
"Ma, mereka tidak menghina. Tapi memang kenyataannya seperti itu, jadi Mama tidak perlu marah." Ucap Arya, tangannya terangkat dan mengusap lengan Mama Dewi.
"Jangan marah ya, Ma." Ucapnya sambil tersenyum.
Mama Dewi menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, wanita paruh baya itu mencoba meredam emosinya.
"Ayo kita duduk saja." Ajak Mama Dewi yang kembali merangkul lengan putranya, membawanya ke kursi besi yang memang tersedia di taman itu.
"Arya, kau jangan dengarkan apapun kata orang ya?" Ucap Mama Dewi setelah membantu Arya untuk duduk.
"Iya, Mama. Mama tenang saja, dan Mama tidak perlu marah. Karena Arya baik-baik saja." Ucap Arya dengan senyum di wajahnya.
Sepertinya hinaan akan menjadi hal yang tidak aneh lagi baginya, dan Arya sudah menyiapkan hatinya untuk ini semua.
Mama Dewi mengusap wajah putranya dengan sayang.
"Arya, kau tunggu di sini ya. Mama haus, mau beli minum dulu." Ujarnya.
"Arya jangan ke mana-mana, nanti kau tersesat. Tunggu sampai Mama kembali." Pesannya. Arya mengangguk patuh.
"Iya, Ma. Arya tunggu di sini."
Mama Dewi pergi dari sana. Tak lama seseorang datang, ia berdiri tak jauh dari Arya. Memandang lekat wajah pria itu.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa lagi melihat wajahmu, Mas." Batin Rubby.
Rubby memang sengaja meminta Mama Dewi untuk mengajak Arya keluar, ia ingin sekali bertemu dengan Arya. Karena semenjak menalak Rubby, Arya tidak pernah lagi mau bertemu dengannya.
Kaki Rubby melangkah maju, Rubby mengambil duduk di samping Arya tapi tetap dalam jarak aman. Rubby masih memandangi wajah itu, wajah yang di rindukannya selama beberapa bulan ini. Sementara Arya belum menyadari siapa yang duduk di sampingnya.
"Assalamuala'ikum, Mas Firaz." Sapa Rubby. Arya membeku mendengar suara yang tidak asing menyapanya.
"Waalaikumsalam, Rubby." Jawabnya setelah beberapa saat terdiam.
"Ternyata Mas masih ingat suaraku." Ucap Rubby.
"Ya, karena hanya kau yang memanggilku dengan panggilan Mas Firaz." Sahut Arya. Rubby tersenyum kecil.
"Bagaimana kabar Mas Firaz?" Tanya Rubby
"Aku? Aku tidak baik-baik saja setelah Mas mengucapkan kata talak padaku." Rubby menjawab jujur. Arya bergeming.
"Rubby, tolong hargai keputusanku." Ucap Arya kemudian.
"Dan aku minta Mas Firaz hargain perasaanku." Timpal Rubby. Keduanya kembali terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
Sebenarnya ada banyak kata yang ingin Rubby ucapakan pada lelaki yang di cintainya itu, tapi begitu di samping Arya. Kata-kata yang sudah disusunnya menguap begitu saja.
__ADS_1
"Andika bilang ada pria yang menyukaimu." Ucap Arya membuat Rubby menoleh.
"Siapa?" Rubby mengerutkan keningnya.
"Dokter Malik." Rubby langsung membuang nafas kasar mendengar nama pria itu. Apalagi mengingat tiba-tiba pria itu melamarnya semalam.
"Semalam Dokter Malik melamarku." Ucap Rubby apa adanya, tubuh Arya kaku mendengarnya, tapi kemudian dia tersenyum.
"Kalau begitu selamat. Kapan kalian akan menikah?" Tanya Arya.
"Tidak akan ada pernikahan antara aku dan dia, karena aku menolak lamarannya." Tegas Rubby.
"Kau menolaknya? Kenapa?" Tanya Arya heran.
"Karena aku sudah memutuskan tidak akan menikah lagi. Kalaupun harus menikah, aku hanya menunggu mantan suamiku." Tandas Rubby yang kemudian bangun dari duduknya.
"Aku permisi, Mas. Assalamuala'ikum." Pamitnya.
"Waalaikumsalam." Arya bergeming, kenapa Rubby masih saja mengharapkan dirinya? Padahal ada pria lain yang jauh lebih baik, bahkan pria itu sudah berani untuk melamarnya?
Rubby berjalan menuju parkiran di mana motor maticnya terparkir di sana. Rubby memakai kembali helmnya dan duduk di atas motor.
"Semoga setelah ini Mas Firaz jadi peka." Gumamnya sebelum melajukan kendaraan roda dua miliknya meninggalkan taman.
__ADS_1
*****
JANGAN LUPA LIKE UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😉