Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Aku Kembali Membuatmu Menangis


__ADS_3

Sepasang netra sayu itu mengerjap. Rubby menyipitkan matanya, menyesuaikan cahaya di ruangan itu.


"Rubby, kau sudah sadar?" Tanya Ayah Bakti yang sedari tadi menunggu putrinya.


"Ayah?" Rubby beranjak duduk di bantu Ayah Bakti.


"Apa yang terjadi, Ayah?" Tanyanya.


"Tadi kau pingsan, Nak." Jawab Ayah Bakti.


"Pingsan?" Rubby mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Tadi dokter memberi tahu tentang keadaaan suaminya dan tiba-tiba...


"Mas Firaz..." Lirihnya setelah mengingat apa yang terjadi.


"Ayah, Mas Firaz... Mas Firaz baik-baik saja kan?" Tanya Rubby khawatir.


"Tenang Rubby. Suamimu baik-baik saja." Jawab Ayah Bakti.


"Tapi tadi dokter bilang, Mas Firaz..." Ucapan Rubby terhenti, Ayah Bakti langsung memeluknya.


"Tenang, Nak. Semua akan baik-baik saja." Bisik Ayah Bakti.


"Rubby ingin bertemu dengan Mas Firaz, Ayah..." Lirih Rubby begitu pelukan keduanya terurai.


"Tapi bagaimana dengan keadaanmu?" Tanya Ayah Bakti sedikit khawatir. Bagaimanapun putrinya baru saja sadar dari pingsan.


"Rubby tidak apa-apa, Ayah."


_


_


_


Air mata kembali mengalir di mata sayu Rubby melihat suaminya yang tengah terbaring. Perban menghiasi kening dan beberapa anggota tubuhnya yang lain, dan juga mata Arya. Setelah dua hari tidak bertemu, Rubby malah mendapati kondisi suaminya seperti ini.


Rubby duduk di sisi Arya, dan menggenggam erat tangannya.


"Mas Firaz..." Gadis itu tak sanggup berkata-kata. Tenggorokannya seakan tercekat, dadanya sesak melihat keadaan Arya. Hanya air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Rubby..." Mama Dewi ikut masuk ke ruang rawat putranya dan berdiri di belakang menantunya.


"Mama... Suami Rubby... Suami Rubby..." Suara Rubby tersendat-sendat, Mama Dewi langsung memeluknya.


"Sabar, sayang. Semua ini adalah ujian dari Tuhan."


Dada Mama Dewi terasa sesak, kenapa selalu saja ada ujian dalam rumah tangga putranya. Mertua dan menantu itu saling memeluk erat.

__ADS_1


_


_


_


Keesokan harinya.


Masa kritis Arya sudah lewat, tinggal menunggu dirinya sadar.


Mama Dewi yang sedang menunggunya, dan Rubby baru saja pergi untuk melaksanakan sholat dzuhur.


Mama Dewi membelai wajah putra sulungnya.


"Kenapa jadi seperti ini, Nak?" Matanya berkaca-kaca. Putranya yang selama ini jadi tulang punggung keluarganya setelah ayahnya meninggal, Arya yang seorang pekerja keras dan begitu bertanggungjawab pada dirinya dan juga adiknya. Putranya yang selalu mengingat pesannya untuk selalu menghargai perempuan kini kondisinya sangat menyedihkan.


"Eungh..." Terdengar erangan pelan dari Arya dan perlahan jemari tangannya bergerak.


"Arya kau sudah sadar?" Tanya Mama Dewi sambil menggenggam tangan Arya.


"Mama?" Lirih Arya.


"Iya, Arya. Ini Mama."


"Mama, ini di mana? Kenapa gelap sekali?" Arya ingin membuka matanya, tapi kenapa rasanya begitu sulit? Seperti ada sesuatu yang menghalangi. Pun dengan rasa perih yang terasa mengelilingi seluruh matanya. Arya menggerakkan sebelah tangannya mencoba meraba sekitarnya.


"Arya, tenang dulu ya."


"Kau di rumah sakit, sayang." Jawab Mama Dewi.


"Rumah sakit? Tapi kenapa gelap, Ma?" Arya beranjak duduk dengan di bantu Mama Dewi. Tangannya kemudian meraba wajahnya, ada perban yang membalut matanya.


"Mata Arya kenapa, Ma? Kenapa dokter menutup mata Arya?" Tanya Arya dengan suara tercekat. Tak sanggup menjawab, Mama Dewi menahan suara isakannya.


Arya mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Perlahan ingatannya pun kembali. Di mana Bara yang mengikat dan memukuli dirinya dan juga pecahan kaca itu yang mengenai matanya... Tubuh Arya membeku, menyadari sesuatu.


"Apa Arya... Tidak bisa... Melihat lagi...?" Tanyanya tersendat-sendat.


Mama Dewi bangun dari duduknya dan memeluk putranya.


"Dokter bilang ini hanya sementara. Jika nanti ada donor kornea yang cocok untukmu, kau bisa melihat lagi, Arya." Ucap Mama Dewi mencoba memberi semangat untuk putranya.


"Jadi benar, Arya tidak bisa melihat?" Tanya Arya dengan suara yang begitu lirih.


"Jangan sedih, Arya. Semua akan baik-baik saja. Ada Mama di sini, ada Rubby, Andika dan keluarga kita." Mama Dewi mengusap lembut rambut putranya. Namun Arya hanya diam saja.


Rasa sesak memenuhi dada Arya, baru saja dirinya dan Rubby hendak bersatu kembali tapi kenapa dirinya harus mengalami kejadian seperti ini.

__ADS_1


"Rubby? Rubby pasti sedih melihat keadaanku yang sekarang. Kenapa aku hanya bisa membuat istriku sedih saja? Kapan aku bisa membahagiakannya?" Lirih Arya dalam hati. Setelah Arya cukup tenang, Mama Dewi mengurai pelukannya.


"Kau tahu, Arya? Bara sudah menyerahkan diri pada polisi pagi tadi." Ucap Mama Dewi kemudian.


"Bara mengakui semua kejahatannya, dia juga mengakui kalau dirinya lah yang melakukan semua ini padamu." Lanjut Mama Dewi.


Pagi tadi Mama Dewi mendapat kabar dari kepolisian tentang Bara yang sudah menyerahkan diri. Lelaki itu mengakui semua perbuatannya pada Rubby dan juga Arya. Tapi Mama Dewi belum sempat menemuinya karena sekarang kondisi Arya lah yang terpenting.


Arya hanya diam tak menjawab, baginya kini Bara ataupun Mega sama sekali tidak penting. Walaupun Bara yang sudah membuatnya seperti ini. Apa yang bisa di lakukannya? Membalas perbuatan Bara? Itu artinya dirinya sama saja dengan Bara.


Arya hanya memikirkan bagaimana perasaan Rubby nanti.


"Assalamuala'ikum..." Yang dalam fikiran Arya kini telah datang.


"Waalaikumsalam..." Jawab Mama Dewi dan Arya bersamaan.


"Mas Firaz..." Rubby tersenyum, binar kebahagiaan nampak di wajahnya melihat suaminya telah sadar. Ia melangkah mendekati Arya.


"Mama keluar dulu ya." Mama Dewi pamit dari ruangan itu, sengaja memberi waktu untuk anak dan menantunya.


"Bagaimana keadaan Mas Firaz? Apa ada yang sakit?" Tanya Rubby yang duduk di samping Arya.


"Aku baik-baik saja." Jawab Arya yang sebenarnya merasa canggung karena kemarin-kemarin Rubby begitu galak padanya walaupun hanya pura-pura.


"Syukurlah, aku senang Mas sudah sadar." Rubby meraih tangan Arya dan menggenggamnya.


"Kemarin aku begitu khawatir saat dokter bilang keadaan Mas kritis." Ucapnya sambil mengecup punggung tangan suaminya.


"Rubby, apa kau sudah tidak marah padaku?" Tanya Arya. Rubby menggeleng, walaupun Arya tak dapat melihatnya.


"Aku tidak pernah marah padamu, Mas." Sepasang netra di balik kacamata itu mulai berkaca-kaca.


"Aku minta maaf atas sikapku beberapa hari ini. Aku terpaksa melakukan itu." Lanjutnya dengan suara bergetar.


"Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang salah, Rubby. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Maafkan aku..." Ucap Arya yang terdengar begitu tulus dan penuh penyesalan.


"Tidak, Mas. Semua ini musibah..." Rubby meletakan telapak tangan Arya di wajahnya, tak lama terdengar suara isak tangisnya.


"Jangan menangis Rubby." Arya meraba wajah istrinya, mencoba menghapus air matanya.


"Aku sudah kotor, Mas. Apa Mas tidak jijik padaku?" Tanya Rubby dengan suara tercekat. Arya menggeleng pelan.


"Kau adalah wanita yang selalu menjaga kehormatanmu. Tak pernah sedikitpun aku merasa jijik padamu. Justru kau lah yang seharusnya membenciku. Akulah penyebab dari semua yang terjadi padamu." Lirih Arya. Rubby kembali menggenggam tangannya.


"Tak pernah sedikitpun aku membencimu, Mas." Ucapnya.


"Bagaimana bisa aku membencimu? Sedangkan kau adalah pria pertama yang membuat hatiku bergetar. Aku begitu mencintaimu. Walaupun aku merasa sakit hati di awal pernikahan kita, tapi rasa cintaku padamu mengalahkan semuanya." Lirih Rubby dalam hati.

__ADS_1


"Aku kembali membuatmu menangis, kenapa hanya kesedihan yang bisa kuberikan padamu? Sekali saja, aku ingin membuatmu bahagia. Tapi kenapa begitu sulit? Haruskah aku melepasmu agar kebahagiaan itu datang padamu? Rasanya cintaku tidak artinya kalau hanya bisa memberi kesedihan untukmu." Batin Arya.


*****


__ADS_2