Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Cinta Pertama


__ADS_3

"Bukannya ini wajah Arya?" Bunda kembali melihat ke arah putrinya, dilihatnya Rubby masih terlelap dan tidak terusik oleh suara buku yang jatuh tadi.


Bunda Maya membuka kembali buku itu dari halaman awal. Nampak di sana gambar sketsa wajah Arya dan juga beberapa tulisan Rubby. Alis wanita paruh baya itu saling bertaut melihat tanggal yang tertera di sana.


"Ini tanggalnya sudah lama, jauh sebelum Rubby dan Arya menikah." Gumamnya. Bunda Maya membuka kembali lembaran buku itu. Hanya ada gambar sketsa wajah Arya di tiap lembar kertasnya. Untuk apa Rubby membuat gambar sketsa wajah Arya sebanyak ini?


Bunda Maya terperangah saat membaca tulisan Rubby di halaman tengah.


"Aku hanya bertemu dengannya satu kali, tapi wajahnya tidak pernah hilang dari fikiranku. Dan kini aku menyadari, kalau diriku telah jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan dia juga cinta pertamaku. Tanpa tahu namanya, aku hanya bisa membuat sketsa wajahnya. Ku berharap akan kembali bertemu dengannya dan dia menyadari perasaanku..." Tulis Rubby.


"Jadi Rubby sudah jatuh cinta pada Arya bahkan jauh sebelum mereka menikah?" Bunda Maya seakan tak percaya.


Di tempat tidur, terlihat tangan Rubby bergerak seolah mencari sesuatu, diiringi dengan kelopak matanya yang terbuka.


"Mana bukuku?" Rubby beranjak duduk, masih mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer. Tapi seketika matanya membulat melihat Bunda Maya yang berdiri tak jauh darinya sedang membaca bukunya dengan raut wajah yang begitu serius.


"Bunda..." Panggilnya begitu pelan, namun Bunda Maya masih bisa mendengarnya.


"Rubby, kau sudah bangun?" Tanya Bunda Maya dengan senyum hangat di wajahnya. Ia mendekat ke arah Rubby yang duduk mematung di sisi tempat tidur. Gadis itu begitu terkejut buku rahasianya sudah berada di tangan bundanya.


"Bunda... Bunda baca... Buku Rubby?" Tanyanya terbata-bata.


"Maaf Rubby. Tadi Bunda ingin menyimpan buku ini di rak karena takut rusak jika kau membawanya tidur dan tertindih. Tapi tanpa sengaja Bunda menjatuhkannya. Dan Bunda melihat ternyata ada banyak gambar sketsa wajah Arya di sini." Jawab Bunda Maya, tangannya kemudian membelai wajah Rubby dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang berantakan. Wajah Rubby terlihat memucat, bundanya pasti sudah tahu apa isi dari buku itu.


"Jadi ternyata Arya adalah cinta pertamamu? Kau sudah jatuh cinta padanya bahkan jauh sebelum kalian menikah?" Tanya Bunda Maya. Rubby menundukkan wajahnya, kemudian mengangguk.


"Iya, Bunda... Rubby sudah jatuh cinta pada saat pertama kali bertemu dengan Mas Firaz. Rubby mencintainya, Rubby sangat mencintainya..." Lirih Rubby, tak lama gadis itupun terisak. Bunda Maya meraih Rubby ke dalam pelukannya. Ada perasaan lega dalam dirinya mengetahui jika Rubby mencintai Arya.


"Apa sekarang kau membencinya?" Tanyanya. Masih dalam pelukan Bunda Maya, Rubby menggeleng.


"Kalau kau mencintainya, dan tidak membencinya tidak seharusnya kau memutuskan untuk tinggal terpisah seperti ini, Rubby."

__ADS_1


Rubby mengadahkan wajahnya, perlahan melepas pelukannya.


"Tapi Rubby sudah kotor, Bunda. Lelaki lain sudah menyentuh Rubby. Rubby sudah tidak pantas untuk Mas Firaz..." Ucapnya dengan nada pilu.


"Rubby..." Bunda Maya menangkup wajah putri sulungnya.


"Jangan berfikiran seperti itu, sayang. Arya tidak pernah menganggapmu seperti itu." Tuturnya. Rubby menggeleng pelan.


"Tapi kenyataannya seperti itu, Bunda..."


"Apa kau tahu? Arya tadi datang kemari."


"Mas Firaz datang?" Rubby nampak terkejut, ia sama sekali tidak tahu jika suaminya datang.


"Ya, tadi Bunda mau memberitahumu. Tapi ternyata kau tertidur."


"Mas Firaz bilang apa, Bunda?"


"Banyak. Banyak yang Arya katakan. Arya sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan kalian dari awal hingga sekarang. Ia mengatakan semuanya pada Ayah dan Bunda. Tidak ada yang ditutupinya. Arya juga mengakui semua kesalahannya di pada kami." Ucap Bunda Maya.


Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu kamar Rubby, menghentikan sejenak percakapan ibu dan anak itu.


"Bunda, Rubby, ini Ayah. Boleh Ayah masuk?" Suara Ayah Bakti terdengar di balik pintu.


"Ya, Ayah masuk saja." Bunda Maya menyahut. Ayah Bakti masuk ke dalam kamar Rubby. Dilihatnya ibu dan anak itu sedang duduk di sisi tempat tidur, Ayah Bakti kemudian duduk di samping Rubby.


"Ayah, apa Mas Firaz datang kemari?" Rubby bertanya.


"Ya, tadi Arya datang. Tapi sekarang sudah pulang." Jawab Ayah Bakti, kemudian mengusap rambut panjang putrinya. Terlihat raut kecewa di wajah Rubby, padahal dirinya sudah menunggu kedatangan Arya.


"Rubby, tadi Arya memohon pada Ayah untuk memperbaiki kesalahannya. Arya ingin kalian bersama kembali. Bagaimana? Apa kau bersedia?" Tanyanya. Rubby menundukkan wajahnya, manik matanya gelisah.

__ADS_1


"Tapi Rubby, Rubby sudah kotor Ayah. Apa Rubby masih layak untuk menjadi istri Mas Firaz?" Tanya Rubby tersendat-sendat. Ayah Bakti merangkul bahu putrinya.


"Ayah sudah mengatakan hal ini tadi pada Arya." Ucapnya. Rubby mengadahkan pandangannya kembali.


"Lalu Mas Firaz bilang apa?"


"Rubby tetap istri Arya, bagaimanapun keadaannya." Jawab Ayah Bakti menirukan ucapan Arya tadi.


"Arya juga bilang, ia sengaja tak menghubungi dan menemui dua hari ini karena takut kau masih marah dan malah mengusirnya nanti. Maka dari itu Arya baru datang sekarang, ia menunggu kemarahanmu reda dulu." Tambah Ayah Bakti.


Tak ada kata terucap dari mulut Rubby, hanya tubuhnya yang bergetar diiringi isak tangis. Di kiranya Arya memang sudah tidak peduli lagi dengannya karena sudah tidak pernah menghubunginya lagi.


Bunda Maya menarik Rubby ke dalam pelukannya, Ayah Bakti pun ikut


memeluknya.


"Kembalilah pada suamimu, Rubby. Arya sudah mengakui dan menyesali semua perbuatannya. Besok Arya akan kemari lagi untuk menjemputmu." Ucap Ayah Bakti. Rubby hanya bisa mengangguk dalam pelukan sang bunda.


_


_


_


Sementara itu di kamar Andika.


"Intan, berhentilah menangis." Pinta Andika pada istrinya. Sedari tadi ibu hamil itu tak berhenti menangis.


"Kalau kau tidak berhenti menangis, aku akan meminta Kak Arya untuk bertanggung jawab. Gara-gara dia, kau jadi menangis seperti ini." Ancamnya.


"Dika, siapa yang tidak sedih melihat adegan tadi?" Tanya Intan dengan mata yang mengalir deras di pipinya.

__ADS_1


"Ya, adegan tadi memang sedih. Tapi ini sudah berjam-jam kau menangis." Keluh Andika.


Karena penasaran, Andika dan Intan tadi mengintip kejadian di ruang tamu dari pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Mereka mendengar semua apa yang Arya katakan pada Ayah Bakti dan juga Bunda Maya. Andika sempat terkejut melihat kakaknya memohon seperti tadi. Tak pernah sebelumnya ia melihat Arya memohon demi seorang wanita.


__ADS_2