit pada lengannya, akhirnya memilih mengangguk. Ia memang menyukai pria yang ia buat gambarnya. Tapi sayangnya Arya tak menyadari kalau itu adalah gambar wajahnya.


Arya melepaskan cengkramannya, dan berlalu begitu saja masuk ke kamar mandi.


Arya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi, entah mengapa ada perasaan aneh dalam dirinya. Terlebih saat Rubby mengakui kalau ia menyukai pria yang di gambarnya.


Pria itu mengusap kasar wajahnya. Jangan katakan kalau dirinya cemburu, sebab ia tak memiliki perasaan apapun pada Rubby.


Tapi Arya sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan pernikahannya dengan Rubby, karena ia hanya ingin menikah sekali dalam hidupnya. Dan sekarang tiba-tiba saja istrinya itu mengakui menyukai pria lain, jadi bukankah wajar kalau Arya merasa kesal?


Bisa jadi Rubby lah yang akan meninggalkannya nanti dan pergi bersama lelaki yang di sukainya.


Arya menggeleng pelan.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Rubby harus tetap bersamanya.


Tapi tunggu, kenapa rasanya wajah yang Rubby gambar itu terlihat tak asing? Rasanya Arya pernah melihat wajah itu... Tapi di mana?


*****


Rubby masih duduk di sisi tempat tidur menunggu Arya selesai mandi. Di sampingnya sudah ia siapkan baju ganti untuk suaminya.


"Kenapa Mas Firaz tidak mengenali wajahnya sendiri?" Batin Rubby.


"Dan kenapa Mas Firaz menyakitiku?" Rubby mengusap pelan lengannya yang terasa sakit akibat cengkraman Arya tadi.

__ADS_1


Tak lama kemudian Arya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sepinggang. Dilihatnya sang istri yang sedang duduk sambil menundukkan wajahnya. Arya menghampirinya.


"Mas sudah mandinya? Aku sudah siapkan baju gantinya." Ujar Rubby masih menundukkan wajahnya. Rubby beranjak bangun dari duduknya.


"Tunggu Rubby." Arya menarik lengannya dan membawa Rubby ke dalam dekapannya. Rubby mengangkat wajahnya, dilihatnya suaminya itu tengah menatap tajam pada dirinya.


"A.. Ada apa, Mas?" Rubby tergagap. Ini pertama kalinya Arya mendekapnya seperti ini. Terlebih Arya yang tidak memakai baju, membuat jantung Rubby kian berdetak tak karuan.


Biasanya setelah menyiapkan baju ganti dan Arya sudah selesai mandi, Rubby akan langsung keluar dari kamar. Tapi kini Arya malah menahannya.


"Rubby, dengarkan aku..." Suara Arya berubah tegas, pun dengan tatapannya. Rubby menelan salivanya, kenapa suaminya terlihat marah begitu? Apa dirinya sudah melakukan kesalahan?


"Arya! Rubby!" Lagi, sebuah suara mengejutkan mereka. Menghentikan Arya yang baru akan bicara. Arya dan Rubby menoleh ke arah pintu. Siapa lagi yang mengganggu?


Sepasang mata suami istri itu melebar menyadari siapa yang ada di ambang pintu.


Ayah Bakti, Bunda Maya, dan Mama Dewi tengah berdiri di sana, menatap mereka dengan pandangannya yang tak biasa.


"Ayah, Bunda, Mama..." Lirih Arya dan Rubby bersamaan. Arya langsung melepaskan dekapannya. Bunda Maya langsung keluar dari kamar itu setelah menyadari menantunya tidak memakai baju. Sementara Mama Dewi menghampiri keduanya.


"Arya! Kau ini! Kan sudah Mama bilang tadi, kalau mau enak-enak dengan istrimu kunci pintu lebih dulu. Ini pintu malah di biarkan terbuka, kau sudah tidak pakai baju seperti itu!" Omel Mama Dewi sambil berkacak pinggang. Sementara Rubby menunduk malu. Untuk kedua kalinya mereka seakan tertangkap basah.


"Ma, kami..."


"Sebaiknya di tunda dulu, kami ingin bicara dengan kalian. Selesai bicara, kalian bisa bermain sepuasnya." Potong Mama Dewi.


"Cepat pakai bajumu, Arya." Tambahnya.


"Rubby, ayo kita tunggu di bawah." Mama Dewi menarik tangan menantunya. Meninggalkan Arya yang terbengong di tempatnya.


"Rubby, maaf kami tak bermaksud mengganggu." Ucap Bunda Maya begitu Rubby keluar kamar. Ia merasa tak enak karena telah menganggu anak dan menantunya.


"Tidak apa-apa, Bunda." Jawab Rubby dengan senyum kikuk.


"Apa yang mau Mas Firaz katakan tadi? Kenapa dia terlihat menakutkan? Tapi untungnya Ayah, Bunda, dan Mama datang di saat yang tepat." Batin Rubby bertanya-tanya.


_


_

__ADS_1


_


Arya menuruni tangga dengan menekuk wajahnya dan berjalan menuju ruang tamu, di sana sudah berkumpul seluruh anggota keluarganya. Entah mengapa pagi ini rasanya begitu menyebalkan bagi pria itu.


"Arya, duduk sini." Mama Dewi menepuk tempat kosong di samping dirinya. Sedangkan di sisi lainnya sudah ada Andika.


"Iya, Ma." Arya menurut saja, jadilah Mama Dewi duduk di apit antara kedua putranya. Sedangkan para istri duduk berhadapan dengan mereka.


"Nah, sekarang semuanya sudah berkumpul. Kita sudah bisa mulai." Ujar Mama Dewi.


"Tapi sebelumnya, kami ingin minta maaf, Arya." Ucap Ayah Bakti.


"Minta maaf untuk apa, Ayah?" Tanya Arya heran.


"Ya... Karena kami kegiatan kalian jadi tertunda." Jawab Ayah Bakti. Arya hanya menjawab dengan senyum kaku di wajahnya.


"Kasihan sekali Kak Arya. Dua kali kepergok, dua kali gagal. Sudah begitu juga masih mengelak saja..." Gumam Andika yang masih bisa di dengar Arya. Dan dirinya hanya bisa melirik tajam pada adiknya tersebut.


"Sudah Andika, jangan goda Kakakmu. Mereka masih bisa melanjutkan setelah pembicaraan ini selesai." Mama Dewi menengahi.


"Apa yang mau di lanjutkan? Aku dan Rubby tak melakukan apapun." Arya mengeluh dalam hati.


"Baiklah kita mulai saja ya..." Ayah Bakti membuka pembicaraan.


"Ini tentang kalian berempat." Lanjutnya.


"Sebenarnya apa yang akan kita bicarakan, Ayah?" Arya bertanya.


"Kami mau membahas tentang resepsi kalian berempat." Jawab Ayah Bakti.


"Resepsi?"


Di kiranya apa yang akan di bahas. Ternyata hanya resepsi. Batin Arya. Jelas dirinya tidak akan tertarik. Tapi demi menghormati ketiga orang tuanya, ia akan tetap mendengarkan.


Arya meraih minuman di hadapannya karena kerongkongannya terasa kering.


"Iya kita akan membahas resepsi dan juga bulan madu untuk kalian." Ayah Bakti melanjutkan ucapannya.


"Uhuk, uhuk!" Seketika itu juga Arya langsung tersedak minumannya gara-gara mendengar kata 'bulan madu'.

__ADS_1


__ADS_2