
"Ya, ya. Ayah percaya padamu. Ayah titip Rubby." Ayah Bakti menepuk bahu Arya beberapa kali.
"Kakak..." Panggil Andika begitu Arya selesai dengan Ayah mertuanya.
"Selamat untukmu karena sudah menjadi Ayah." Ucap Arya yang berdiri berhadapan dengan adiknya.
"Selamat juga untuk Kakak." Andika menarik Arya ke dalam pelukannya, tanpa malu pemuda itu menangis. Akhirnya para kakak bisa bersama kembali, sedangkan yang lain memandang keduanya penuh haru. Walaupun sering berdebat, tapi Kakak Beradik pastilah saling menyayangi.
"Sampai kapan kau akan menangis, Dika? Baju Kakak sudah basah ini." Andika langsung melepas pelukannya, memang benar kemeja putih yang dipakai Arya sudah basah gara-gara dirinya.
"Kakak ini, aku kan sedang terharu." Gerutu Andika sambil cemberut, sedangkan yang lainnya tertawa melihat tingkah kakak beradik itu.
Mereka larut dalam suasana yang membahagiakan sekaligus mengharukan, memberi selamat dan juga saling menasehati.
Sedangkan di sudut ruangan, nampak seorang pria memperhatikan sepasang pengantin baru itu.
"Akhirnya kalian bersatu kembali. Memang kalau sudah jodoh itu tidak akan ke mana. Mau sekeras dan senekat apapun diriku, tetap saja Rubby kembali pada Arya. Semoga kalian bahagia, hingga maut memisahkan." Ucap Dokter Malik tulus dalam hati.
_
_
_
Dokter Malik menghampiri sepasang pengantin baru itu.
"Arya, Rubby. Selamat atas pernikahan kalian." Ucapnya sambil bersalaman dengan Arya.
"Terima kasih, Dokter." Jawab Arya. Sedangkan Rubby hanya tersenyum saja.
"Maaf jika aku menikahi wanita yang Dokter cintai." Lanjut Arya.
"Kau ini bicara apa? Bukannya dari awal Rubby memang milikmu?" Tanya Dokter Malik. Arya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Dan aku ucapkan terima kasih karena Dokter sudah membantuku." Ucapnya.
"Itu sudah menjadi kewajibanku, karena bagaimanapun aku ini seorang dokter yang mempunyai kewajiban untuk membantu pasiennya." Sahut Dokter Malik. Ia kemudian beralih pada Rubby. Gadis itu terlihat begitu cantik hari ini, tapi sayangnya tidak bisa ia miliki.
"Sekali lagi, selamat. Semoga kalian bahagia." Ucapnya tulus diiringi senyum simpul di wajahnya.
"Terima kasih." Jawab Rubby singkat sambil mengeratkan rangkulannya di lengan Arya.
_
_
_
Malam harinya, Rubby kembali ikut pulang bersama Arya dan Mama Dewi.
Sepanjang perjalanan tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Mama Dewi yang berada di kursi penumpang senyum sendiri melihatnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah.
"Mama..." Terlihat Arya cemberut dan Rubby menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Sudah, sudah sana, cepat ke kamar." Mama Dewi mendorong tubuh keduanya.
"Mama ini..." Arya menggerutu, tapi ia tetap menarik tangan Rubby untuk menuju kamar mereka yang berada di lantai atas.
Ditutupnya pintu kamar begitu keduanya masuk. Rubby mengedarkan pandangannya. Rasanya ia begitu merindukan kamar tersebut setelah tujuh bulan meninggalkannya.
"Kau mau mandi lagi?" Tanya Arya sambil melepas kancing kemejanya.
"Tidak, Mas. Tadi kan sudah mandi di rumah Bunda." Jawab Rubby. Ia menunduk malu melihat Arya yang melepas kemejanya.
"Mas mau apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku ingin ganti baju. Tidak nyaman pakai kemeja." Arya mengambil baju gantinya di lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hah, sudah lama aku tidak melihat tubuh Mas Firaz. Sekarang aku jadi malu lagi melihatnya." Batin Rubby.
Klek. Pintu kamar mandi terbuka kembali. Arya sudah berganti baju, wajah dan rambutnya nampak sedikit basah. Sepertinya ia habis mencuci muka.
"Kenapa Mas Firaz terlihat seksi jika seperti itu ya?" Rubby terpaku, dengan mata yang tidak mengedip.
"Rubby?" Arya melambaikan tangannya di depan wajah Rubby.
"Eh, iya?" Rubby tersadar dari adegan terpesonanya.
"Kau melamun?" Tanya Arya. Rubby menggeleng cepat.
"Tidak, tidak. Aku kamar mandi dulu, Mas." Pamitnya sambil berjalan cepat ke arah kamar mandi. Arya senyum sendiri melihat tingkah istrinya.
"Ck, Rubby, kau ini... Kenapa harus terpesona melihat suami sendiri? Tapi... Mas Firaz memang tampan, wajar saja kalau aku terpesona." Rubby bicara sendiri di depan cermin. Ia kemudian melepas hijab dan kacamatanya dan mencuci wajahnya.
Tak lama gadis itu keluar, dilihatnya Arya yang sedang menyisir rambut tebalnya di depan meja rias. Rubby menghampirinya.
"Rubby, duduklah. Biar aku menyisir rambutmu." Kata Arya. Rubby menurut saja. Ia menaruh kacamatanya di atas meja.
Arya mengambil sisir, dan mulai menyisir rambut panjang istrinya. Rubby tak bisa menahan senyumnya dengan perlakuan lembut suaminya.
"Kenapa kau tersenyum terus?" Tanya Arya yang melihat pantulan Rubby di cermin.
"Karena aku bahagia. Kita sudah bersama lagi."
*****
Mau tamat sampai di sini atau lanjut terus? Di tunggu komennya...
Arya : Aku belum MP lho sampai bab segini, masa mau tamat gitu aja? 😡
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊