
Di kamar, Rubby duduk di sisi tempat tidurnya, ia memeluk erat buku tebalnya.
"Rubby..." Bunda Maya masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Kenapa kau menolak niat baik Dokter Malik?" Tanya Bunda Maya yang sudah duduk di sampingnya.
"Karena hanya Mas Firaz yang ada di hati Rubby, dan Rubby tidak ingin nama itu terganti dengan nama yang lain." Jawab Rubby, ia kemudian membuka bukunya. Meraba gambar sketsa wajah sang mantan suami. Bunda Maya menghela nafas panjang, mendengar alasan Rubby yang sesuai dengan fikirannya.
"Arya pasti sedih jika tahu kau seperti ini." Ucapnya.
"Bukannya itu bagus? Mungkin Mas Firaz akan mengubah keputusannya dan meminta rujuk pada Rubby." Sahut Rubby yang masih tidak mengalihkan pandangannya pada gambar sketsanya.
"Apa yang sebenarnya membuatmu begitu mencintai Arya?" Tanya Bunda Maya penasaran. Gadis itu menggeleng pelan.
"Rubby juga tidak tahu, Bunda. Rubby hanya tahu, Rubby sudah jatuh cinta pada Mas Firaz saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu Rubby belum mengenalnya, tapi bayang-bayang wajah Mas Firaz selalu ada di fikiran Rubby." Jawab Rubby sendu. Bunda Maya memijat keningnya. Sangat sulit memang untuk melupakan cinta pertama.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita makan malam dulu." Ajak Bunda Maya.
"Apa Dokter Malik sudah pulang, Bunda?" Tanya Rubby, ia enggan turun jika masih ada pria itu di bawah.
"Sudah, Rubby. Tidak lama Dokter Malik pamit setelah kau menolaknya." Jawab Bunda Maya. Rubby menghela nafas lega.
"Iya sudah. Ayo kita makan malam, Bunda."
__ADS_1
_
_
_
Keesokan harinya.
"Arya, ayo temani Mama jalan pagi." Pinta Mama Dewi begitu masuk ke kamar putranya.
"Jalan pagi ke mana, Ma?" Tanya Arya.
"Ke taman dekat sini saja, tidak perlu jauh-jauh." Jawab Mama Dewi.
Arya hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Mamanya. Memang setelah kejadian itu, Arya tidak pernah lagi keluar rumah.
"Eh." Mama Dewi menutup mulutnya, baru menyadari dirinya salah bicara.
"Maaf Arya, maksud Mama..."
"Tidak apa, Ma." Sela Arya.
"Ayo Arya temani."
__ADS_1
Ibu dan anak itu berjalan santai menikmati udara pagi hari yang terasa begitu segar. Mama Dewi senantiasa merangkul lengan Arya, takut putranya itu salah jalan. Padahal Arya juga sudah memakai tongkat untuk membantunya menunjukkan jalan.
Ada banyak orang yang lalu lalang lari pagi di jalan taman itu. Dan tak jarang menatap tak biasa pada Arya.
"Eh, lihat. Kasihan ya, ganteng tapi buta. Pasti perempuan tidak ada yang mau." Celetuk seorang gadis pada temannya yang berpapasan dengan Arya dan Mama Dewi.
"Ya, ialah mana ada yang mau sama lelaki buta. Mau setampan apapun, kalau buta ya percuma." Sahut temannya. Gadis-gadis itu tertawa sambil terus melanjutkan larinya.
Perkataan mereka membuat Mama Dewi sedikit emosi, tanpa sadar ia mengeratkan rangkulannya di lengan putranya.
"Ma..." Panggil Arya yang merasakan sakit pada lengannya.
"Mama, lengan Arya sakit." Kata Arya, ia menghentikan langkahnya.
"Maaf, Arya. Mama tidak sengaja." Mama Dewi baru sadar telah meremat lengan putra dengan cukup keras, ia melapas rangkulannya.
"Mama kenapa? Mama kesal mendengar ucapan orang tadi?" Tanya Arya yang seakan tahu perasaan sang Mama.
"Iya tentu saja Mama marah, Arya. Mereka sudah menghina putra Mama." Jawab Mama Dewi dengan suara tercekat.
*****
JANGAN LUPA LIKE
__ADS_1