
"Rahasia." Jawab Bara. Wajah Arya seketika berubah datar, jawaban Bara terdengar begitu menyebalkan baginya.
"Nanti akan ku kenalkan padamu jika dia sudah bisa ku dekati." Lanjut Bara.
"Ya terserah kau saja. Semoga usahamu berhasil." Ujar Arya sambil kembali menikmati makan siangnya.
"Kau fikir kau saja yang bisa merahasiakan wanitamu? Aku juga bisa merahasiakan pernikahanku dan istriku." Batin Arya.
"Terima kasih atas dukungannya." Sahut Bara.
Tak lama Bara pun pamit dari sana karena ia masih memiliki banyak pekerjaan dan Arya pun kembali ke coffe shopnya.
*****
Sore harinya di Rubby Cake's
Toko Rubby sudah terlihat sepi. Para pegawai sedang beres-beres karena sebentar lagi mereka akan pulang.
"Hei, hei... Lihat! Itu model Audrey kan?" Seru Ela ketika melihat Mega sedang tampil fashion show di televisi.
"Iya, benar. Ya Tuhan.... Audrey semakin cantik saja." Tambah Ria dengan tatapan kagumnya.
"Ya, dia benar-benar wanita yang sempurna, beruntung sekali lelaki yang menjadi pasangannya nanti." Imbuh Ria. Bukannya menyelesaikan pekerjaannya, ketiga remaja itu malah fokus pada televisi di depannya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Rubby datang bergabung bersama para pegawainya. Percakapan mereka setidaknya menarik perhatian Rubby yang tadi berada di meja kasir.
"Itu, Mba. Model Audrey, Model asal Indonesia yang sekarang sedang berkarir di Paris, dia semakin cantik dan sukses saja." Jawab Ela sambil menunjuk ke arah televisi.
"Model Audrey?" Rubby mengalihkan pandangannya pada televisi. Terlihat seorang wanita cantik sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya dengan pakaian yang cukup terbuka.
"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya...?" Rubby terlihat berfikir dan mengingat-ingat wajah itu.
"Akh ya, aku ingat. Bukannya dia yang fotonya waktu itu aku temukan di lemari Mas Firaz?" Tanya Rubby dalam hati.
"Siapa namanya tadi?'' Tanya Rubby pada para pegawainya.
"Audrey, Mba. Megalicha Audrey." Ria menjawab.
"Megalicha Audrey? Ternyata benar dia Mega." Gumam Rubby yang tak terdengar oleh ketiga remaja itu.
__ADS_1
"Ternyata Mega benar-benar cantik. Dia juga model terkenal, pantas saja Mas Firaz tak tertarik denganku... Dan saat ini Mega sedang berada di Paris? Apa karena itu Mas Firaz menikahiku karena kekasihnya sedang berada jauh darinya? Dan setelah Mega kembali... Mas Firaz akan kembali padanya?" Fikiran itu mendadak melesak ke dalam benak Rubby. Membuat batinnya merasa galau.
"Mba Rubby kenapa?" Tanya Ria yang melihat Rubby melamun.
"Em... Tidak apa-apa. Ayo lanjutkan beres-beresnya."
"Iya, Mba." Sahut ketiganya.
* * *
Papan yang menggantung di pintu sudah bertuliskan 'Tutup', para pegawai yang bekerja di sana pun sudah berpamitan pulang.
Secangkir coklat hangat menemani Rubby yang sedang menunggu suaminya. Dengan sendok kecil ia mengaduk-aduk minuman dalam cangkir tersebut. Rubby menghela nafas panjang, pandangannya terlihat hampa.
"Megalicha Audrey. Seorang model terkenal dan sangat cantik, sedangkan aku hanya gadis biasa berkacamata dan pemilik toko kue di pinggir jalan. Rasanya bagai langit dan bumi. Aku tidak ada apa-apanya di banding Mega...
Mega berpenampilan sexy, tapi Mas Firaz menyukainya. Dan ketika aku memakai pakaian sexy, Mas Firaz malah mengatakan aku seperti perempuan penggoda..."
Lagi, Rubby kembali menghela nafas berat.
"Bunga mawar putih..." Gumamnya tanpa sadar.
"Mawar putih?''
"Mas Firaz?"
Sejak kapan suaminya itu ada di sana?
"Kapan Mas Firaz sampai?" Tanyanya.
"Dua menit yang lalu, kau melamun saja sampai tidak tahu aku datang." Jawab Arya yang kemudian duduk di hadapan Rubby.
"Apa yang kau fikirkan?" Lanjutnya.
"Tidak, Mas. Bukan apa-apa." Rubby menjawab sambil tersenyum tipis.
"Ini apa, Mas?" Rubby menunjuk buket bunga mawar putih di depannya.
"Bunga untukmu." Jawab Arya.
__ADS_1
"Kenapa Mas Firaz memberiku bunga?" Tanyanya heran.
"Sebagai permintaan maafku. Maaf, tadi pagi perkataanku sudah menyinggung perasaanmu. Tapi aku sama sekali tak bermaksud seperti itu, aku hanya asal bicara saja." Ucap Arya, raut penyesalan terlihat jelas di wajahnya.
"Oh, itu... Tidak apa-apa, Mas... Aku..." Rubby tergagap, ia tak mengira kalau Arya akan minta maaf padanya. Di fikirnya suaminya itu tidak akan peduli.
"Sekali lagi aku minta maaf. Tadi siang aku datang kemari untuk mengajakmu makan siang dan minta maaf, tapi pegawaimu bilang kalau kau sedang pergi mengantar pesanan." Ucap Arya lagi.
"Jadi ternyata benar, Mas Firaz yang datang mencariku tadi siang. Dan pria tampan yang di puji-puji Ria adalah suamiku." Batin Rubby.
"Sudahlah Mas, lupakan saja. Lagipula Mas tak sengaja mengatakan itu." Rubby tersenyum simpul. Arya menatapnya, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di hatinya melihat senyum istrinya.
"Sebentar ya, Mas." Rubby beranjak dari duduknya menuju dapur. Tak lama gadis itu kembali.
"Ini, Mas minum dulu." Rubby memberikan secangkir cokelat hangat pada suaminya. Ia juga membawa sebuah plester di tangannya.
"Terima kasih." Arya menyesap minumannya.
"Kau mau apa?" Tanya Arya yang melihat Rubby membuka plester itu.
"Mengganti plester di keningmu, Mas." Jawabnya.
"Tidak perlu, aku pakai sendiri saja." Cegah Arya yang langsung berdiri dari duduknya, padahal Rubby sudah hendak memasangkan benda itu di keningnya.
"Tapi..." Tangan Rubby sudah menggantung di udara.
"Aku pakai sendiri saja ya..." Arya meraih plester itu kemudian beranjak dari sana menuju cermin di dinding yang terletak tak jauh darinya.
"Kenapa Mas Firaz tidak mau aku bantu?" Tanya Rubby dalam hati, ia menatap heran pada suaminya.
"Kemarin Rubby sudah membuatku sesak nafas karena posisi kita yang begitu dekat saat Rubby mengobati lukaku. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Kalau tidak, aku benar-benar akan kehilangan nafasku." Gumam Arya sambil mengganti plesternya sendiri.
Tak lama Arya kembali ke kursinya, di lihatnya Rubby memandangi bunga yang kini ada di genggamannya sambil terus tersenyum.
"Kau suka bunganya?" Tanya Arya yang duduk kembali di kursinya.
"Iya, Mas. Mawar putih bunga kesukaanku. Terima kasih." Jawab Rubby masih dengan senyumnya.
"Syukurlah kalau kau suka." Sahut Arya.
__ADS_1
"Aku tak menyangka, hanya buket bunga tapi bisa membuat istriku senang begitu." Ucap Arya dalam hati. Tadi sebelum menjemput Rubby, Arya memutuskan untuk mampir ke toko bunga. Setelah rencana makan siang yang gagal, Arya memikirkan cara untuk minta maaf pada istrinya itu. Dan ide itu terlintas di kepalanya.
Ketika berhubungan dengan Mega dulu, Arya juga selalu melakukan hal yang sama. Memberi buket bunga jika kekasihnya itu merajuk. Dan kebanyakan wanita juga menyukai bunga.