
"Biar aku hubungi Rubby." Kata Bunda Maya.
Setelah beberapa menit dan beberapa panggilan...
"Bagaimana? Apa Rubby mengangkatnya?" Tanya Mama Dewi. Bunda Maya menggeleng.
"Tidak di angkat." Jawabnya. Mama Dewi semakin gelisah.
Tak lama ponsel Bunda Maya berdering, ada nama Rubby di sana.
"Rubby menelepon." Bunda Maya langsung mengangkat panggilannya.
"Asalamuala'ikum, Rubby."
"Waalaikumsalam, Bunda. Ini Arya." Suara Arya terdengar di balik ponsel.
"Arya? Kalian di mana? Kenapa belum menjemput Mama Dewi?" Tanya Bunda Maya. Tapi tak ada jawaban dari Arya.
"Arya?"
"Bunda... Rubby, Rubby masuk rumah sakit..." Jawab Arya dengan suara bergetar.
_
_
_
Arya duduk di kursi besi depan ruangan Rubby yang sedang di tangani oleh dokter. Pandangannya terlihat kosong. Hatinya kacau memikirkan keadaan istrinya.
"Semua salahku.... Seharusnya aku tidak terlambat menjemput istriku..." Arya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, rasa bersalah seakan menenggelamkan dirinya. Melihat keadaan Rubby tadi, Arya benar-benar menyesal.
"Arya!" Sebuah suara membuat pria itu menoleh. Mama Dewi, Bunda Maya dan Ayah Bakti datang dengan langkah tergesa.
"Arya, apa yang terjadi? Kenapa Rubby bisa masuk rumah sakit?" Tanya Mama Dewi. Namun Arya diam saja, rasanya lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan dari sang mama.
"Dan kenapa penampilanmu berantakan seperti ini? Darah siapa ini?" Sambung Mama Dewi yang baru menyadari penampilan putranya yang sangat kusut karena berkelahi dengan Bara tadi. Ada beberapa bercak darah di kemeja yang di pakainya, membuat para orang tua semakin khawatir.
"Arya, kenapa diam saja? Apa yang sudah terjadi?" Bunda Maya ikut bertanya.
__ADS_1
"Rubby...."
Klek, pintu ruangan itu terbuka. Menghentikan Arya yang baru akan bicara. Arya segera bangkit dan menghampiri dokter yang baru saja selesai menangani istrinya.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Tanyanya cemas. Mama Dewi , Bunda Maya dan Ayah Bakti tak kalah cemasnya.
"Apa kalian semua keluarga pasien?" Tanya dokter wanita paruh baya itu sambil menatap satu-satu orang yang ada berdiri di hadapannya.
"Ya, kami keluarganya. Kami orang tuanya." Bunda Maya menjawab.
"Kita bicara di ruangan saya saja." Ucap dokter tersebut.
"Kenapa tidak di sini saja dokter? Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan putri saya?" Ayah Bakti bertanya. Dokter wanita itu terlihat menghela nafas sebelum akhirnya bicara.
"Baiklah kalau begitu. Kondisi pasien sudah membaik, masa kritisnya sudah lewat." Jawab dokter membuat mereka menghembuskan nafas lega.
"Tapi ada yang ingin saya sampaikan." Sambung dokter kembali.
"Ada apa dokter?" Tanya Ayah Bakti penasaran sekaligus takut dokter mengatakan hal buruk tentang putrinya.
"Pasien sepertinya mengalami p*lecehan s*ksual. Dari beberapa luka dan memar yang terdapat di tubuh pasien, kami menyimpulkan seperti itu." Jawab dokter yang seakan terdengar seperti petir di siang bolong.
"Kemungkinan besar saat sadar nanti pasien akan mengalami syok atau trauma. Jadi saya minta keluarga pasien untuk tidak meninggalkannya sendiri." Lanjut dokter kembali. Ketiga orang tua itu hanya bisa saling memandang.
"Saya permisi dulu." Dokter tersebut undur diri.
Tubuh Arya terasa lemas, ia terduduk kembali di kursinya. Sementara tatapan penuh tanya dari para orang tua sudah berpusat padanya.
"Arya, sebenarnya apa yang terjadi? Dokter bilang Rubby..." Ayah Bakti seakan tak sanggup melanjutkan perkataannya. Sementara Bunda Maya dan Mama Dewi, sepasang mata mereka mulai terlihat berkaca-kaca menatapnya.
"Maaf, Ayah. Ini semua salah Arya. Arya telat menjemput Rubby..." Jawab Arya lirih.
"Apa maksudmu, Arya? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Mama Dewi yang duduk di samping Arya.
"Bara, Ma..."
"Bara?" Mama Dewi terlihat berfikir, sepertinya nama itu tak asing baginya.
"Bara teman kuliah Arya dulu. Ternyata dia menyukai Rubby dan..."
__ADS_1
Arya akhirnya menceritakan dari awal tentang Bara yang menyukai Rubby dan kemarin melamar Rubby, tapi Rubby menolaknya karena dirinya sudah menikah. Dan juga Bara yang datang kembali, tapi ternyata pria itu malah berusaha untuk menyakiti dan melec*hkan Rubby.
"Tadi Arya telat menjemput Rubby, karena ban mobil Arya bocor dan harus menggantinya dulu. Begitu Arya sampai di toko kue, keadaannya sudah berantakan dan Bara... Bara sudah hampir..." Tenggorokan Arya seakan tercekat, ia tak sanggup lagi bicara.
Jemari Ayah Bakti terkepal kuat mendengar cerita Arya, rahangnya mengeras. Pria paruh baya itu tidak akan membiarkan ini begitu saja. Tidak ada ayah di dunia ini yang rela jika putrinya disakiti.
"Arya, kau harus melaporkan kasus ini pada polisi. Ayah tidak rela, putri Ayah mendapat perlakuan seperti ini." Geramnya. Arya mengangguk.
"Iya, Ayah. Nanti Arya akan minta hasil visumnya sebagai barang bukti." Jawabnya. Arya kemudian bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan para orang tuanya.
"Ayah, Bunda, Mama... Arya minta maaf. Semua ini salah Arya yang tidak bisa menjaga Rubby..." Ucapnya penuh penyesalan.
"Sudahlah Arya ini bukan sepenuhnya salahmu." Ucap Mama Dewi sambil mengusap rambut putranya.
"Iya, Arya. Benar kata Mama mu, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Sebaiknya kita berdoa agar keadaan Rubby cepat membaik." Bunda Maya menimpali dengan air mata yang mengalir di pipinya.
_
_
_
Sepasang netra yang biasanya di hiasi kacamata itu kini tertutup rapat. Senyum lembut yang biasa menghiasi bibirnya kini tak ada lagi. Wajah teduh itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya.
"Rubby..." Jemari Arya membelai pipi istrinya. Kemudian beralih pada kening Rubby yang terdapat perban di sana.
"Ini pasti sakit..." Arya teringat kembali saat Rubby mengobati lukanya beberapa waktu lalu. Istrinya begitu khawatir, padahal itu hanya luka kecil. Arya memejamkan matanya. Istrinya yang lemah lembut, yang selama ini begitu perhatian terhadapnya kini terbaring tak berdaya.
"Aku yang sudah membuatmu seperti ini." Arya mengusap kasar air mata yang mengalir tanpa permisi dan membasahi wajahnya.
Jemarinya kembali menyentuh wajah Rubby dan kini di bibirnya. Ada luka di sudut bibir Rubby akibat dari tamparan Bara.
"Maafkan aku, Rubby... Maaf..."
Arya mengecup punggung tangan Rubby, dan dalam sekejap pria itu sudah terisak. Kenapa selalu ada penghalang saat hubungan mereka mulai membaik?
"Arya..." Panggil Mama Dewi yang baru saja datang. Wanita paruh baya itu menatap iba pada putra sulungnya. Selama Rubby terbaring di rumah sakit, Arya tak beranjak sedikit pun dari sisinya. Arya begitu setia menunggu Rubby.
"Kau jangan sedih terus. Rubby akan baik-baik saja." Mama Dewi mengusap bahu putranya, memberikan semangat.
__ADS_1
"Seandainya Arya tidak terlambat, semua ini pasti tidak akan terjadi..." Arya membalikkan tubuhnya, masih dalam posisi duduk ia memeluk Mama Dewi.