Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Menerima Kenyataan


__ADS_3

"Kenapa kedatangan Mega harus membuatku marah? Aku bahkan tidak punya hak untuk marah." Sahut Rubby yang kemudian bangun dari duduknya.


"Rubby..." Arya menarik lengan Rubby, menghentikan langkahnya yang hendak pergi.


"Aku tidak tahu kalau Mega akan datang hari ini." Arya mencoba menjelaskan.


"Tapi kalian tetap bertemu kan? Lalu apa yang kalian berdua lakukan? Saling melepas rindu? Berpelukan dan berciuman?" Cecar Rubby, Arya tersentak mendengarnya. Ternyata istrinya sama dengan Andika, mengiranya melakukan hal tidak-tidak dengan Mega.


Tapi bukannya wajar jika Rubby berfikir seperti itu? Mereka sudah lama tidak bertemu, pasti akan saling melepas rindu. Pelukan dan ciuman adalah hal yang sangat lumrah untuk sepasang kekasih. Dan lihat, reaksi suaminya? Pria itu diam saja, membuat Rubby semakin yakin dengan dugaannya.


"Apa salah jika aku sedang berusaha untuk menerima kenyataan? Kekasih Mas sudah datang, bukan tidak mungkin Mas akan kembali padanya." Lanjut Rubby dengan suara lirih. Rubby menepis genggaman tangan Arya di lengannya dan hendak melangkah pergi. Namun Arya menariknya kembali, kali ini Arya membawa Rubby dalam dekapannya. Sepasang netra Arya menatap dalam mata sayu itu.


"Dengar Rubby, hubunganku dengan Mega sudah berakhir, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Dan asal kau tahu, aku tidak pernah berbuat macam-macam dengan Mega walaupun kami sudah lama berpacaran." Ucap Arya penuh penekanan, dan antara percaya dan tidak Rubby mendengarnya.


"Mas mungkin menganggap seperti itu, tapi tidak dengan Mega. Dia masih mencintaimu, dan menganggap Mas adalah kekasihnya." Timpal Rubby dengan suara bergetar.


"Rubby..."


"Aku hanya sedang berusaha menerima kenyataan, aku ingin membentengi diriku sendiri. Jika suatu hari nanti Mas lebih memilih bersama Mega, setidaknya rasanya tidak terlalu menyakitkan untukku." Sela Rubby, ia mendorong pelan tubuh suaminya.


"Lepaskan aku, Mas." Lirihnya. Arya melepaskan dekapannya.


"Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?" Tanya Arya yang kembali menghentikan langkah Rubby. Keduanya saling bertatapan kembali.


"Lalu apa yang harus aku fikirkan jika kekasih suamiku datang kembali? Sedangkan suamiku sendiri tidak pernah jujur padaku tentang dirinya yang ternyata masih menjalin hubungannya dengan kekasihnya. Apa yang harus ku fikirkan, Mas?" Cecar Rubby, luruh sudah air mata yang sejak tadi di tahannya.

__ADS_1


"Selama ini aku diam, aku tahu Mas masih berhubungan dengan Mega. Kalian masih saling bertukar pesan. Aku menunggu sampai Mas mau jujur padaku tentang hubungan kalian. Tapi Mas tidak pernah mengatakan apapun. Dan seharusnya aku sadar diri, Mas menikahiku karena terpaksa. Aku sama sekali tidak ada artinya di matamu. Aku hanyalah seorang istri yang tidak pernah di inginkan oleh suamiku..."


Arya menatap nanar wajah istrinya yang sudah basah karena air mata. Ini pertama kalinya ia melihat Rubby menangis. Hatinya ikut merasa sakit melihat Rubby menangis seperti itu.


Tanpa Arya tahu, Rubby selalu menangis dalam kesendiriannya.


"Rubby..." Tangannya terulur hendak menghapus air mata Rubby yang masih mengalir, namun Rubby menepisnya.


"Aku mengantuk, Mas. Aku ingin tidur." Rubby menghapus sendiri air matanya, dan beranjak ke tempat tidur.


Sebuah guling Rubby letakkan di tengah tempat tidur, sebelum akhirnya ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan mulai memejamkan matanya.


_


_


_


Rubby mengangkat wajahnya, menatap sendu pada Arya yang sudah terlelap.


"Apa sebenarnya maumu, Mas? Kenapa kau memelukku lagi? Apa Mas menganggapku sebagai penghangat tidur saja? Aku tidak pernah mengerti dengan sikapmu. Mas mengatakan kalau hubungan Mas dengan Mega sudah berakhir, tapi kalian masih saling bertukar pesan. Mas melarangku dekat dengan pria lain, tapi Mas mengigau nama wanita lain. Mas tidak mengakuiku sebagai istri di hadapan teman Mas, tapi Mas mengakuiku istri di depan para pegawaiku. Mas hanya mengatakan tidak mencintai Mega lagi, tanpa mengatakan bagaimana perasaan Mas padaku, tapi Mas menciumku. Apa sebenarnya maumu? Apa artinya diriku untukmu?"


Kata-kata yang sebenarnya ingin Rubby ungkapkan, tapi sayangnya Rubby hanya bisa mengatakannya dalam hati.


Ingin sekali rasanya Rubby berteriak sekencang-kencangnya, tapi dirinya hanya bisa kembali menahan tangisnya. Dan dalam beberapa detik saja, dirinya sudah terisak.

__ADS_1


Arya terjaga, menyadari tubuh yang dipeluknya bergetar seolah menangis tertahan. Dan benar saja, terdengar isak tangis yang begitu lirih dari Rubby yang berada di dalam pelukannya.


Kenapa Rubby menangis lagi? Apa aku sudah terlalu menyakitinya? Ya, aku sudah keterlaluan. Selama ini aku tidak pernah memberikan perhatian lebih padanya, dan aku hanya sibuk dengan duniaku sendiri. Wajar jika Rubby menanyakan apa arti dirinya bagiku. Aku masih saja mempedulikan pesan dari Mega tanpa pernah mempedulikan bagaimana perasaan istriku. Aku baru menyadari betapa berartinya istriku saat ada pria lain yang berusaha untuk mendekatinya. Aku egois, aku tidak pernah memikirkan perasaan istriku sendiri.


"Maafkan aku, Rubby. Aku tak sadar sudah menyakitimu." Bisik Arya, ia mengeratkan pelukannya. Isak tangis Rubby semakin terdengar jelas.


"Maafkan aku, maafkan aku." Arya menghujani puncak kepala Rubby dengan kecupannya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Rubby, hanya ada suara isakan saja di sana.


_


_


_


Subuh menjelang. Rubby merapikan kembali mukenanya seusai melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama suaminya. Setelah bangun tidur tadi keduanya tidak terlibat percakapan apapun.


Tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya, membuat Rubby membeku. Arya memeluknya dari belakang.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Arya tepat di telinganya. Rubby bisa merasakan kehangatan hembusan nafas suaminya.


"Aku tidak pernah marah padamu, Mas." Lirihnya.


"Rubby, lihat aku." Arya memutar posisi Rubby hingga berhadapan dengannya. Di rengkuhnya wajah gadis itu, ditatapnya matanya yang nampak sembab.


"Dengarkan aku. Di awal pernikahan, aku memang belum bisa menerima kehadiranmu. Karena aku masih sakit hati akibat pengkhiatan Mega. Aku ingin menyembuhkan luka hatiku dulu, tapi tiba-tiba saja Mama memaksaku untuk menikah denganmu. Aku menjaga jarak denganmu karena aku tidak ingin menjadikanmu sebagai pelarian dan pemuas nafsuku saja. Aku tidak ingin merusakmu. Aku ingin menyentuhmu saat sudah ada cinta di antara kita. Selama ini Mega masih menghubungiku karena aku belum mengatakan apapun padanya. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Mega secara baik-baik, mengatakan secara langsung padanya." Ucap Arya menjelaskan. Tapi Rubby diam saja, hanya ada keraguan di matanya.

__ADS_1


"Siang nanti kita temui Mega dan mengatakan yang sebenarnya." Lanjut Arya.


"Aku tidak yakin Mega akan melepaskan kekasihnya begitu saja, apalagi Mega masih mencintai Mas Firaz..."


__ADS_2