
"Bunda, apa melahirkan itu rasanya sangat sakit?" Tanya Rubby, penasaran sekaligus takut.
"Ya begitulah. Tapi jika bayinya sudah lahir, rasa sakitnya hilang begitu saja. Melahirkan sudah menjadi kodrat kita sebagai perempuan, Rubby. Kita pasti akan mengalaminya." Jawab Bunda Maya. Rubby terdiam, fikirannya kembali mengelana.
"Rubby? Apa kau takut kalau suatu hari nanti melahirkan?" Tanya Bunda Maya yang melihat putri sulungnya terdiam.
"Em, tidak. Karena pasti nanti Mas Firaz akan menemani Rubby." Jawab Rubby sambil tersenyum, padahal hatinya sesak membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Ayah Bakti dan Bunda Maya saling memandang, kenapa juga jadi membawa-bawa Arya? Apa Rubby sebegitu yakinnya akan kembali pada Arya? Sedangkan tidak ada sama sekali kemajuan dengan hubungan mereka.
"Kenapa?" Kini giliran Rubby yang bertanya karena melihat kedua orang tuanya terdiam.
"Rubby tidak salahkan kalau masih berharap pada Mas Firaz? Bukannya ucapan itu adalah doa?" Tanya Rubby lagi.
"Ya, itu tidak salah. Dan benar katamu, ucapan itu adalah doa." Jawab Ayah Bakti pasrah dengan perasaan putrinya yang tidak bisa melupakan Arya.
Setelah melalui perjuangan yang tidak mudah akhirnya bayi mungil itu terlahir ke dunia. Intan sudah dipindahkan ke ruang rawat di temani keluarganya di sana.
"Intan, anak kita." Andika menggendong bayinya yang sudah di bersihkan.
"Mana? Aku mau lihat." Jawab Intan antusias. Andika menyerahkan bayinya pada Intan.
"Dia tampan, Dika." Ucap Intan haru, rasanya Intan masih belum percaya kalau dirinya sudah menjadi seorang ibu. Rasa sakit yang tadi di alaminya menguap sudah setelah bayi mungil itu terlahir.
"Putri kecil Bunda sudah jadi orang tua sekarang." Bunda Maya mengusap puncak kepala Intan.
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Tanya Rubby yang berdiri di samping Bundanya, jemarinya mengelus pipi merah bayi laki-laki itu.
"Namanya Dikta Putra Farzan." Andika menjawab.
"Dikta? Apa artinya?" Tanya Rubby.
"Itu singkatan nama kami, Kak. Andika dan Intan." Jawab Intan smabil tersenyum pada Andika.
"Oh begitu." Rubby tersenyum mendengarnya. Bahagia rasanya sang adik dan suaminya selalu terlihat saling mencintai. Mereka beruntung, jalinan cintanya berjalan mulus, walaupun ada sedikit masalah di awalnya. Tapi sekarang mereka nampak bahagia, apalagi dengan hadirnya putra kecil di antara mereka.
__ADS_1
Sedangkan Mama Dewi baru saja sampai di rumah sakit, dengan langkah tergesa wanita paruh baya itu hendak ke ruangan Intan.
"Ibu Dewi." Panggil seseorang membuat langkah Mama Dewi terhenti.
"Dokter Malik? Ada apa memanggil saya?" Tanya Mama Dewi heran.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Ibu Dewi. Tadinya saya mau menghubungi Ibu Dewi, tapi ternyata kita lebih dulu bertemu." Jawab Dokter tampan itu.
"Apa yang ingin Dokter bicarakan dengan saya? Apa ini tentang Arya?" Tanya Mama Dewi yang di jawab anggukan oleh Dokter Malik. Bagaimanapun dulu Dokter Malik yang menangani Arya.
"Ya, ini tentang Arya. Lebih baik kita bicarakan di ruangan saya saja." Dokter Malik membuka pintu ruangannya, mempersilakan Mama Dewi untuk masuk.
Keduanya terlibat percakapan serius beberapa saat. Perlahan kedua sudut bibir Mama Dewi terangkat membentuk senyuman.
"Terima kasih, Dok. Saya akan menyampaikan kabar baik ini segera pada Arya." Ucap Mama Dewi seraya bangun dari duduknya.
"Ya, sama-sama. Tapi tolong ingat pesan saya tadi ya, Bu." Ucap Dokter Malik.
"Iya, Dok. Tentu saya akan ingat. Sekali lagi terima kasih."
Dengan senyum mengembang di wajahnya, Mama Dewi melanjutkan kembali langkahnya ke ruangan Intan. Hari ini dirinya merasa sangat bahagia karena mendapat dua kabar bahagia sekaligus.
"Assalamuala'ikum." Mama Dewi membuka pintu ruang rawat menantunya.
"Waalaikusalam." Jawab orang-orang yang ada di sana.
"Mama..." Andika langsung mencium punggung tangan Mamanya.
"Selamat ya, putra kecil Mama sudah jadi ayah sekarang." Mama Dewi memeluk Andika dengan haru, tidak terasa kini anak bungsunya sudah memiliki anak.
"Terima kasih, Ma." Mereka melepas pelukannya.
"Kak Arya mana, Ma?" Tanya Andika, ia juga ingin berbagi kebahagiaan dengan sang Kakak.
"Kakakmu di rumah, Dika. Arya tidak ikut kemari." Jawab Mama Dewi seketika membuat Andika kecewa. Tak hanya Andika kecewa, tapi juga wanita yang kini tengah menggendong bayi mungil adiknya.
__ADS_1
"Ku kira Kak Arya ikut kemari." Timpal Andika, Mama Dewi hanya tersenyum
"Mana cucu Mama, Dika?" Tanyanya.
Rubby menghampiri Mama Dewi dengan bayi mungil di tangannya.
"Ini Mama, cucu Mama." Bayi mungil itu di alihkan ke gendongan Mama Dewi.
"Tampan sekali." Mama Dewi mengecupi wajahnya.
"Siapa namanya?"
"Dikta, Mama." Jawab Andika.
"Assalamuala'ikum, baby Dikta. Ini Oma Dewi." Sapa Mama Dewi pada cucu pertamanya, bayi mungil itu masih memejamkan matanya.
"Intan, bagaimana keadaanmu?" Tanya Mama Dewi pada menantunya yang sedang menikmati makan siangnya sambil di suapi Bunda Maya.
"Intan baik-baik saja, Ma." Jawabnya.
"Syukurlah kalau begitu. Makan yang banyak ya, supaya cepat pulih."
"Iya, Ma."
"Em... Ayah, Bunda, Mama, Rubby keluar sebentar ya." Ujar Rubby membuat orang-orang di sana mengalihkan pandangannya.
"Mau ke mana Rubby?" Tanya Ayah Bakti.
"Rubby mau beli makan siang, Ayah. Sekalian untuk kalian semua." Jawab Rubby.
"Ya sudah, ayo Ayah temani."
"Iya, Ayah."
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊