Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Suami Rubby


__ADS_3

"Aku kesal sekali, berani betul Bara mengatakan kalau ia menyukai istriku." Arya mendengus. Tak lama sepasang netranya tidak sengaja menangkap bayangan Rubby yang melintas setelah mengantarkan pesanan.


"Rubby!"


Rubby begitu terkejut karena tiba-tiba saja Arya menariknya tangannya dan membuatnya terduduk di samping Arya.


"Mas...?" Rubby menatap heran suaminya, kenapa juga Arya menariknya.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya.


"Belum Mas, sebentar lagi." Jawab Rubby sambil menunduk, rasanya tidak enak jika ada yang melihat mereka dalam posisi seperti ini. Walaupun mereka berdua suami istri, karena tidak ada yang tahu status mereka berdua di sana.


"Aku menunggumu di mobil." Ucap Arya yang kemudian beranjak bangun dan melangkah pergi dari sana.


_


_


_


Sudah beberapa menit Arya menunggu istrinya di dalam mobil, memperhatikan toko kue yang hampir tutup itu.


"Rubby wanita yang sempurna di mataku. Kau jangan coba untuk mendekatinya. Rubby milikku."


Perkataan Bara seakan-akan terus terngiang di benak Arya.


"Bara menyebalkan sekali." Arya menggerutu.


"Apa harus aku katakan pada Bara kalau Rubby adalah istriku agar dia tak berusaha untuk mendekati Rubby lagi?" Tanya Arya pada dirinya sendiri.


"Tapi kalau aku katakan padanya..." Ucapan Arya menggantung.


"Ck!" Arya berdecak sambil mengacak-ngacak rambut tebalnya. Ia malah bingung sendiri. Di satu sisi ia belum siap untuk mengakui pernikahannya dengan Rubby di depan temannya itu, tapi di sisi lain ia tak rela jika ada pria lain yang mendekati dan memuji-muji istrinya.


"Ternyata benar yang Mama bilang, pasti selain Bara ada juga pria lain yang menyukai Rubby." Arya membuang nafas berat.


"Kenapa aku tak rela jika ada pria lain yang menyukai Rubby?" Arya tertegun dengan pertanyaannya sendiri. Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya.


Mega?


"Ck." Lagi Arya berdecak, namun ia tetap mengangkat panggilan itu.


"Halo sayang..." Sapa Mega begitu panggilannya terhubung.

__ADS_1


"Ada apa Mega?" Tanya Arya.


"Sayang, aku punya kabar baik untukmu." Ucap Mega dengan semangat di balik ponsel. Arya mengerutkan keningnya.


"Kabar apa?" Tanyanya.


"Tak lama lagi aku akan pulang." Jawab Mega.


"Oh." Sahut Arya seolah tak peduli.


Mega menatap ponselnya, kenapa reaksi kekasihnya itu biasa saja? Apa pria itu tak senang mendengar kabar kepulangannya?


"Arya, kenapa responmu hanya seperti itu?" Tanyanya heran.


"Lalu aku harus bagaimana?" Arya balik bertanya.


"Apa kau tidak senang aku mau kembali?" Tanya Mega. Terdengar Arya membuang nafas berat.


"Mega, bukannya dulu kau juga pernah mengatakan akan pulang? Tapi kenyataannya kau malah tidak pernah kembali? Bahkan sudah bertahun-tahun lamanya?" Tanya Arya. Dulu Mega memang pernah bilang akan pulang, tapi setelah Arya menunggu lama nyatanya gadis itu tak kunjung kembali dan tetap menetap di Paris. Dan hanya kata maaf yang Mega ucapkan kala itu.


"Tapi Arya..."


"Sudah ya Mega, aku sibuk." Arya lebih dulu menyela dan langsung memutuskan panggilan itu.


"Lebih cepat Mega kembali, itu akan lebih baik. Aku akan langsung memutuskannya begitu dia kembali dan mengakui pernikahanku dengan Rubby." Batin Arya.


Pemuda itu mengalihkan pandangannya. Nampak para pegawai Rubby sudah keluar dari toko.


"Hei, itu bukannya Tuan Arya?" Ria menghentikan langkahnya begitu melihat Arya yang sedang berada di dalam mobil karena kaca jendela mobil Arya memang terbuka.


"Tuan Arya?" Tanya Mei.


"Iya, Mei. Tuan Arya, pria tampan temannya Tuan Bara." Jelas Ria.


"Akh, pria tampan itu?" Ela menyahut.


"Iya."


"Tapi kenapa dia masih di sini?" Tanya Mei pada kedua temannya itu.


"Ya mana ku tahu, Mei." Sahut Ria.


"Apa mungkin Tuan Arya menunggu salah satu dari kita?" Ela mulai menerka-nerka.

__ADS_1


"Kau jangan mimpi, Ela. Mana mungkin Tuan Arya menunggu salah satu dari kita." Tukas Mei.


"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Mei." Timpal Ela.


"Bagaimana kalau kita tanya langsung saja?" Usul Ria sambil menatap kedua temannya bergantian.


"Ya sudah, ayo." Ela langsung menarik tangan Ria dan juga Mei.


"Hei..." Mei hendak protes, tapi Ela dan Ria terus menariknya. Arya menautkan kedua alisnya melihat para pegawai istrinya menghampiri dirinya.


"Mau apa mereka ke sini?" Gumamnya.


"Permisi, Tuan Arya." Sapa Ria.


"Ada apa ya?" Tanya Arya sambil menatap satu persatu gadis muda yang berdiri di samping mobilnya.


"Maaf Tuan, boleh kami bertanya?" Tanya Ela.


"Apa yang ingin kalian tanyakan?" Arya balik bertanya tanpa turun dari mobilnya.


"Em... Tuan Arya sedang apa di sini? Apa Tuan Arya sedang menunggu seseorang?" Tanya Ria. Arya mengerutkan keningnya. Kenapa ketiga gadis muda itu ingin tahu saja, dan lagipula ini kan tempat umum. Bebas siapa saja yang mau berada di sana. Akh, iya. Mereka kan belum tahu kalau dirinya adalah suami dari Rubby.


"Kalian sedang apa?" Tanya Rubby yang baru saja datang. Sebenarnya sedari tadi ia memperhatikan dari jendela toko, terlihat para pegawainya itu mendekati suaminya. Karena takut mengganggu dan mengatakan sesuatu yang aneh-aneh Rubby memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Eh, Mba Rubby. Kami tidak sedang apa-apa kok, kami hanya tanya kenapa Tuan Arya masih di sini." Jawab Ela.


"Ya, mungkin saja Tuan Arya menunggu salah satu dari kami." Sambung Ria sambil tersenyum lebar. Arya dan Rubby seketika membelalakan matanya.


"Bisa-bisanya mereka berfikir seperti itu." Batin Arya. Sedangkan Rubby malah merasa tak enak pada Arya, pegawainya itu ada-ada saja. Tidak bisa melihat pria tampan sedikit saja.


"Kalian ini, jangan bertingkah memalukan seperti itu." Ucap Rubby pelan namun masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


"Maaf Mba, kami kan hanya menebak saja. Siapa tahu memang kenyataan begitu." Ujar Ria. Rubby menatap satu persatu pegawainya kemudian menghela nafas panjang. Gadis itu kemudian beralih pada Arya yang sedari tadi menjadi pendengar.


"Em, Mas... Maksudku Tuan Arya, maaf kalau para pegawaiku membuat Tuan merasa tidak nyaman." Ucapnya sungkan. Arya memandang Rubby sejenak, kemudian ia turun dari mobilnya. Para gadis itu memperhatikan apa yang akan di lakukan Arya. Pria itu berdiri di samping Rubby, kemudian menggenggam tangannya.


Seketika itu juga ketiga pegawai membulatkan matanya, tak terkecuali Rubby. Ia terkejut dengan Arya yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya.


"Nona-nona semua, kalian benar. Aku di sini memang menunggu seseorang. Dan aku sedang menunggu istriku pulang." Ucap Arya sambil tersenyum menatap Rubby.


Para gadis muda itu ternganga tak percaya.


"Jadi Tuan Arya...." Ria seakan tak mampu untuk bicara.

__ADS_1


"Aku Arya Firaz. Suami dari Rubby." Arya mengenalkan dirinya. Ria, Ela, dan Mei saling memandang. Perlahan terlihat rona menyembur di wajah ketiganya, ternyata lelaki yang mereka goda adalah suami dari atasan mereka sendiri.


__ADS_2