
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Mama Dewi.
Rubby terlihat berfikir sejenak, lalu bertanya.
"Ma, berapa lama Mas Firaz berpacaran dengan Mega?"
"Mega?" Mama Dewi mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" Mama Dewi balik bertanya.
"Rubby hanya ingin tahu saja, Ma." Jawabnya.
"Oh itu, Ya... Mereka cukup lama berhubungan. Sekitar enam tahun." Jawab Mama Dewi.
"Enam tahun?!" Rubby tersentak. Ternyata sudah cukup lama mereka berpacaran.
"Ya, dua tahun mereka bersama. Lalu selama empat tahun ini mereka menjalani hubungan jarak jauh." Mama Dewi menerangkan.
"Lalu kenapa hubungan mereka berakhir?" Rubby terlihat penasaran.
"Karena Mega mengkhianati Arya. Ia menjalin hubungan dengan seorang pria bule di Paris. Dan Arya melihatnya sendiri saat mereka berdua tengah bermesraan." Jelas Mama Dewi.
"Jadi begitu ceritanya? Kasihan sekali Mas Firaz."
"Ya, padahal saat itu Arya sudah mau melamar Mega. Tapi ia malah melihat Mega dengan pria lain."
"Jadi Mas Firaz sudah mau melamar Mega?" Rubby terlihat terkejut.
"Ya, Rubby. Sebenarnya beberapa kali Arya juga sempat melamar Mega. Tapi Mega selalu menolaknya, dengan alasan ia ingin berkarir dulu. Dan setelah enam tahun ternyata ia malah mengkhianati Arya." Cerita Mama Dewi dengan emosi yang mulai mencuat. Entahlah, membicarakan Mega selalu saja membuat tensi darahnya itu cepat naik.
"Tapi untungnya mereka tak jadi menikah. Dan kau yang akhirnya jadi menantu Mama." Seloroh Mama Dewi tersenyum sambil menatap Rubby. Wajah menantunya selalu terasa menyejukkan hatinya, berbanding terbalik dengan Mega.
Ia ingat dulu pertemuan pertamanya dengan Rubby saat dirinya tak sengaja berkunjung ke toko kue milik Rubby. Rubby melayaninya dengan begitu ramah, dan Mama Dewi langsung jatuh cinta dan merasa kalau Rubby lah yang cocok untuk putranya.
__ADS_1
Dan beberapa kali setelah itu Mama Dewi datang berkunjung ke toko kue itu hanya untuk bertemu Rubby dan mencaritahu tentangnya dari para pegawainya. Setelah mendapat informasi yang cukup, Mama Dewi merasa benar-benar yakin dengan Rubby.
Hingga akhirnya memberanikan diri untuk melamar Rubby, walaupun pada saat itu Rubby begitu terkejut akan permintaannya. Dan Rubby belum memberikan jawaban apapun, sampai keduanya bertemu kembali saat akan melamar Intan untuk Andika.
"Apa itu artinya saat Mama Dewi memintaku untuk menikah dengan Mas Firaz, Mas Firaz masih menjalin hubungan dengan Mega?" Tanya Rubby kembali.
"Ya, mereka masih berhubungan. Tapi jauh di lubuk hati Mama, Mama sebenarnya tak menyetujui hubungan mereka."
"Kenapa, Ma? Bukannya Mega itu sangat cantik dan dia juga seorang model?"
"Mama tidak menyukainya, Rubby. Mega selalu berpakaian sexy dan terbuka, profesinya juga Mama kurang menyukainya. Mama tak ingin punya menantu yang terkenal, bisa-bisa di keluarga ini tak ada lagi privacy. Dan sebagai orang tua, Mama ingin wanita yang terbaik putra Mama." Terang Mama Dewi.
"Oh begitu? Tapi Mas Firaz kan sangat mencintai Mega?"
"Ya, mereka berdua memang saling mencintai. Itu yang membuat Mama mengalah dan membiarkan mereka tetap melanjutkan hubungannya. Tapi nyatanya Mega malah mengkhianati Arya."
Mama Dewi menjeda ucapannya sejenak, sebelum melanjutkan.
"Dan setelah Arya menceritakan hal itu, Mama langsung mengambil langkah cepat meminta kalian berdua untuk menikah. Dan secara kebetulan ternyata kau adalah kakaknya Intan. Jadi jalan kalian untuk menikah jadi lebih mudah."
"Maafkan Mama kalau pada awalnya Mama seakan memaksamu menikah dengan Arya, karena Mama yakin kau lah yang terbaik untuk putra Mama." Mama Dewi mengusap lembut rambut Rubby yang tertutup hijab.
"Mama tidak perlu minta maaf, mungkin kami memang sudah jodoh." Rubby tertawa kecil.
"Sekarang kau istri Arya. Dan apapun yang terjadi nanti, kau tetap istrinya. Kau harus mempertahankan suami dan rumah tanggamu. Jangan biarkan siapapun mengusik rumah tangga kalian." Nasihatnya. Rubby terlihat berfikir sejenak.
"Apa Mama takut Mega..." Rubby tak melanjutkan ucapannya.
"Rubby, bukan hanya Mega. Tapi siapapun pasti akan mencoba mengusik, jika ada kesempatan. Entah itu lelaki yang menyukaimu atau perempuan yang menyukai Arya." Jelas Mama Dewi sambil menatap serius pada menantunya.
"Tapi tidak ada pria yang menyukai Rubby, Ma..." Lirih Rubby. Mama Dewi malah tertawa mendengarnya.
"Mana mungkin tidak ada pria yang tak menyukaimu, Rubby. Kau ini cantik, kau juga wanita yang mandiri. Dan Mama yakin, kalau sebenarnya di luar sana ada banyak pria yang menyukaimu. Namun mereka takut atau malu untuk mendekatimu." Ujar Mama Dewi di sela tawanya.
__ADS_1
Siapa sangka, Arya sudah berdiri di belakang mereka saat Mama Dewi mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
Arya terdiam sejenak sebelum kembali memutar langkahnya dan masuk kembali ke kamarnya.
Lelaki itu mendaratkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Pandangannya berubah hampa.
"Ada banyak pria yang menyukai Rubby?" Rasanya kata-kata itu mengusik hatinya.
"Benarkah ada banyak pria di luar sana yang menyukai Rubby? Tapi Rubby memang cantik walaupun tidak pernah memakai make up. Dan semua yang di katakan mama benar adanya..." Arya memijat keningnya yang kembali terasa pusing. Hatinya seakan tak terima jika ada pria yang menyukai istrinya itu.
Arya beranjak dari tempat tidur dan kembali ke meja kerjanya. Tangannya memilih-milih buku yang ada di sana, kemudian menarik sesuatu yang tadi Rubby simpan di salah satu buku itu.
"Sebenarnya siapa pria yang di sukai Rubby?" Arya kembali memandangi gambar sketsa yang Rubby buat tadi pagi. Sayangnya ia tak menyadari kalau itu adalah sketsa wajahnya sendiri.
_
_
_
Malam harinya...
Rubby sudah berganti pakaian, gadis itu mengenakan piyama berlengan pendek hijabnya juga sudah di lepas. Ia duduk di depan meja rias sambil mulai menyisir rambut panjangnya. Ritual yang biasa Rubby lakukan sebelum tidur. Setidaknya saat bangun tidur nanti, rambutnya tidak kusut.
Klek, pintu kamar itu terbuka. Arya masuk ke dalam kamar, setelah sebelumnya menghabiskan waktu untuk melamun di taman belakang rumahnya selepas makan malam tadi. Melamunkan hal tak jelas, Arya pun tidak tahu apa yang begitu mengganggu fikirannya.
Pria itu melirik ke arah Rubby yang nampak begitu fokus pada cermin di depannya. Namun matanya melihat sesuatu yang berbeda di bagian tubuh istrinya.
"Lenganmu kenapa?" Tanya Arya yang berjalan menghampiri Rubby. Rubby menoleh, kemudian melihat ke arah lengannya. Ada guratan merah di lengannya yang putih mulus itu.
"Oh, ini..." Ucapan Rubby terputus. Ia beranjak berdiri. Seingatnya itu adalah bekas cengkraman suaminya tadi pagi. Ternyata masih meninggalkan bekas di sana.
"Kenapa?" Tanya Arya yang kemudian meraih lengannya.
__ADS_1
"Ini..." Rubby terlihat bingung. Dirinya ingin menjawab, tapi Rubby merasa tak enak.