
"Tuan Arya, maaf... Kami sama sekali tidak tahu kalau Tuan suami dari Mba Rubby." Cicit Ria di iringi anggukan dari yang lainnya.
"Iya, Tuan. Maafkan kami..." Tambah Ela.
"Sekarang kalian sudah tahu, jadi jangan goda aku lagi. Kalau tidak, Rubby akan memecat kalian." Kata Arya yang malah terdengar menakutkan untuk ketiga gadis itu.
"Mas..." Rubby memberi isyarat lewat tatapan matanya. Tak mungkin juga ia memecat para pegawainya itu, apalagi mereka tak tahu jika Arya adalah suami pemilik toko tempat mereka bekerja.
"Kenapa? Memangnya kau rela jika suamimu di goda wanita lain?" Tanya Arya.
"Bukan begitu..." Rubby malah bingung sendiri.
"Mba Rubby, Tuan Arya. Sekali lagi kami minta maaf." Kata ketiga gadis itu serempak.
"Sudah-sudah. Lebih baik kalian pulang saja." Ucap Rubby.
"Iya, Mba. Kami pulang, permisi." Mei menarik tangan kedua temannya dan pergi dari sana.
"Sudah ku bilang, jangan ganggu Tuan Arya. Pria tampan seperti dia tidak mungkin masih sendiri." Mei menggerutu sambil teerus menarik kedua tangan temannya.
"Kami kan tidak tahu, Mei. Lagipula Tuan Arya tidak pernah bilang kalau dirinya adalah suami Mba Rubby." Sahut Ela.
"Sudah jangan bertengkar. Semua itu salah Tuan Arya. Kenapa punya paras yang begitu menggoda iman. Kami yang imannya cetek begini kan mudah tergoda jadinya." Ria menengahi.
"Astaga, kalian ini..." Mei tidak sanggup berkata-kata lagi mendengar celotehan aneh dari teman-temannya.
Rubby menatap Arya yang berdiri disampingnya.
"Tidak seharusnya Mas bicara seperti itu." Ucap Rubby begitu para pegawainya tak terlihat lagi.
"Kenapa? Apa kau akan diam saja jika ada wanita lain yang menggoda suamimu?" Tanya Arya dengan tatapan mengintimidasinya. Rubby yang ditatap seperti itu jadi gugup sendiri.
"Bukan seperti itu, Mas. Tapi..."
"Sudahlah Rubby. Lagipula pegawaimu saja yang aneh." Arya menyela.
"Mas..." Pegawainya memang seperti itu, maklum saja mereka adalah para gadis muda yang baru beranjak dewasa.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Arya mengalihkan pembicaraan.
"Belum, Mas. Sedikit lagi." Jawab Rubby.
"Kau ini pemilik toko, para pegawaimu sudah pulang, tapi kau malah sibuk sendiri." Celetuk Arya.
"Mas, aku kan sudah pernah bilang..."
__ADS_1
"Ya sudah cepat selesaikan, lalu kita pulang." Arya kembali menyela.
"Apa Mas Firaz kemari untuk menjemputku?" Tanya Rubby, Arya mengangkat sebelah alisnya. Kenapa Rubby malah bertanya hal yang sudah jelas?
"Lalu kau fikir untuk apa aku ke sini? Untuk bertemu para pegawaimu yang aneh itu?" Arya balik bertanya, raut wajahnya terlihat kesal. Tadi Bara, lalu para pegawai istrinya sudah membuatnya menahan emosi. Dan sekarang Rubby malah bertanya seperti itu. Rubby yang menyadari perubahan wajah suaminya, kemudian ia berdehem.
"Ehm... Ya tidak begitu juga, Mas. Tapi bukannya Mas masih sakit?" Tanyanya.
"Aku sudah sehat, Rubby."
"Lebih baik Mas menunggu di dalam toko saja." Tawarnya. Lagipula biasanya Arya juga menunggunya di dalam toko.
"Ya sudah, ayo." Ajak Arya, pria itu berjalan lebih dulu diikuti Rubby di belakangnya.
"Mas mau minum apa?" Tanya Rubby begitu memasuki toko kue miliknya yang sudah tutup itu.
"Apa saja." Arya mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di sana.
"Sebentar." Rubby bergegas ke dapur untuk membuat minuman.
"Aku fikir Mas Firaz tidak menjemputku. Bagaimanapun Mas Firaz masih belum sehat." Ucap Rubby dalam hati, tangannya tengah mengaduk secangkir coklat hangat.
Rubby mengantarkan secangkir minuman itu untuk Arya.
"Aku lanjutkan sebentar pekerjaanku ya, Mas?" Rubby meminta izin terlebih dulu pada suaminya.
"Untung saja aku kemari, jadi aku tahu siapa wanita yang di sukai Bara. Dan ternyata itu adalah istriku sendiri." Gumam Arya sambil mendengus kesal. Ia kembali mengambil ponselnya, ada beberapa pesan dari Mega. Arya membaca satu persatu pesan itu.
"Arya, kau milikku. Sampai kapan pun kau tetap milikku. Jadi kau jangan pernah berfikir untuk berpaling dariku."
Kening Arya nampak mengerut membaca pesan terakhir dari Mega.
"Dia fikir dia siapa bicara seperti itu? Dia saja begitu mudahnya berpaling dan mengkhianatiku." Arya menggerutu kesal, ia menyimpan kembali ponselnya di saku celananya tanpa membalas pesan-pesan Mega.
"Aku ini milik Rubby, karena Rubby adalah istriku." Batinnya.
"Aku milik Rubby?" Arya tertegun, ia sendiri yang mengklaim dirinya milik Rubby. Tapi...
Beberapa menit kemudian. Rubby kembali menghampiri suaminya yang masih setia menunggunya, cangkir minumannya sudah nampak kosong.
"Sudah selesai?" Tanya Arya.
"Iya, Mas. Ayo kita pulang." Ajak Rubby yang sudah nampak rapi.
_
__ADS_1
_
_
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang sedikit macet sore itu. Arya menginjak rem saat lampu lalu lintas di hadapannya berubah warna merah. Ia melirik ke arah Rubby yang nampak sedang membaca resep kue di ponselnya.
"Rubby, apa kau sudah lama mengenal Bara?" Tanyanya membuka percakapan di natara mereka berdua.
"Kenapa, Mas?" Rubby menoleh, tadi ia tak mendengar begitu jelas apa yang di katakan suaminya.
"Bara, apa kau sudah lama mengenalnya?" Arya mengulang kembali pertanyaannya.
"Tuan Bara?"
"Kenapa memanggilnya Tuan?" Tanya Arya heran.
"Memangnya kenapa? Tidak salahkan kalau aku memanggilnya Tuan? Kami selalu memanggil para pengunjung di toko kue dengan sebutan Tuan atau Nyonya." Rubby menjelaskan.
"Oh, begitu?"
"Ya, Mas. Menurutku itu lebih sopan."
"Berarti Rubby hanya menganggap Bara sebagai pengunjung toko kuenya saja." Ucap Arya dalam hati.
"Tuan Bara, sudah beberapa bulan ini menjadi pelanggan setia di toko kue kami." Terang Rubby.
"Apa Tuan Bara teman Mas Firaz?" Lanjut Rubby.
"Ya, dia teman kuliahku. Kami juga sempat membuka usaha bersama." Sahut Arya.
"Apa Bara selalu berusaha untuk mendekatimu?" Tanya Arya.
"Mendekati? Maksudnya?" Rubby balik bertanya sambil membenarkan kacamatanya yang sedikit turun.
"Lupakan, anggap aku tidak pernah bertanya seperti itu." Tukas Arya. Rubby hanya bisa menatap suaminya dengan heran.
Arya kembali melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah warna, keduanya kembali membisu. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit sepasang suami istri itu akhirnya sampai di rumah.
"Assalamu'alaikum, Mama." Arya dan Rubby mengucap salam bersamaan.
"Waalaikumsalam. Kalian baru pulang?" Tanya Mama Dewi.
"Iya, Ma." Jawab Rubby sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya, di ikuti dengan Arya.
"Ya sudah Ma, kami ke kamar dulu." Pamit Arya sambil menarik tangan istrinya dan itu tak luput dari perhatian Mama Dewi.
__ADS_1
"Arya sudah mau bergandengan tangan ke kamar bersama Rubby, berarti hubungan mereka ada kemajuan." Gumam Mama Dewi sambil tersenyum lebar. Karena selama ini Mama Dewi selalu melihat Arya yang berjalan lebih dulu jika keduanya pulang.
*****