Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Manfaatkan Waktu


__ADS_3

Pagi harinya


"Cucu Oma tampan sekali." Mama Dewi mengecup gemas pipi baby Dikta yang berada dalam gendongannya. Keduanya sedang berjemur menikmati sinar matahari pagi di taman belakang rumah, sedangkan Intan dan Andika masih berada di kamar.


"Intan..." Panggil Andika, ia melingkarkan tangannya di pinggang Intan. Memeluknya dari belakang. Mereka berdua berbaring lagi di tempat tidur karena Andika menarik istrinya kembali ke sana, setelah tadi Mama Dewi ingin mengajak cucunya untuk berjemur.


"Apa?" Sahut Intan.


"Ayo..." Ajak Andika.


"Ayo ke mana?" Tanya Intan bingung.


"Ck, selagi baby Dikta ada pada Mama. Kita manfaatkan waktu yang ada." Jawab Andika yang malah terasa ambigu bagi Intan.


"Apa maksudmu, Dika?" Intan berbalik menatap suaminya penuh tanya. Andika menggeram gemas. Istrinya itu selalu telat paham jika bicara masalah ranjang, sama seperti Kak Arya!


Tanpa basa-basi lagi, Andika langsung saja menyerang istrinya. Lebih baik langsung praktek saja, daripada kebanyakan bicara tapi Intan tidak paham maksudnya. Intan begitu terkejut dengan serangan mendadak suaminya, tapi akhirnya ia bisa mengimbanginya juga.

__ADS_1


Semenjak ada baby Dikta, waktu Andika bersama untuk bermesraan dengan Intan berkurang drastis. Jadi Andika harus pintar mengatur waktu agar dirinya tetap mendapat jatah dari istrinya.


Setelah di rasa sudah cukup hangat, Mama Dewi membawa kembali baby Dikta ke dalam rumah. Sudah waktunya baby Dikta untuk mandi. Ia langsung menuju kamar Andika yang berada di lantai bawah. Baru saja Mama Dewi mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu kamar, dirinya malah di suguhkan dengan suara-suara aneh yang berasal dari dalam. Suara Intan terdengar lebih mendominasi.


"Ck, ck, ck. Mereka malah asyik-asyikan di dalam kamar." Mama Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya, dan terlihat baby Dikta tertawa sendiri di dalam stollernya.


"Dikta, kau senang ya Mama dan Papamu membuat adik untukmu?" Tanya Mama Dewi pada cucunya, padahal bayi itu belum paham bahasanya dan hanya tertawa saja.


"Andika! Ingat, anak kalian masih bayi. Jangan lupa pakai pengaman!" Teriak Mama Dewi dari balik pintu, sontak Andika dan Intan yang berada di dalam langsung menghentikan kegiatannya padahal sebentar lagi pelepasan di antara keduanya akan datang.


"Kenapa Mama bisa tahu?" Tanya Intan di sela nafasnya yang memburu.


"Cepat sedikit, Dika. Ini sudah hampir siang, kau harus bekerja." Ucap Intan.


"Iya, ini juga sebentar lagi selesai."


Hah, rasanya tidak nyaman sekali kegiatan seperti ini harus di buru-buru, tapi mau bagaimana lagi? Waktu mereka memang sedikit.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian akhirnya Andika dan Intan keluar kamar, mereka berdua bahkan sudah mandi dan berpakaian rapi.


Intan langsung menghampiri ibu mertuanya yang berada di ruang tamu. Dilihatnya wanita paruh baya itu sedang mengajak bercanda cucunya. Sedangkan Andika pergi ke teras untuk memanaskan motornya yang akan dipakainya untuk pergi bekerja.


"Mama..." Panggil Intan yang langsung duduk di samping Mama Dewi.


"Sudah selesai, Intan?" Tanya Mama Dewi dengan nada menggodanya. Rona malu langsung menyembur di wajah Intan.


"Mama..."


Mama Dewi menggeleng pelan, menantunya yang satu ini memang selalu terlihat menggemaskan. Berbeda dengan Rubby yang sudah dewasa.


"Oh iya, tadi Mama mau memandikan baby Dikta tapi pakaian dan peralatannya ada di kamar kalian. Jadinya tidak jadi." Ujar Mama Dewi.


"Ya tidak apa-apa, Ma. Biar Intan saja yang mandikan." Intan membawa putranya ke kamar Andika. Sejak putranya lahir, Intan selalu belajar untuk mengurus semuanya sendiri. Ia tidak mau bergantung pada orang tuanya, karena bagaimanapun putranya adalah tanggung jawabnya dan juga Andika.


Itu juga yang membuat waktu dirinya dan Andika berkurang. Tapi Intan dan Andika tetap bahagia dengan peran baru mereka sebagai orang tua. Dan tetap Bunda Maya ataupun Mama Dewi memberi pengarahan padanya tata cara mengurus bayi.

__ADS_1


******


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2